
Setelah mereka berhenti tertawa, kakek Erwin pun langsung mulai berbicara mengenai hasil penerawangan-nya.
"sebenar-nya tadi aku sedang berbicara dengan mahluk yang merasuki tubuh Airin!" ucap kakek Erwin dengan ekspresi serius.
"apa?!" ucap Jasie dan Airin yang tampak sangat terkejut.
"jadi benar ya, selama ini ada mahluk lain yang sengaja mengambil alih tubuh Airin sehingga ia tampak seolah memiliki kepribadian ganda." timpal Erwin sambil menyilang-kan tangan-nya di depan dada.
"ya, itu benar! selain itu tadi juga aku berhasil mendapat-kan informasi tentang siapa yang mengirim mahluk itu ke tubuh Airin." ucap kakek Erwin lagi.
"kalau begitu siapa pelaku-nya?" tanya Erwin yang tampak penasaran.
"untuk masalah nama, aku tak tahu.... mahluk itu tak mau mengatakan nama orang yang mengirim-nya." ucap kakek Erwin. lanjut-nya, "akan tetapi ia berkata bahwa orang yang mengirim-nya itu adalah orang yang ada di sekitar kalian." jelas kakek Erwin menatap Airin dan Erwin.
"orang yang ada di sekitar kami?" ucap Airin memastikan.
"ya benar!" jawab kakek Erwin yang memberi kepastian.
*******
Saat ini, di pulau Kalimantan tepat-nya di kediaman Rimo.
dari halaman rumah tampak Rimo dan Sedi sedang menaiki mobil lalu masuk ke garasi untuk memarkir mobil.
Setelah itu kedua-nya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"apa Nurdin masih belum memberi kabar juga?" tanya Rimo pada Sedi.
"belum, seperti-nya aku memang harus pergi mencari-nya." balas Sedi sambil berhenti di depan sofa ruang tengah.
Saat kedua-nya ingin duduk, tiba-tiba terdengar suara dobrak-kan yang sangat kuat dari pintu depan. hal itu pun membuat mereka berdua terkejut dan tidak jadi berisitirahat sejenak.
"apa itu?" tanya Rimo sambil menoleh ke arah pintu rumah.
"entahlah..... biar ku periksa." ujar Sedi yang kemudian berjalan pelan menuju pintu depan.
Baru saja Sedi melewati sebuah tembok pembatas ruangan sehingga tak di lihat lagi oleh Rimo, tiba-tiba terdengar suara keras.
__ADS_1
~BRUAAKK!!~
Setelah suara itu tampak Sedi yang sedang terlempar kembali ke ruang tengah. hal itu pun membuat tubuh Sedi langsung jatuh dan menghantam meja kaca yang ada di ruangan itu.
meja kaca itu pun langsung hancur berantakan, dan Sedi pun langsung pingsan di tempat.
Rimo yang melihat hal itu sontak terkejut. namun dengan segera ia berusaha menyadarkan diri untuk mengamati situasi saat ini.
kemudian Rimo langsung menoleh ke arah dinding pembatas ruangan.
"seperti-nya ada seseorang yang masuk ke rumah ini!" batin Rimo yang tampak waspada.
Sementara itu, suara langkah kaki dari balik dinding pembatas ruangan itu terdengar makin mendekat.
saat suara langkah itu berhenti di dekat dinding, tiba-tiba tampak sebuah pot bunga terlempar ke atas dan langsung menghantam lampu yang ada di ruangan itu. alhasil lampu di ruangan itu langsung padam dan membuat Rimo terkejut sekaligus panik.
"siapa itu!?.... tunjuk-kan diri-mu!!" ucap Rimo dengan ekspresi panik dan sedikit takut.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba lampu lain yang ada di dalam ruangan itu langsung menyala. meskipun demikian, lampu itu tampak sangat redup dan jumlah-nya juga tidak terlalu banyak.
Ketika lampu redup itu menyala, lampu itu langsung membuat Rimo bisa melihat sosok yang sedang masuk dan mengacau di rumah-nya.
sosok itu adalah sosok Petra yang sedang menggunakan perlengkapan penyamaran-nya, yakni berpakaian serba hitam, menggunakan masker hitam, serta sebuah kaca hitam yang menutupi bagian mata hingga dahi.
