
"Kenapa kalian ingin mati semudah itu?!" tanya Erwin dengan nada lantang yang membuat ke tiga anggota yang masih berlutut itu langsung tersentak.
"sial*n!!... apa kau tak bisa membaca situasi hah!!" bentak salah satu dari mereka anggota itu saat melihat tingkah Erwin yang terkesan sok jago.
"kau ini mau kami semua mati hah! dasar orang bodoh!" umpat anggota ke dua.
"lagi pula siapa kau?! berani-nya mengatai kami seperti itu!!" bentak anggota yang ke tiga.
Sementara itu, salah satu dari lima anggota Elang Hitam langsung menodong Erwin menggunakan senjata dari jarak yang cukup jauh.
"sudah cukup basa-basi-nya, kau lebih baik mati lebih dulu dari mereka!" ucap anggota Elang Hitam itu.
"mati? hahaha itu lucu sekali!.... cobalah menembak! dan lihat apa yang akan terjadi selanjut-nya!!" ucap Erwin dengan lantang dan penuh percaya diri.
"seperti-nya kau benar-benar ingin mati ya... baiklah biar ku tem...."
Ucapan pria yang menodong Erwin itu terhenti karena tiba-tiba salah satu teman-nya menghentikan tindakan-nya yang hendak menembak.
"apa yang kau lakukan?" tanya pria yang hendak menembak itu.
"jika kau menembak sekarang maka besar kemungkinan kepolisian akan datang! hal itu tentu-nya akan menggagalkan tujuan kita untuk menguasai semua senjata yang ada di sini!" jelas teman pria itu sambil berbisik.
"tchi.... jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya pria yang menodong itu.
"bunuh dia menggunakan katana-mu bod*h!" bentak teman pria itu dengan ekspresi kesal.
"tak perlu mengeluarkan urat seperti itu saat menjelaskan brengs*k!" balas pria yang menodong itu sambil mengeluarkan katana-nya. lalu pria itu mulai berjalan ke arah Erwin sambil memegang katana yang sangat tajam di tangan kanan-nya.
"seperti-nya kau sudah tahu kalau kami tak bisa asal tembak karena akhir-akhir ini ada kabar bahwa pihak polisi dan TNI mulai memperketat penjagaan di seluruh wilayah yang ada di kota ini." ucap pria itu sambil memainkan katana yang di pegang-nya. lanjut-nya, "meskipun begitu, kami akan tetap menembak jika terpaksa! jadi sebaik-nya kau terima saja kematian-mu dan jangan melawan! karena pada akhir-nya kalian semua akan tetap mati!" ucap pria itu sambil tersenyum licik dan membuat wajah-nya terlihat menakutkan.
Sementara itu, tiga pegawai Ritman langsung menunduk dengan penuh ketakutan saat mendengar ucapan pria yang menggunakan katana itu.
saat ini mereka tahu bahwa mereka berada di posisi terpojok dan tak bisa lari lagi.
Saat ini pria yang menggunakan katana itu sudah berdiri di depan Erwin.
pria itu mengangkat katana-nya dan bersiap untuk menebas Erwin.
Sementara itu, Erwin yang melihat hal itu hanya diam dan sama sekali tak bergerak dari posisi berdiri-nya.
__ADS_1
saat ini Erwin berdiri sambil memasukan kedua tangan-nya di saku celana, ia hanya memandang pria di depan-nya tanpa bereaksi apa-apa.
"apa ada kata-kata terakhir pahlawan bertopeng?" tanya pria itu dengan nada yang mengejek.
Erwin yang mendengarkan perkataan itu pun langsung membuka mulut-nya untuk berbicara.
"sebelum kau menebas-ku, tolong biarkan aku melepaskan kaca penutup mata-ku ini agar kau tidak lupa dengan wajah orang yang akan kau bunuh ini." ucap Erwin sambil berseringai.
"hah?" ucap pria itu dengan ekspresi aneh sambil mengerutkan dahi-nya. lanjut-nya, "itu permintaan yang aneh, tapi boleh saja! lagi pula kau akan mati hahaha." ucap pria itu mengejek.
"baiklah, akan ku tunjukan wajah-ku pada-mu." ucap Erwin yang kemudian perlahan membuka kaca penutup mata-nya.
Saat kaca itu sudah tak menutupi wajah-nya, kini pria itu menatap Erwin dengan tatapan yang tampak tidak peduli.
