
"tchi.... teriakkan kalian membuat telinga-ku mau pecah!" ucap Petra sambil menutup lubang kuping-nya menggunakan jari kelingking kiri.
Kemudian Petra pun langsung melompat ke belakang dan membiarkan pria satu tergeletak di lantai.
Baru saja Petra mendarat di lantai, sebuah kayu langsung bergerak mengarah ke wajah-nya dengan sangat cepat.
namun dengan refleks-nya yang cepat, Petra pun berhasil menghindari kayu tersebut.
"tchi.... hampir saja!" ucap Petra sambil mendecak-kan lidah-nya.
Setelah serangan menggunakan kayu itu tak mengenai Petra, kini sebuah tendangan langsung mengarah ke perut Petra, namun Petra berhasil menghindari tendangan itu.
Kurang dari sedetik setelah tendangan itu, kini pria dua dan pria tiga melakukan tendangan dari dua arah pada Petra.
"serangan dari kiri dan belakang ya...." bisik Petra setelah merasakan pergerakan pria dua dan tiga itu.
note: Petra memiliki kemampuan untuk merasakan serta memprediksi pergerakan seseorang yang berada di titik buta-nya.
kemampuan ini hanya berlaku pada orang-orang yang berada pada jarak kurang lebih 10 meter dari diri-nya.
~DUAKK!!~
~DUAKK!!~
Dua tendangan dari pria dua dan tiga itu berhasil di tepis oleh Petra menggunakan tinju yang kuat sehingga kaki pria dua dan tiga langsung terdorong mundur.
"apa-apaan itu?!"
"bagaimana bisa dia menyadari-nya?!"
"tenaga-nya kuat sekali!!"
Tiga pria lain-nya langsung mengeluarkan argumen masing-masing saat melihat kejadian itu.
sementara pria dua dan tiga hanya bisa terkejut dengan wajah yang tampak meringis karena harus menahan sakit pada kaki mereka yang terkena tinju dari Petra.
"pukulan bocah ini sama sekali tidak menggambarkan fisik-nya!!" batin pria dua yang langsung menjaga jarak dari Petra.
"bagaimana bisa dia se 'over power' ini dengan tubuh yang tidak terlalu berotot?!" ucap pria tiga dengan ekspresi tidak percaya.
Sementara itu, saat ini pria satu hanya bisa diam tak berkutik melihat kejadian itu.
saat ini pria satu tampak seperti merenung dan mempertimbangkan sesuatu.
__ADS_1
sesaat kemudian pria satu langsung menatap pria dua dan tiga.
"apa kalian baik-baik saja?" tanya pria satu.
Pria dua dan tiga yang mendengar pertanyaan itu tentu langsung menoleh ke arah pria satu dengan ekspresi yang sedikit serius.
"dari pertanyaan-mu itu kami bisa langsung mengerti maksud-mu." ucap pria tiga.
"ya benar.... sebenar-nya kami sedang tidak baik-baik saja!" balas pria dua.
"hah...." pria satu menghela nafas. timpal-nya, "seperti-nya kita tak punya pilihan lain.... waktu-nya negosiasi." ucap pria satu karena saat ini mereka semua sadar bahwa mereka tidak akan bisa mengalahkan Petra.
"katakan apa mau-mu!" ucap pria satu dengan tegas sambil menatap Petra dengan serius.
"hahaha kau cepat mengerti dan langsung paham harus bertindak bagaimana dalam situasi seperti ini.... itu arti-nya kau adalah pimpinan mereka di sini." jelas Petra sambil meluruskan tubuh-nya dari sikap kuda-kuda.
"ya.... bisa di bilang begitu karena aku lah yang terkuat di antara mereka." balas pria itu dan kemudian langsung menimpali-nya. "katakan apa yang kau inginkan, jika kami bisa kabul-kan maka akan kami kabul-kan!" ucap-nya dengan lantang.
"begitu ya.... sejujur-nya, berdasarkan pengamatan-ku saat ini, kalian pasti bukan bagian dari kelompok Elang Hitam.... apa aku benar?" tanya Petra.
