Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Airin Arkaria


__ADS_3

saat ini Erwin dan Lisa sudah masuk ke rumah yang mereka datangi, dan kini mereka sudah berada di ruang tamu.


gadis pemilik rumah itu pun mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di sofa empuk yang tertata rapi di ruangan itu.


gadis pemilik rumah itu adalah seorang gadis bertubuh mungil dengan wajah yang sangat manis. tingkah gadis itu jaga sedari tadi terlihat seperti seorang anak kecil yang mengekori ibu-nya. hal itu di karenakan sejak tadi gadis itu selalu bersembunyi di belakang Lisa dan terus menunjuk-kan ekspresi wajah yang tampak takut pada Erwin. namun ekspresi takut-nya itu justru membuat diri-nya makin tampak menggemaskan.


"perkenalkan ini Airin Arkaria, dia adalah teman baik-ku sejak SMP." ucap Lisa yang duduk di samping Airin sambil meletak-kan tangan-nya di atas kepala Airin. "dia ini orang-nya sangat tertutup dan sedikit anti sosial, jadi wajar-kan saja tingkah-nya yang seperti ini." timpal Lisa.


Airin yang mendengarkan perkenalan yang di lakukan Lisa itu hanya bisa menggembungkan kedua pipi-nya seolah tak suka dengan perkenalan itu. namun hal itu membuat wajah-nya terlihat makin menggemaskan.


"hmm" gumam Erwin sambil mengangguk paham. "kalau begitu perkenalkan, namaku Erwin Aksa." ucap Erwin sambil menunjuk diri-nya sendiri menggunakan ibu jari-nya.


Airin yang melihat Erwin yang tampak bersemangat saat memperkenalkan diri langsung terlihat minder dan langsung memegangi tangan Lisa.


"kau tak perlu takut pada pria ini." ucap Lisa sambil menggenggam tangan Airin menggunakan kedua tangan-nya. kemudian ia menoleh ke arah Erwin dengan ekspresi yang usil. "meskipun dia orang yang sedikit mesum, tapi dia juga orang baik kok."


"ap-apa-apaan itu, aku tidak seperti itu, jangan percaya pada-nya." jelas Erwin dengan wajah yang sedikit panik.


"oh, jadi kau ini orang yang jahat begitu?" balas Lisa sambil memiringkan kepala-nya.


"bukan itu maksud-ku." ucap Erwin yang kemudian melemaskan tubuh-nya. "hah..... sudah-lah, terserah mau anggap aku seperti apa." ucap Erwin dengan ekspresi pasrah.


melihat Erwin yang tampak pasrah seperti itu, Lisa pun langsung tertawa terbahak-bahak.


"hahaha, jangan terlalu di pikirkan, aku hanya bercanda." jelas Lisa.


setelah itu, Lisa pun memberitahu-kan Airin apa tujuan mereka datang ke rumah Airin. saat Lisa memberitahu-kan tujuan mereka, tiba-tiba mata Airin terbelalak dan wajah-nya langsung memerah seolah mendengar sesuatu yang membuat-nya malu-malu.


"ap-apa kau yakin?" tanya Airin sambil mengalihkan pandangan-nya yang tampak malu-malu itu dari Lisa.


"iya aku yakin, kau bisa melakukan-nya kan?" tanya Lisa dengan penuh semangat.

__ADS_1


"te-tentu saja bisa, tapi..... a-aku belum pernah melakukan-nya pada seorang pria." jelas Airin yang masih menyembunyikan ekspresi dari hadapan Lisa.


"tenang saja, kau pasti bisa!" ucap Lisa sambil mengangkat satu jempol-nya ke arah Airin.


"hei, apa yang kau bisik-kan sejak tadi sampai-sampai sekarang pembicaraan kalian jadi terdengar aneh."


note: Lisa hanya berbisik pada Airin saat menjelaskan tujuan kedatangan-nya dengan Erwin ke rumah Airin.


"baiklah, akan ku coba!" ucap Airin dengan tegas lalu meraih tangan Erwin.


"ayo ikut dengan-ku" timpal Airin sambil menarik Erwin.


Erwin terkejut saat diri-nya langsung di ajak entah kemana oleh gadis mungil itu. namun dengan refleks Erwin langsung mengikuti arah gerak Airin.


"hei, kenapa kau tidak ikut?" tanya Erwin sambil menoleh pada Lisa.


