
Saat Lepi mendengar perkataan Erwin itu, Lepi langsung melebarkan senyum-nya dan kemudian perlahan menoleh pada Erwin.
"ternyata cepat juga kau membuat kesimpulan." ucap Lepi dengan tenang.
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba mereka berdua langsung saling menodongkan pistol tepat lurus di kepala masing masing.
hal itu pun menciptakan sebuah keheningan di ruangan itu.
"refleks-mu cepat sekali anak muda." ucap Lepi sambil berseringai.
"bod*h, tadi aku sempat melihat tangan-mu bergerak perlahan meraih pistol di atas meja. kau pikir aku tak menyadari-nya hah?" jelas Erwin dengan tatapan yang menyeramkan.
"hahaha kau ini teliti sekali, kebanyakan anggota-ku tak bisa menyadari saat aku melakukan trik ini." balas Lepi sambil tertawa hambar.
"itu arti-nya anggota-mu itu lebih lemah dari-ku." ucap Erwin dengan percaya diri lalu menimpali-nya. "sekarang bisa kau jelaskan apa maksud tindakan-mu ini?" ucap Erwin yang menatap Lepi dengan penuh niatan membunuh yang membuat-nya terlihat makin menyeramkan.
Lepi yang bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kuat dari Erwin tentu-nya sedikit terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu dengan anak muda yang memiliki hawa membunuh sekuat itu, karena selama ini tak ada anak muda yang bisa memancarkan hawa seperti itu kecuali anak muda itu sudah pernah membunuh banyak orang.
"siapa sebenar-nya anak ini?" batin Lepi dengan ekspresi yang tampak sedikit terkejut.
kini Lepi mulai meneteskan keringat di dahi-nya karena terus melihat tatapan intimidasi yang sangat menyeramkan dari Erwin.
"bocah ini serius dan tak terlihat ragu untuk menembak!" batin Lepi yang mulai gelisah lalu menimpali-nya. "apa anak ini tak sayang nyawa? ia bahkan terlihat tak peduli dengan pistol yang sedang ku todong-kan pada-nya."
Erwin yang melihat ekspresi Lepi yang tampak sedikit gelisah kini sedang tertawa dalam hati seolah sudah menang. namun ia tetap tidak menunjuk-kan ekspresi tertawa-nya itu.
__ADS_1
"selain perang fisik, aku juga tidak mau kalah dalam perang mental!" ucap Erwin membatin dan langsung menimpali-nya. "jika perang mental saja mudah di kalahkan, maka bagaimana dengan perang fisik?!" ucap-nya dalam hati sambil tertawa merayakan kemenangan kecil-nya.
note: tertawa-nya dalam hati, jadi tidak di tunjuk-kan oleh ekspresi asli-nya.
Setelah beberapa saat kedua-nya memutar otak dan menebak pikiran lawan-nya, kini keheningan itu berhenti karena Lepi mulai membuka mulut-nya.
"kau sudah tahu semua tentang kami dan juga markas ini, jika kau tak bergabung maka kau harus ku bunuh agar tak menyebarkan informasi!" ucap Lepi dengan nada tegas dan tampak serius.
"tchi.... dasar kuno." balas Erwin sambil memutar bola mata-nya dengan malas.
"apa maksud-mu?" tanya Lepi saat melihat ekspresi Erwin yang tampak malas.
"bukan-kah sudah ku bilang? aku akan bekerjasama dengan kalian!" ucap Erwin dengan lantang.
Mendengar perkataan Erwin itu membuat Lepi hanya tertawa kecil seolah tak percaya dengan ucapan Erwin.
"bukan-kah sama saja jika aku bergabung dengan kalian? tentu aku tetap bisa berkhianat untuk bisa masuk keanggotaan Elang Hitam secara legal." balas Erwin menanggapi Lepi.
"sebenar-nya itu sedikit berbeda, karena jika kau bergabung, maka sudah pasti mereka akan menghukum-mu apa pun alasan-mu!" tegas Lepi.
