Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Geng Sadondo


__ADS_3

Jam istirahat di sekolah.


Saat ini Erwin Erwin tampak sedikit tidak bersemangat karena diri-nya sama sekali tak melihat Santi di kelas hari ini.


"hah...." Erwin menghela nafas dengan ekspresi yang tampak kecewa.


"kenapa Santi tidak ada tapi orang ini malah ada di sini!" ucap Erwin dengan nada mengeluh sambil menoleh ke arah Petra yang saat ini duduk di depan-nya.


"hei.... hidup ini harus di bawa santai kawan... jangan banyak mengeluh." ucap Petra dengan penuh percaya diri sambil menepuk meja di depan Erwin.


"hei Petra, sebenar-nya sejak kapan kau pindah ke sekolah ini?" tanya Erwin.


"sudah-lah, tak usah bahas soal itu.... bagaimana kalau sekarang kita keluar dan mencari makanan?" balas Petra mengajak Erwin untuk pergi ke kantin.


Tak lama setelah Petra mengajak Erwin, kini Lisa pun datang menghampiri mereka berdua.


"Erwin, mau ikut dengan-ku ke kantin?" tanya Lisa.


"ehmm...." Madika hanya bergumam dan tampak sedang berpikir untuk mengikuti ajakan Lisa atau tidak.


Sementara itu, Petra kini merasa bosan melihat tingkah Erwin yang seperti itu.


"ah.... mau makan saja harus berpikir lama seperti itu?.... yang benar saja?.... lebih baik sekarang kau ikut saja!" ucap Petra yang kemudian langsung meraih tangan Erwin dan memaksa-nya untuk berdiri dari duduk-nya.


"ya ampun...." ucap Madika sambil berdiri.


"ayo ikut aku." ucap Petra sambil menarik tangan Lisa dan tangan Erwin.


Kini Petra tampak menarik Erwin dan Lisa.


mereka berdua pun langsung mengikuti langkah Petra dari belakang.


Saat ini Erwin, Petra, dan Lisa sedang berjalan di sebuah koridor sekolah yang jarang di lalui oleh para siswa.


tempat itu saat ini sangat sepi, dan hanya mereka bertiga saja yang lewat di situ.


"kenapa lewat sini?.... bukan-kah jalan di sini malah menambah jarak ke kantin?" tanya Lisa yang tampak bingung.

__ADS_1


"jalan di sini menurut-ku cukup untuk menenangkan pikiran karena sepi.... makan-nya aku membawa kalian lewat di sini." jawab Madika.


"eh?.... memang-nya kau sedang banyak pikiran?" tanya Lisa lagi.


Mendengar pertanyaan Lisa, Petra pun langsung menoleh ke belakang dan memberi jawaban yang tidak pasti pada Lisa.


"entah-lah." jawab Petra sambil tersenyum tipis. "lagi pula seorang perempuan tidak perlu tahu apa yang sedang di hadapi oleh seorang lelaki." ucap Petra dengan percaya diri.


"heleehhh.... sok misterius." ucap Lisa sambil buang muka dari Petra.


Sementara itu, Erwin yang mendengar-kan percakapan mereka kini hanya bisa menggeleng-kan kepala-nya.


Setelah mereka bertiga berjalan cukup jauh di koridor yang sunyi itu, tiba-tiba mereka di kejut-kan oleh sosok seorang pria yang tampak terdorong dari salah satu koridor lain-nya yang terhubung dengan koridor itu.


pria yang terdorong itu kini langsung tergeletak di lantai.


ia tampak seperti seorang yang tidak berdaya dan mengalami penindasan dari seseorang.


pria itu tampak sedang mengepal-kan tangan-nya dan pasang ekspresi kesal di wajah-nya.


mereka bertiga pun langsung berlari mendekati pria itu.


"apa kau baik-baik saja?" tanya Erwin yang langsung membantu pria itu untuk berdiri.