"aku akan menyusul kalian nanti, aku mau ke dapur dulu." ucap Lisa sambil tersenyum.


******


kemudian Airin menyuruh Erwin untuk duduk di kursi itu.


setelah Erwin duduk di kursi itu, Airin langsung mengikat rambut panjang-nya itu ke belakang.


"bi-bisakah kau melepaskan pakaian-mu sekarang?" ucap Airin sambil sedikit menunduk-kan kepalan-nya dengan ekspresi yang malu-malu.


"eh?" Erwin tampak terkejut mendengar permintaan Airin. ia langsung menatap Airin dengan mata yang terbelalak sambil memiringkan kepala-nya seolah meminta penjelasan.


kemudian Airin sedikit mengangkat wajah-nya dan mendapati Erwin yang sedang menatap-nya.


"ja-jangan berpikir yang aneh-aneh!" ucap Airin sambil menoleh ke samping dengan wajah yang makin memerah. "kau ingin menyamarkan bekas luka-mu kan? jadi biar ku bantu." timpal Airin memberi penjelasan.

__ADS_1


"ehm, baiklah." ucap Erwin segera setelah Airin memberi penjelasan.


setelah itu Erwin pun langsung membuka baju-nya dan tampak cukup banyak bekas luka di tubuh Erwin, baik itu di bagian belakang, maupun di depan-nya.


Airin yang melihat bekas luka itu jadi sedikit terkejut. ia bahkan tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut-nya itu.


"tidak ku sangka luka-mu separah ini." ucap Airin sambil menutup mulut-nya dengan kedua tangan-nya.


"ya, tapi ini sudah sembuh, dan hanya bekas-nya saja." jelas Erwin sambil menghela nafas panjang. "jadi bagaimana kau akan menyamarkan bekas luka ini?" tanya Erwin sambil menyilangkan kedua tangan-nya di depan dada.


"ku rasa ini akan sedikit lebih lama, apa lagi bekas luka-nya cukup banyak." ucap Airin sambil berjalan mendekati Erwin. kemudian Airin langsung memegang tangan Erwin yang bersilangan di depan dada, dan kemudian ia menyingkirkan-nya agar tak menghalangi bekas luka yang akan ia samarkan.


"baiklah, aku akan berusaha membuat tato yang bagus untuk menyamarkan-nya." ucap Airin sambil meraih peralatan mengukir tato yang ia simpan di atas meja-nya yang ada di samping Erwin.


"ta-tato?" ucap Erwin dengan mata yang terbelalak.


"iya, apa Lisa tak memberitahukan-mu?" tanya Airin dengan polos-nya.


"dia tak memberitahu-ku kalau aku akan di tato." jawab Erwin dengan cepat.


"ehh?" Airin tampak terkejut. "jadi sekarang bagaimana? apa kau masih mau lanjut atau tidak?" tanya Airin lagi.


kemudian Erwin pun langsung berpikir. setelah beberapa saat ia kemudian memutuskan untuk menato tubuh-nya mulai dari depan sampai belakang.


"ku rasa tidak ada salah-nya jika aku yang sekarang mempunyai banyak tato, itu justru akan membuatku terlihat makin sangar." batin Erwin yang kemudian menyuruh Airin untuk membuat tato yang menurut-nya bagus.


"baiklah, aku akan mulai sekarang. karena ini untuk menyamarkan bekas luka-mu, ku rasa ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama." ujar Airin dengan wajah yang tampak memerah sambil mengukir tato mulai dari dada Erwin.


"apa baru kali ini kau membuat tato di tubuh seorang laki-laki?" tanya Erwin ketika melihat ekspresi wajah Airin yang tampak malu-malu.


"uhm." gumam Airin sambil sedikit mengangguk-kan kepala-nya. "selama ini aku hanya menerima pelanggan wanita, dan mengenai kemahiran-ku membuat tato hanya di ketahui oleh sedikit orang saja." jelas Airin.

__ADS_1


"sejujur-nya aku enggan untuk membuatkan tato di tubuh-mu, tapi saat Lisa menceritakan tentang tubuh-mu aku pun merasa ingin membantu-mu. lagi pula itu juga permintaan langsung dari teman baik-ku." timpal Airin menjelaskan.


Erwin yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk-kan kepala-nya.


__ADS_2