
Saat ini tiga pegawai Ritman sedang membereskan semua senjata yang ada di ruang bawah tanah itu.
sementara itu, Erwin hanya melihat mereka tanpa melakukan apapun.
"hei, bisa kau jelaskan bagaimana kau melakukan hal yang terkesan aneh tadi?" tanya pegawai satu yang saat ini masih mengangkut senjata ke dalam mobil.
"aneh?" balas Erwin sambil pasang ekspresi bingung.
"iya, soal-nya tadi orang yang memegang katana itu tampak tidak melawan sama-sekali." ucap pegawai satu.
"oh soal itu ya....." ucap Erwin yang kemudian menyilangkan kedua tangan-nya di depan dada. lanjut-nya, "itu adalah ilmu hipnotis yang pernah ku pelajari dari kakek-ku." jelas Erwin.
"oh, pantas saja pria itu sama-sekali tak melawan." ucap pegawai satu sambil mengangguk paham.
"ilmu hipnotis yang ku miliki ini adalah ilmu hipnotis yang berbeda dengan hipnotis yang biasa-nya..... ilmu ini hanya akan membuat orang terpaku dan tak bisa bergerak saat hipnotis-nya ku aktifkan.... selain itu, aku juga bisa menggunakan hipnotis ini pada jarak yang cukup luas, selama lawan-ku melihat ke arah-ku." jelas Erwin sambil melepaskan tangan-nya di depan dada dan langsung memasukan-nya ke dalam saku celana-nya. lanjut-nya, "namun untuk mengaktifkan-nya ada syarat yang harus ku penuhi, syarat-nya adalah musuh-ku harus ku buat terkejut lebih dulu." jelas-nya panjang lebar.
"ohoh.... jadi itu ya yang membuat-mu berani menghadapi musuh secara langsung." ucap pegawai dua menyela pembicaraan Erwin dan pegawai satu.
Erwin yang mendengar hal itu hanya diam dan menatap pegawai dua.
saat ini Erwin hanya tersenyum karena di dalam diri-nya saat ini, ilmu hipnotis itu hanyalah salah satu ilmu yang pernah ia pelajari dari kakek-nya yang tinggal di salah satu desa di luar pulau Kalimantan, yaitu pulau Sulawesi, tepat-nya Sulawesi tengah.
Pegawai dua yang melihat reaksi Erwin yang tampak tidak peduli dengan ucapan-nya barusan langsung membuang pandangan-nya dengan sedikit kesal dan langsung melanjutkan pekerjaan-nya.
sementara itu, pegawai satu yang masih terlihat penasaran langsung bertanya lagi pada Erwin.
"bagaimana kau bisa tahu tempat ini di serang? dan bagaimana kau bisa masuk kemari sedangkan di luar ada banyak anggota Elang Hitam?" tanya pegawai satu dengan rasa penasaran.
"hmm...." gumam Erwin sambil mengelus dagu-nya seperti sedang berpikir. lanjut-nya, "kalau mau di ceritakan lagi maka...."
Sekitar satu jam sebelum-nya.
__ADS_1
Saat ini Erwin sedang memarkir motor-nya di garasi rumah-nya karena diri-nya baru saja tiba setelah mengantar Santi pulang ke rumah-nya.
Belum sempat turun dari motor, tiba-tiba handphone Erwin berbunyi dan dengan segera Erwin langsung mengangkat telepon itu dan melihat bahwa orang yang menghubungi diri-nya adalah Lepi.
Setelah itu Erwin pun langsung mengangkat telepon itu dan mulai berbicara dengan Lepi.
Saat mereka berbicara, ia mendengar bahwa Lepi sedang ngos-ngosan entah kenapa.
namun akhir-nya Lepi langsung menjelaskan situasi-nya saat ini.
Lepi menjelaskan semua tentang penyerangan yang terjadi secara bersamaan di setiap cabang.
Hal itu tentu-nya membuat Erwin terkejut.
"yang benar saja!!? mereka bergerak terlalu cepat!" ucap Erwin dengan lantang.
[ya! kau benar! karena itu aku sangat butuh bantuan-mu saat ini!] balas Lepi dengan suara yang terburu-buru.
Setelah itu Erwin pun langsung menarik kembali motor-nya ke luar garasi. lalu ia pun langsung mengendarai motor-nya itu keluar dari halaman rumah dan langsung melesat cepat di jalanan tanpa menutup pagar rumah.
