Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Konflik Dengan Rogo


__ADS_3

saat ini Muru sudah berada di depan Erwin sambil mengayunkan tinju-nya ke wajah Erwin.


Erwin yang melihat hal itu langsung menghindar ke samping, dan ketika Erwin berhasil menghindar, Muru pun langsung memutar tubuh-nya dan langsung menendang Erwin.


Erwin yang menyadari tendangan itu langsung melompat ke belakang untuk menghindar. namun dengan cepat Muru mendaratkan kaki-nya di lantai lalu segera memutar tubuh-nya sambil melayangkan tinju ke arah Erwin.


Erwin langsung menangkis tinju itu, dan di saat bersamaan Erwin langsung menyerang ulu hati Muru.


Muru terdorong ke belakang, ia langsung memegang perut-nya sambil menatap Erwin dengan tatapan kesal dan dengan ekspresi yang tampak meringis.


"sial*n!!" ucap Muru yang tampak tak terima.


sementara itu, Bosu yang melihat perlawanan Erwin kini menatap Erwin dengan tatapan yang penuh ketertarikan.


"anak itu lumayan juga." ucap Bosu sambil berseringai.


"kau ini, mau cari mati hah?!" ucap Erwin dengan nada suara yang dingin sambil menatap Muru dengan tatapan yang menyeramkan.


Muru yang melihat tatapan itu sedikit tersentak dan diri-nya terintimidasi oleh tatapan dan perkataan Erwin.


namun dengan segera Muru menepis rasa takut-nya dan langsung maju menyerang Erwin.


belum sampai ia di hadapan Erwin, tiba-tiba wajah-nya langsung di pegang oleh seseorang.


"bisakah kalian berhenti bertarung?!" ucap Rogo dengan tegas sambil melempar Muru yang di pegang-nya itu ke samping.


Muru yang di lempar ke samping oleh bos-nya tentu terkejut. ia kini terjatuh ke lantai dan langsung mengangkat wajah-nya sambil menatap tajam pada Erwin.


Erwin yang mendapati tatapan tajam itu hanya memutar bola mata-nya dengan malas sambil mengendus pelan.


"apa lagi yang kau inginkan sampai datang ke tempat ini dan berbuat onar." ucap Rogo dengan ekspresi serius sambil menatap Erwin dengan tatapan menyelidik.


Erwin yang mendapati pertanyaan itu hanya diam dan langsung mengambil pistol yang ia sembunyikan di balik jaket-nya. lalu dengan segera Erwin menodong Rogo menggunakan pistol-nya.

__ADS_1


"apa yang kau inginkan anak muda?" tanya Rogo yang berusaha terlihat tenang meskipun di hadapan-nya sebuah senjata yang siap membunuh-nya.


"sederhana saja, aku ke sini untuk membunuh kalian semua." ucap Erwin dengan santai-nya.


mendengar hal itu membuat mereka semua terkejut. lalu dengan segera Bosu mengambil pistol-nya untuk di tembak-kan pada Erwin. namun Erwin segera menyadari hal itu dan langsung menembaki meja yang ada di depan Bosu menggunakan pistol yang satu-nya sehingga Bosu tersentak dan secara refleks menjatuhkan pistol dari tangan-nya.


"jika kalian bergerak bos kalian akan mati!" ucap Erwin dengan tatapan yang mengintimidasi.


Bosu yang mendengar hal itu tentunya langsung mengangkat kedua tangan-nya secara perlahan, dan begitu pula dengan Muru yang bahkan masih terduduk di lantai.


Rogo hanya bisa tersenyum melihat tindakan Erwin, ia kemudian menatap Erwin dengan tatapan yang ramah.


"jika memang kau ingin membunuh, mengapa kau malah mengancam dan bukan-nya langsung menembak. kau pasti punya alasan bukan?" tanya Rogo.


Erwin yang melihat Rogo yang tampak tidak gentar dengan gertakan-nya itu langsung tersenyum ketus.


"rupa-nya kau cukup jeli juga pak tua." ucap Erwin sambil menurunkan senjata-nya.


"hahaha kau masih terlalu muda untuk menggertak-ku." balas Rogo sambil tertawa kecil dan kemudian menimpali-nya. "jadi, kali ini apa tujuan-mu datang kemari." ucap Rogo sambil mengubah raut wajah-nya menjadi serius.


sedangkan Muru dan Bosu yang mendengar-nya langsung terkejut dan menatap Erwin dengan tatapan seolah tidak percaya.


"ba-bagaimana mungkin dia mengetahui-nya!" ucap Bosu dalam hati.