Melihat sosok itu membuat Rimo terkejut karena kemunculan-nya sangat tiba-tiba.
"si....siapa kau?" tanya Rimo dengan terbata-bata sambil mendorong satu kaki-nya ke belakang.
Petra yang mendapati pertanyaan itu hanya diam dan terus menatap Rimo dengan pose tubuh yang tegas, sehingga membuat intimidasi-nya pada Rimo bisa tersampaikan meskipun ia tak berkata-kata.
"sial@n..... kau meremehkan-ku ya?!" ucap Rimo yang berusaha mengendalikan kepanikan-nya.
"ingat Rimo! dalam keadaan apa pun kau tak boleh panik! karena panik hanya akan menutupi pandangan-mu untuk menang dari lawan-lawan mu!" batin Rimo meyakinkan diri.
Setelah berkata demikian, Rimo pun langsung membuka baju kameja lengan panjang yang ia gunakan.
"aku harus mencoba berbagai cara bertarung yang belum pernah ku lakukan sebelum-nya!" batin Rimo.
__ADS_1
setelah itu Rimo pun langsung melempar baju-nya ke arah Petra agar Petra tak melihat pergerakan-nya.
namun sayang-nya, Petra yang melihat pakaian yang menutupi pandangan-nya terhadap Rimo langsung mengerti apa tujuan Rimo.
lalu Petra pun dengan segera melakukan tindakan antisipasi, yaitu dengan cara melompat tiga kali ke belakang dan menjaga jarak dari Rimo.
Tindakan Petra itu di ambil adalah tindakan yang benar, karena pada saat ini tampak Rimo yang sudah menendang namun hanya menendang angin karena Petra sudah menghindar dengan cepat.
"si@l!!.... rupa-nya dia tahu apa yang ku rencana-kan!" batin Rimo.
Tak habis di situ saja, kini Rimo dengan segera langsung bergerak ke dinding dan meraih sebuah lukisan yang ada di dinding itu.
lalu Rimo dengan segera menghancurkan lukisan itu dan langsung mengambil bingkai kayu pada lukisan itu. kemudian ia langsung menghancurkan-nya menjadi dua. setelah itu ia menjadikan bingkai kayu itu sebagai alat untuk bertarung.
Melihat hal itu, Petra pun langsung mengangkat kedua tangan-nya ke atas kepala.
Rimo yang melihat tindakan Petra langsung tersenyum dan mulai percaya diri.
"kenapa? kau menyerah? kau takut jika aku menggunakan alat hah?!" ucap Rimo yang tampak mulai berani.
Mendengar ucapan Rimo, Petra pun hanya menggelengkan kepala-nya. lalu ia menurunkan kedua tangan-nya serta langsung memasuk-kan kedua tangan-nya ke saku celana.
Rimo yang melihat itu tentu langsung kesal karena Petra tampak meremehkan diri-nya.
"sial@n!..... kau meremehkan-ku ya ha?!" ujar Rimo yang kemudian langsung maju tanpa berpikir panjang.
Melihat Rimo yang mulai bergerak, Petra pun langsung pasang kuda-kuda bertarung-nya.
saat Rimo tiba di dekat-nya, Rimo langsung mengayunkan bingkai kayu itu.
Rimo yang menggunakan dua bingkai kayu itu langsung melakukan serangan membabi-buta. ia terus mengayunkan bingkai kayu itu dari berbagai arah. namun sayang-nya Petra bisa dengan mudah menghindar serta menangkis serangan-nya bahkan hanya dengan menggunakan kaki saja.
"sial@n!.... dia lebih kuat dari yang ku pikirkan!!.... sejak awal aku memang sudah merasakan hawa mencekam dari orang ini! harus-nya sejak awal aku menyadari-nya dan tetap terus waspada!..... tapi ujung-ujungnya dia malah memancingku untuk meremehkan diri-nya!.... licik sekali!!" batin Rimo dengan ekspresi kesal di wajah-nya.
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit
__ADS_1