Tak lama kemudian Erwin kembali ke depan rumah-nya dan langsung menutup dan mengunci pagar rumah-nya.
"tchi!.... bisa-bisanya aku melupakan hal sepeleh!" ucap Erwin dengan wajah yang tampak mengkerut.
setelah itu Erwin kembali melaju ke tempat yang cukup jauh dari rumah-nya.
"berdasarkan informasi dari Lepi, cabang yang sudah hampir kalah saat ini adalah cabang 6, 7, 8, 9, 10 ,11, dan 12..... sekarang tidak ada pilihan lain, lagi pula ke tujuan cabang yang sudah nyaris kalah itu sudah tak ada harapan lagi." ucap Erwin dalam hati dan kemudian menepi ke sebuah lorong dan langsung memarkir motor-nya.
Setelah itu ia pun langsung meraih telepon-nya dan berniat untuk menghubungi polisi tanpa sepengetahuan dari Lepi.
"seperti-nya tidak masalah jika ketujuh cabang itu ku jadikan korban untuk menyelamatkan yang lain-nya." ucap Erwin yang kemudian langsung menghubungi kantor polisi.
__ADS_1
Tak lama kemudian handphone Erwin sudah terhubung dengan kantor polisi.
"halo! tolong pak! saat ini terjadi perkelahian yang melibatkan pelaku pembantaian yang sebelum-nya muncul di berita..... saya akan memberitahukan semua tempat yang sedang mengalami perkelahian...." ucap Erwin tanpa memberi jeda pada polisi untuk bertanya tentang siapa diri-nya.
Lalu Erwin pun langsung menjelaskan semua dan memberitahukan lokasi dari tujuh cabang yang saat ini sedang terancam.
Polisi yang menerima panggilan itu hanya bisa mendengarkan meskipun diri-nya masih ragu-ragu kalau informasi dari Erwin hanyalah informasi palsu yang bahkan mungkin bisa menjadi jebakan bagi mereka.
Meskipun begitu, saat Erwin sudah selesai menjelaskan, para polisi langsung berkoordinasi dengan TNI untuk melakukan penyerangan di tujuh tempat itu sambil tetap waspada kerena informasi yang mereka terima masih samar-samar.
Sementara itu, saat ini Erwin langsung mematikan telepon-nya dan ia langsung melepaskan kartu perdana-nya dan langsung menghancurkan kartu itu.
"untung saja aku punya dua kartu! jadi bisa di gunakan untuk saat mendesak seperti ini."
Setelah hal itu selesai, Erwin pun langsung memasuk-kan handphone-nya ke dalam tas pinggang.
sesudah itu ia pun langsung pergi dari tempat itu dan bergerak ke daerah cabang ke-5 sambil memikirkan cara untuk masuk ke sana karena tempat itu sudah pasti di penuhi anggota Elang Hitam.
Setelah beberapa saat, kini Erwin sudah tiba di cabang ke-5 dan dia langsung memulai aksi-nya yang sudah ia rencanakan meskipun masih harus sedikit mengubah-nya karena di depan cabang ke-5 ada Tono dan dua anggota yang menjaga-nya.
Saat ini Erwin sudah berhasil membuat penyesuaian mengenai rencana-nya, dan ia sekarang sudah berdiri di atap yang menjadi tempat spanduk proyeksi, lalu ia juga mengalihkan sebuah lampu sorot yang menyinari spanduk yang di bawah-nya ke arah atas agar diri-nya bisa terlihat jelas oleh Tono.
Tono yang melihat kedatangan Erwin dengan sangat tiba-tiba itu tentu-nya langsung terkejut.
tapi keterkejutan-nya itu tak berlangsung lama karena Erwin langsung melompat dan berlari ke arah-nya.
Saat ini, Tono yang sedang berada di luar mobil-nya langsung memerintah dua anggota yang menjaga-nya untuk segera menyerang Erwin.
Erwin yang melihat dua anggota Tono maju menyerang-nya hanya diam dan tersenyum ke arah mereka.
lalu dengan cepat Erwin melompat dan melayangkan tendangan yang sangat kuat hingga satu dari mereka terlempar jauh.
__ADS_1
bahkan lebih buruk-nya lagi, pria itu terlempar dan menghantam sebuah tiang rambu lalu lintas hingga tiang itu bengkok.