
Setelah cukup tenang, kini Rimo tampak mulai percaya diri.
ia kemudian melangkah perlahan ke depan untuk mendekati Petra.
dengan penuh ketenangan ia berjalan sambil berseringai menatap Petra yang sedari tadi terus memasang ekspresi datar.
"kali ini aku tak boleh kalah dari siapapun!" ucap Rimo dalam hati dengan tegas.
Saat Rimo sudah berdiri cukup dekat dengan Petra, Rimo langsung melakukan posisi kuda-kuda bertarung.
sementara itu, Petra tetap dalam posisi-nya yang sebelum-nya.
Lalu Petra menatap Rimo dengan tatapan yang tampak serius.
tak lama setelah itu, Petra langsung memasuk-kan kedua tangan-nya ke dalam saku celana-nya.
"kau meremehkan-ku hah?" ucap Rimo yang tampak sedikit kesal melihat tingkah Petra.
"kalau mau bertarung jangan hanya banyak bicara." ucap Petra dengan suara dingin.
"kau benar-benar orang yang angkuh!" ucap Rimo yang kemudian langsung melayangkan tinju ke wajah Petra.
******
Pagi telah tiba, dari pegunungan timur tampak matahari perlahan menampak-kan diri dan menyinari seluruh dataran yang ada di daerah Sulawesi tengah.
Di sebuah rumah di salah satu desa yang ada di pulau Sulawesi, tepat-nya di Sulawesi tengah.
matahari saat itu mulai menembus sebuah jendela dan menembus sebuah gorden yang menutupi jendela itu dari dalam.
Di sebuah kamar, tampak Erwin masih terbaring.
sesaat kemudian, tampak ia mulai menggerak-kan jari tangan-nya dan mulai membuka mata-nya secara perlahan.
Saat Erwin sudah membuka mata-nya, ia pun langsung mengedarkan pandangan-nya dan mata-nya langsung mendapati jendela yang di tembus oleh cahaya matahari itu.
"rupa-nya sudah pagi." ucap Erwin sambil bangun dan duduk di atas ranjang-nya. lanjut-nya, "seperti-nya Jasie sudah bangun sejak tadi.... mungkin dia sedang menyiapkan sarapan sekarang." ucap Erwin karena tidak melihat Jasie di kamar itu.
Setelah itu Erwin langsung turun dari ranjang-nya dan berjalan keluar dari kamar-nya sambil menguap dengan ekspresi malas.
******
Setelah selesai sarapan, Erwin mengajak Airin untuk jalan-jalan di salah satu tempat wisata air terjun yang ada di salah satu desa di daerah itu.
Setelah mereka berdua bersiap-siap, kini mereka berdua langsung berangkat ke tempat wisata itu.
"pasti bosan rasa-nya kalau selalu mengurung diri di dalam rumah.... ya kan?" ucap Erwin sambil tersenyum manis pada Airin.
"aku sudah terbiasa mengurung diri, jadi ku rasa aku tidak perlu jalan-jalan seperti in...."
__ADS_1
"ssstt...." ucap Erwin sambil meletak-kan jari telunjuk-nya di bibir Airin dan membuat ucapan Airin terhenti. lanjut-nya, "kau hanya perlu mengikuti-ku hari ini.... aku ingin menunjuk-kan sesuatu yang bagus untuk-mu." ucap-nya sambil tersenyum dan mengelus kepala Airin.
******
Di sebuah jalanan di desa ***** tampak sebuah mobil penumpang berhenti di samping jalan.
dari mobil itu terlihat Airin dan Erwin yang sedang berjalan keluar dari mobil.
"baiklah, mulai dari sini kita akan berjalan kaki ke tempat wisata air terjun-nya." ucap Erwin sambil tersenyum pada Airin.
"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk.
Setelah itu mereka berdua pun beranjak dari tempat itu dan langsung berjalan menuju tempat wisata air terjun.
setelah melewati pemukiman warga desa, kini mereka berjalan di daerah yang rindang dan penuh dengan pepohonan tinggi.
di tempat itu mereka melihat sudah ada motor dan mobil yang berjejeran di parkiran.
di parkiran itu tampak cukup ramai dengan berbagai macam orang yang juga datang untuk berkunjung di tempat itu.
"tempat ini benar-benar ramai saat hari Minggu seperti ini." ucap Erwin saat melihat banyak-nya pengunjung.
"tadi-nya ku pikir di sini akan sepi, tapi ternyata ada banyak orang di sini." ucap Airin yang langsung menggandeng tangan Erwin.