"kau masih sangat muda rupa-nya." ucap pria itu dengan nada hambar.
Sesaat setelah itu, Erwin mengangkat kaca yang di pegang-nya itu ke depan dada-nya sehingga pria yang memegang katana itu langsung melihat pergerakan Erwin dengan seksama karena ia tidak ingin lengah dengan pergerakan Erwin.
Saat kaca itu sudah di depan dada-nya, Erwin pun langsung melepas kaca itu dan kaca itu langsung terjatuh ke lantai.
kaca itu pun pecah, dan suara pecah-nya kaca itu bergema di dalam ruangan tertutup itu.
hal itupun membuat semua yang ada di sana menjadi terkejut dan langsung tersentak.
"bukan apa-apa, itu hanya kaca yang di jatuhkan oleh pria bodoh yang akan di di tebas oleh Olo." ucap pria yang saat ini masih menodong Erwin.
"HAHAHAHA...."
Erwin yang mendengar ucapan pria yang menodong-nya menggunakan senjata api langsung tertawa menggelegar.
"menebas-ku? kalian semua hanya-lah orang-orang yang berotak dangkal!" ucap Erwin yang kemudian kembali tertawa.
"hei Olo! kenapa kau diam saja!? cepat bunuh orang itu!!" teriak pria yang menodong itu dengan ekspresi kesal karena tertawaan Erwin yang terdengar meremehkan mereka.
"Olo!! apa kau tak mendengar perkat...."
~DOOORRR~
Belum selesai berbicara, pria yang menodong Erwin itu langsung di tembak oleh Erwin.
__ADS_1
tembakan itu tepat mengenai kepala dan membuat kepala pria itu berlubang dan mengeluarkan darah.
Melihat hal itu, ketiga pria yang menodong tiga pegawai Ritman tentu terkejut, dan secara serentak mereka mengarahkan senjata ke arah Erwin. lalu mereka pun langsung menembaki Erwin.
Erwin yang menyadari hal itu langsung menggunakan tubuh Olo yang saat ini berdiri terpaku sebagai sebuah tameng.
semua tembak-kan yang di arahkan pada Erwin kini hanya mengenai Olo yang di jadikan tameng oleh Erwin.
"apa sebenar-nya yang terjadi pada Olo?!" ucap para anggota Elang Hitam bertanya-tanya karena Olo hanya diam saja saat diri-nya di jadikan tameng.
~Doorrr~
~Doorrr~
~Doorrr~
Ketiga anggota Elang Hitam yang tersisa itu kini terkena tembakan dari Erwin.
ketiga anggota Elang Hitam itu mati dengan keadaan kepala yang bocor akibat hantaman peluru yang sangat kuat.
Melihat kejadian itu, ketiga pegawai Ritman tak bisa untuk tidak terkejut.
mereka bertiga hanya bisa melebarkan mata-nya sambil menganga dan menatap Erwin dengan tatapan tidak percaya.
"ba-bagaimana mungkin bisa seperti ini?" ucap mereka bertiga secara serentak seolah di komando untuk mengatakan-nya.
"sudah ku bilang, jika kalian ingin mati, maka matilah dengan terhormat!!" bentak Erwin saat menyadari ketiga pegawai Ritman sedang menatap-nya dengan kagum.
"ta-tapi kami tak punya piliha...."
"jangan banyak alasan!!" bentak Erwin lagi yang menyela perkataan pegawai itu.
"jika kalian mati seperti ini, maka kematian kalian akan sia-sia dan tak ada guna-nya!! jika memang tak ada pilihan!...." ucap Erwin memberi jeda pada perkataan-nya sambil berjalan pelan ke arah tiga pegawai itu.
saat tiba di depan tiga pegawai itu ia pun melanjutkan ucapan-nya.
"jika memang tak ada pilihan, maka matilah dengan gaya!" ucap Erwin dengan lantang.
Mendengar hal itu, ketiga pegawai itu langsung melebarkan mata-nya dan menatap Erwin dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman.
__ADS_1
"kemampuan anak ini benar-benar luar biasa!" ucapan itu seketika muncul di pikiran mereka saat melihat Erwin yang sedang berdiri dengan pose keren di depan mereka.
note: buat pembaca yang tidak mengerti kenapa Olo tidak menebas saat Erwin menembak teman-nya akan di jelaskan di episode berikut-nya.