"ti-tidak mungkin! dia pasti hanya asal tebak saja." ucap Muru membatin.


"lalu?" tanya Rogo dengan singkat dan santai.


"lalu kau tak bisa memberitahukan pada mereka bahwa aku-lah yang membunuh lima anggota Elang Hitam itu." jelas Erwin sambil berjalan pelan mendekati Rogo.


"alasan-nya?" tanya Rogo lagi sambil mengubah ekspresi-nya menjadi ekspresi yang tampak tertarik.


"alasan-nya adalah, karena aku punya senjata yang sangat efektif untuk menghancurkan hubungan-mu dengan kelompok Elang Hitam." jelas Erwin saat berada dekat dengan Rogo.

__ADS_1


"dan senjata itu adalah, kebenaran bahwa aku membantu-mu menyusup ke tempat perjudian Elang Hitam!" ucap Rogo menimpali perkataan Erwin.


Erwin yang mendengar itu langsung tersenyum licik seolah diri-nya sudah menang.


"ternyata kau juga cukup berhati-hati ya...." ucap Erwin sambil menarik kursi yang ada di dekat-nya dan langsung duduk dan pangku kaki di depan Rogo.


"bocah itu bertindak seenak jidat-nya!" bentak Bosu dalam hati sambil menampilkan ekspresi kesal yang tampak aneh.


"dia sama sekali tak menghargai bos yang masih berdiri dan dia malah langsung duduk begitu saja! dasar tak tahu diri!" ucap Muru dalam hati sambil mengumpat Erwin.


"hahaha kau memang bocah yang menarik." ucap Rogo dengan ekspresi bersemangat dan setelah itu perlahan mengubah ekspresi-nya menjadi ekspresi yang mengintimidasi. "tapi sayang-nya kau terlalu angkuh, apa perlu ku ajarkan tata kerama?" ucap-nya dengan suara yang terdengar berat sambil menodongkan sebuah pistol ke arah Erwin yang sedang duduk.


Erwin yang melihat hal itu langsung menopang dahi-nya menggunakan dua jari sambil tersenyum licik seolah meremehkan ancaman dari Rogo.


"apa kau yakin ingin membunuh-ku sekarang?" tanya Erwin tanpa menoleh pada Rogo yang menodongkan-nya pistol.


"untuk apa aku ragu?" ucap Rogo yang terlihat menggertak.


"hahaha....." Erwin tertawa terbahak-bahak sambil menutupi wajah-nya menggunakan telapak tangan-nya. "bukti bahwa kau membiarkan-ku menyusup itu adalah kunci dari keraguan-mu untuk membunuh-ku, dan itu karena...." Erwin menahan ucapan-nya dan langsung membuka jari tangan-nya yang menutupi mata-nya agar ia bisa melihat Rogo dengan sebelah mata-nya. "kau mengharapkan sesuatu dari penyusupan-ku." ucap Erwin dengan tatapan yang menyeramkan.


Rogo yang mendengarkan hal itu tentu-nya langsung terkejut, dan dia pun langsung menurunkan senjata-nya.


"bagaimana kau bisa menebak semua-nya anak muda?" tanya Rogo sambil menatap Erwin dengan tatapan kagum.


"mudah sekali....." ucap Erwin dengan santai dan kemudian menimpali perkataan-nya. "itu karena aku sudah menyisipkan penyadap di setiap ruangan ini sebelum aku keluar dari sini." jelas Erwin.


mendengar perkataan Erwin membuat mereka bertiga terkejut seketika karena tidak menyadari sejak kapan Erwin meletak-kan penyadap di ruangan ini.


"hahaha, bahkan sampai akhir kau masih membuat kejutan di setiap tindakan-mu." ucap Rogo sambil tertawa girang.


"jangan tertawa dulu....." ucap Erwin dengan ekspresi yang seolah mengingatkan. lanjut-nya, "di tempat ini bukan hanya aku yang menyimpan penyadap, seperti-nya ada orang lain yang juga sepemikir dengan-ku." ucap Erwin dengan serius dan membuat Rogo terkejut dan langsung berhenti tertawa.


"apa maksud-mu?" tanya Rogo dengan nada serius.

__ADS_1


Erwin mengabaikan pertanyaan Rogo dan hanya fokus melihat sekeliling dengan tatapan yang penuh konsentrasi seperti seekor singa yang mengintai mangsa-nya.


"kita di kepung!" ucap Erwin dengan sedikit tegas dan membuat ketiga penghuni kafe itu terkejut.


__ADS_2