"ya benar! kami ini hanyalah berandalan biasa dan sama sekali tidak terikat dengan organisasi manapun!" jawab pria satu dengan cepat.
"pertanyaan selanjut-nya, dari mana kalian membeli sabu-sabu yang kalian gunakan itu?" tanya Petra lagi.
"apa tujuan-mu menanyakan hal itu?" ucap pria satu balik bertanya.
"kau ini benar-benar bisa baca situasi atau tidak?.... di sini hanya aku yang boleh bertanya!" ucap Petra dengan tegas sambil menunjuk-kan ekspresi yang menakut-kan.
Melihat ekspresi Petra itu membuat pria satu langsung merinding.
"ba-baiklah akan ku beri tahu." ucap pria satu dengan terbata-bata.
sementara empat pria lain-nya yang berdiri di belakang pria satu hanya bisa menahan nafas karena rasa takut yang mereka rasakan dari intimidasi Petra.
"apa-apaan aura mengerikan ini?!" batin para pria itu.
"hah...." pria satu itu menghela nafas panjang. "sebenar-nya, sekali pun ku beri tahukan hal ini pada-mu, namun aku yakin kau juga tidak akan merasa puas." ucap pria satu mulai membuka penjelasan-nya.
"jelaskan!" tegas Petra.
"kami mengambil sabu-sabu ini dari seseorang, namun orang itu tidak memberitahu-kan identitas-nya.... bahkan saat melakukan transaksi ia selalu menggunakan topeng untuk menutupi wajah-nya." jelas pria satu itu.
Mendengar penjelasan itu, Petra pun langsung menopang dagu-nya seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"bagaimana ciri-ciri orang bertopeng itu?" tanya Petra lagi.
Setelah itu pria satu pun menjelaskan semua yang ia ketahui tentang pria bertopeng itu.
dan pada akhir-nya Petra bisa menyimpulkan satu kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"seperti-nya besok aku harus menyelidiki lebih lanjut lagi di sekitaran pelabuhan!" batin Petra sambil berjalan keluar dari gedung tua itu.
*****
Pagi hari di wilayah Sulawesi tengah.
Matahari perlahan menampak-kan sinar-nya dan menyinari pegunungan barat.
Saat ini di sebuah kamar, tepat-nya di kamar Erwin tampak Erwin dan Airin yang sedang terbaring di atas ranjang sambil terbungkus selimut.
kedua-nya saat ini tampak tertidur dengan posisi yang saling berhadapan.
Beberapa saat kemudian, tampak Airin perlahan membuka mata-nya kerena ia merasa seperti ada angin hangat yang menyentuh dahi-nya.
lalu Airin pun membuka mata-nya dan mendapati diri-nya yang saat ini berada begitu dekat dengan Erwin. sampai-sampai hembusan nafas Erwin bisa di rasakan oleh Airin.
Sesaat setelah mendapati diri-nya dan Erwin yang sedang tidur seranjang.
otak Airin pun mulai mencerna apa yang menyebabkan kejadian seperti ini.
tak lama setelah itu, Airin pun langsung berteriak dengan wajah yang memerah.
kemudian ia langsung menendang Erwin dari atas ranjang sehingga Erwin langsung terjatuh.
Sementara itu, saat Erwin menghantam lantai, Erwin pun langsung terkejut dan dengan cepat langsung berdiri dari tidur-nya.
"apa yang terjadi?!" ucap Erwin dengan ekspresi terkejut.
"diam kau dasar mesum!" ucap Airin dengan rasa kesal namun wajah-nya malah terlihat memerah seperti orang yang sedang malu-malu.
"ap-apa maksud-mu?!" balas Erwin sambil menunjuk Airin.
"diam!" balas Airin sambil melempar Erwin menggunakan bantal.
Tak lama kemudian tiba-tiba pintu kamar Erwin langsung terbuka dan tampak dari balik pintu itu nenek Erwin sedang memegang gunting rumput yang besar sambil memainkan gunting itu dengan ekspresi yang menyeramkan.
Jangan lupa
__ADS_1
Like, Vote, komen, dan faforit.