Ketika pria itu melihat Erwin, tampak pria itu terlihat enggan untuk menjawab, ia bahkan perlahan mengalihkan pandangan-nya dari Erwin.


meski-pun demikian, Erwin tetap membantu pria itu untuk berdiri.


kini pria itu telah berdiri dengan tegak seolah tidak terjadi apa-apa pada diri-nya.


"terima kasih." ucap pria itu singkat.


Di sisi lain, saat ini di koridor itu tampak ada sepuluh orang siswa lain-nya yang sedang berdiri dan menatap Erwin dengan penuh intimidasi.


bahkan tidak sedikit dari mereka yang tampak meremehkan Erwin.


"ohh.... jadi ini, bocah yang di rumor-kan telah mengalah-kan Rimo dan geng-nya itu?" ucap salah satu pria yang berdiri paling depan di antara sembilan siswa laki-laki lain-nya.

__ADS_1


Pria yang berdiri paling depan itu terlihat sedang menatap Erwin dengan tatapan yang terlihat sedang meremehkan Erwin.


"tchu.... bocah lembek seperti ini bagaimana mungkin bisa mengalah-kan Rimo?" ucap pri itu sambil meludah sembarang.


"hahahaha mungkin memang dasar-nya Rimo itu orang yang lemah.... bisa-bisanya dia kalah melawan bedeb@h seperti ini." ucap salah satu siswa lain-nya yang kini berjalan mendekati pria yang paling depan.


"hei, aku dengar-dengar hari ini bocah bod0h itu tidak datang ke sekolah, apa dia malu karena kalah dari bocah ini?" tanya pria yang paling depan sambil menoleh pada pria yang satu-nya yang kini berada di samping-nya.


"entah-lah, aku juga tidak tahu mungkin saja dia sudah tak punya muka menemui orang-orang di sekolah ini.... lagi pula setelah di kalah-kan oleh bedeb@h kecil ini aku yakin reputasi-nya semakin turun dan image-nya pasti sudah hancur begitu saja hahahaha." jawab pria di sebelah si ketua geng itu sambil menertawakan Rimo dan kawan-kawannya.


Sementara mereka membahas tentang Rimo, kini Petra menyentuh pundak Erwin dan memberitahu-kan pada Erwin apa yang ia ketahui saat ini.


"apa kau tahu sesuatu tentang orang-orang ini?" tanya Petra pada Erwin.


Mendengar pertanyaan Petra Madika hanya bisa menggelengkan kepala-nya karena diri-nya memang tidak tahu apa-apa tentang kelompok itu.


melihat reaksi Erwin yang tampak tidak tahu apa-apa, kini Petra pun langsung memberitahu-kan pada Madika bahwa mereka itu adalah satu anggota geng. nama geng mereka adalah geng Sadondo, dan yang berdiri paling depan itu adalah si ketua geng yang bernama Padondo, atau biasa-nya di panggil Pado.


Erwin yang mendengar penjelasan itu kini hanya bisa mengangguk dengan ekspresi paham.


"begitu ya.... habis satu muncul satu." ucap Erwin menanggapi cerita dari Petra.


Petra memang masih baru di SMA ini, akan tetapi jauh sebelum ia masuk ke sekolah ini ia sudah banyak mencari informasi yang ada di dalam-nya. bahkan sampai pergaulan para siswa pun di selidiki-nya.


hal itu pun membuat diri-nya tahu banyak tentang geng-geng yang ada di SMA ini.


Mendengar penjelasan Petra, kini Erwin pun langsung pasang ekspresi serius sambil menatap Pado dan seluruh anggota geng-nya itu dengan tatapan intimidasi.


namun tatapan intimidasi yang di miliki oleh Erwin tentu berbeda dari yang di miliki oleh seluruh anggota geng itu.


hal itu di karena-kan Erwin yang sudah pernah membunuh kini seolah sedang mengeluar-kan aura yang sangat mencekam dan membuat seluruh anggota geng itu tiba-tiba merinding saat menatap mata Erwin.


"berhenti-lah mengganggu orang lain!" ucap Erwin dengan tegas.


Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...


__ADS_1


__ADS_2