"dasar bod*h! apa kau pikir aku adalah orang yang akan mengambil keputusan yang keberhasilan-nya kurang dari lima puluh persen itu? kau pikir dengan aku menghianati kalian Elang Hitam yang sudah ku bantai itu akan menerima-ku dan memaafkan-ku!? jangan naif!!" bentak Erwin sambil menghentak-kan pistol-nya dan membuat Lepi tersentak kaget. lalu Erwin langsung menimpali ucapan-nya. "Elang Hitam itu bukanlah kelompok naif seperti yang kau pikirkan! jika kau masih berpikir se-naif itu, biar aku saja yang memimpin kelompok-mu!" tegas Erwin dan membuat Lepi terbelalak.
"jangan seenak-nya kau berkata seperti itu!" bentak Lepi sambil berdiri dengan cepat dan tetap menodongkan pistol-nya pada Erwin.
Erwin yang melihat reaksi Lepi tentu-nya langsung mengerti dengan apa yang Lepi pikirkan Lepi, dan ia juga makin yakin dengan pendapat-nya tentang tujuan Lepi menemui diri-nya secara khusus.
__ADS_1
lalu Erwin melebarkan senyum-nya dan menatap Lepi dengan senyuman yang menunjuk-kan bahwa diri-nya telah menang.
lalu Erwin langsung membalik-kan pistol-nya dan mengarahkan mulut pistol-nya sendiri ke arah-nya.
"tembak aku jika kau memang ingin kehilangan calon pemimpin cabang yang berpotensi!" ucap Erwin dengan tegas sambil menunjuk-kan senyum kemenangan.
Mendengar ucapan Erwin membuat Lepi terkejut dan langsung melebarkan bola mata-nya dengan ekspresi yang tampak tidak percaya.
"di-dia ingin bunuh diri? apa-apaan anak ini?!" ucap Lepi dalam hati sambil menunjuk-kan ekspresi terkejut-nya.
Lepi saat ini bimbang karena apa yang di sebutkan Erwin sebelum-nya memang benar. karena tujuan awal Lepi memang ingin menjadikan Erwin sebagai bawahan langsung dari-nya dan memimpin kelompok cabang yang ia buat. Lepi sebenar-nya sudah tertarik pada Erwin sejak pertama bertemu, dan ia makin yakin dengan potensi Erwin setelah berhadapan dengan Elang Hitam di ruang bawah tanah. dan kini, ia makin yakin karena kemampuan Erwin yang berhasil menebak semua jalan pikiran-nya dengan mudah.
"aku tidak akan terkejut kalau dia tahu tujuan-ku adalah merekrut-nya jadi anggota! tapi tidak ku sangka dia bahkan tahu kalau aku juga berniat menjadikan-nya sebagai pimpinan cabang?!" ucap Lepi membatin. lalu Lepi menimpali perkataan-nya saat melihat sebuah pematik Bom di tangan Erwin. "dia masih punya bom rupa-nya! itu arti-nya dia tidak-lah bunuh diri, tapi justru ingin mengajak-ku mati bersama!"
Sementara itu, Erwin yang melihat Lepi yang tampak kebingungan kini hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala-nya pelan.
"meskipun sebelum-nya aku sudah pakai semua bom-ku, tapi aku yakin kau tetap tidak akan menembak-ku karena masih ada kemungkinan bahwa aku memang masih menyimpan satu atau dua bom!" ucap Erwin dalam hati.
Sebenar-nya Erwin sudah kehabisan bom saat di ruang bawah tanah, dan pematik Bom yang di pegang-nya saat ini hanya-lah untuk menggertak Lepi karena Erwin sudah tahu bahwa Lepi tak mau mati sia-sia hanya karena konflik kecil dengan siswa SMA seperti-nya.
"bagaimana kau bisa tahu aku ingin menjadikan-mu ketua cabang?" tanya Lepi dengan serius.
"itu karena kau punya kelompok yang banyak dan tentu sulit di atur, selain itu, kau sebelum-nya bilang kalau tak ada yang bisa menyadari trik-mu saat kau menggunakan-nya. itu arti-nya, tak ada anggota-mu yang benar-benar lebih kuat dari-ku. dengan begitu semua-nya jelas bukan?" ucap Erwin menjelaskan panjang lebar.
note: penjelasan Erwin saya persingkat karena mungkin pembaca bosan dengan percakapan basa-basi.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Erwin tentu-nya membuat Lepi sekali lagi terkejut dan melebarkan mata-nya.