"kau ini benar-benar tidak terbiasa keluar rumah ya...." ucap Erwin sambil tersenyum saat melihat tingkah Airin.
"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk.
******
Saat ini Erwin dan Airin sudah berada di dalam lokasi wisata itu.
mereka berdua tampak menikmati pemandangan alam di tempat itu.
banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sepanjang jalan.
Sesekali Erwin terlihat menghirup udara dalam-dalam dan menikmati kesejuk-kan tempat itu.
lalu setelah itu mereka berjalan di sebuah jembatan kayu yang di buat untuk menyebrangi sungai itu.
Jembatan itu tampak berwarna-warni penuh dengan beberapa lampu jalan yang menghiasi bentuk jembatan itu.
di jembatan itu juga terdapat beberapa pasangan yang sedang berfoto-foto dengan berbagai pose-pose yang romantis.
Melihat hal itu membuat wajah Airin langsung memerah, dan dengan cepat ia mengedarkan pandangan-nya ke sekitar tempat itu.
saat mengedarkan pandangan-nya, wajah-nya justru makin memerah karena di tempat itu memang di penuhi oleh para anak-anak muda yang masing-masing memiliki pasangan.
"kenapa kau celingak-celinguk seperti itu?" tanya Erwin saat menyadari tingkah Airin.
__ADS_1
"ti-tidak ada apa-apa!" ucap Airin yang terlihat buru-buru menjawab.
"ehm.... kau terlihat tidak tenang... apa benar tidak ada apa-apa?" tanya Erwin lagi.
Mendengar pertanyaan Erwin itu Airin hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
lalu Airin langsung berjalan ke belakang Erwin dan kemudian ia mulai mendorong Erwin secara perlahan dari belakang agar Erwin segera melanjutkan perjalanan mereka.
"ayo jalan.... aku tak sabar mau lihat air terjun-nya." ucap Airin
"oh.... baiklah kalau begitu." ucap Erwin yang langsung berjalan.
Sementara itu, tidak begitu jauh dari belakang Airin dan Erwin, tampak tiga pria yang mencurigakan terus berjalan mengikuti Erwin dan Airin.
dari gerak-gerik ketiga pria itu, tampak-nya mereka seperti sengaja mengikuti dan mengintai Erwin.
"apa benar bocah itu orang-nya?" tanya pria satu dengan ekspresi serius.
"ya! aku sudah di beri tahukan detail tentang pertarungan bocah itu tadi malam." jawab pria dua.
"kalau memang begitu, kita tunggu mereka pergi ke tempat yang sunyi, setelah itu kita hajar bocah itu!" ucap pria tiga.
"kau bodoh ya? mana mungkin mereka akan pergi ke tempat yang sunyi, mereka ke mari karena ingin menikmati pemandangan air terjun, dan jelas di tempat itu pasti ramai!" tegas pria dua pada pria tiga.
"kau yang bodoh!" ucap pria satu sambil memukul kepala pria dua dengan sedikit kasar. lanjut-nya, "mereka itu sedang pacaran, jadi pasti mereka akan berusaha menyempatkan diri ke tempat sunyi untuk bermesraan.... saat itu tiba, baru-lah kita menyerang!" ucap pria satu dengan senyuman yang menakut-kan.
"tchi.... kau bicara soal menyerang, padahal kau hanya merasa tertarik pada gadis yang bersama bocah itu kan?" ucap pria dua.
"memang-nya kenapa?!" ucap pria satu yang tampak terusik dengan perkataan pria dua.
"sebenar-nya aku juga sepemikir dengan-mu." ucap pria dua sambil berseringai.
Sementara itu, saat ini tampak seorang pria sedang duduk di atas batu yang cukup besar, pria bernama Sagit, dan ia terlihat sedang menelepon seseorang.
"jika anda tak bisa datang hari ini tidak masalah, urusan yang di sini adalah masalah-ku sendiri." ucap Sagit.
Sementara itu, dari arah bawah, tampak Airin dan Erwin sedang berjalan menaiki tangga. tangga itu berada tepat di samping batu yang saat ini di duduki oleh Sagit.
"dia sedang menyelidiki Elang Hitam cabang Kalimantan ya?" gumam Sagit sambil menghela nafas panjang.
Berkat pendengaran Erwin yang tajam, Erwin pun bisa mendengar apa yang di gumam-kan oleh Sagit.
mendengar gumaman itu, Erwin sedikit tersentak dan mata-nya sedikit melebar.
"Elang Hitam?" batin Erwin sambil menoleh pada Sagit.
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit.
__ADS_1