Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Buronan Elang Hitam


__ADS_3

setelah tiga setengah jam berlalu, akhir-nya Airin selesai membuat tato di seluruh tubuh Erwin yang terdapat bekas luka, dan kini tidak ada lagi bekas luka yang tampak karena bekas luka itu sudah menyatu dengan motif-motif tato itu.


"baiklah, sudah selesai." ucap Airin sambil menyeka keringat di dahi-nya.


"wah, lumayan lah." ucap Erwin sambil tersenyum melihat tato di tubuh-nya melalui sebuah cermin yang ada di depan-nya.


"terima kasih sudah membantuku." timpal sambil menoleh pada Airin dengan senyuman yang ramah.


"iya sama-sama." jawab Airin sambil membalas senyuman Erwin.


kemudian Erwin langsung berdiri dari duduk-nya dan langsung mengambil baju-nya.


setelah memakai baju-nya, ia langsung berjalan mendekati Airin yang sedang merapikan peralatan yang di gunakan-nya untuk membuat tato di tubuh Erwin tadi.


"jadi berapa jumlah yang harus ku bayar untuk tato ini?" tanya Erwin sambil menepuk pelan pundak Airin.


Airin sedikit tersentak karena Erwin yang tiba-tiba menepuk pundak-nya dari belakang.


setelah itu Airin langsung menoleh sambil tersenyum.


"kau tak perlu membayar kok, anggap saja ini bantuan dari-ku, jadi jika suatu hari nanti aku membutuhkan bantuan, maka aku juga akan meminta tolong pada-mu." jawab Airin dan kembali merapikan peralatan tato-nya.


*******


saat ini Erwin sudah keluar dari rumah Airin, ia sekarang sudah beranjak pulang ke rumah-nya dan mengendarai motor-nya dengan santai.


saat ini Erwin sudah tidak bersama Lisa lagi karena Lisa memilih untuk menginap di rumah Airin.


di perjalanan Erwin terus memikirkan tentang pembunuhan yang sudah dia lakukan terhadap lima orang anggota Elang Hitam.


ia terus kepikiran karena menurut-nya kemungkinan akan ada anggota Elang Hitam yang akan mencari dalang dari pembunuhan yang ia lakukan.


setelah itu ia pun teringat bahwa tuan Rogo (penjual senjata) sudah mengenali wajah-nya, dan bagi Erwin, tidak menutup kemungkinan kalau Rogo memiliki koneksi dengan Elang Hitam.


setelah memikirkan semua kemungkinan yang ada, Erwin pun segera membuat persiapan sebisa-nya untuk datang ke daerah kumuh tempat Rogo menjual senjata api ilegal.


*******

__ADS_1


di sebuah daerah kumuh tampak tiga orang pria dengan pakaian serba hitam berjalan menuju sebuah kafe kecil yang ada di daerah itu.


setelah tiba di kafe itu, ke tiga pria itu langsung masuk dan menemui pegawai yang sedang bekerja di kafe itu.


"di mana pemilik kafe ini?" tanya anggota Elang Hitam yang berdiri paling depan tanpa basa-basi.


lalu pegawai yang bernama Bosu itu melirik pria itu dengan tatapan yang terlihat sedikit serius. ia kemudian melihat di belakang pria itu ada dua orang anggota Elang Hitam yang sedang bersama-nya.


hal itu pun membuat Bosu berpikir bahwa besar kemungkinan pria yang berdiri di depan-nya ini adalah salah satu orang penting di kelompok Elang Hitam.


"ada keperluan apa kalian dengan bos-ku?" tanya Bosu dengan tatapan yang sinis.


tak lama setelah Bosu berkata seperti itu, tiba-tiba sebuah pistol sudah di todong-kan tepat di depan wajah-nya.


Bosu terkejut dan langsung mengangkat kedua tangan-nya setinggi kepala-nya dengan ekspresi yang tampak sedikit panik.


tak lama kemudian seorang pemuda yang seusia Erwin muncul dari salah satu pintu dan memasuki ruangan itu. pemuda itu adalah Muru.


"hei ada apa rib.....ut-ri...." ucapan Muru melambat dan akhir-nya terhenti sebelum perkataan-nya selesai.


"apa yang kalian ingin-kan?!" tanya Muru dengan tegas sambil melirik tajam tanpa memutar kepala-nya.


anggota Elang Hitam yang menodong-nya itu merasa kesal melihat tatapan tajam Muru yang terkesan tidak takut terhadap mereka.


lalu pria yang menodong Muru itu pun langsung memukul kepala Muru menggunakan pistol hingga Muru terjatuh ke lantai dan menabrak beberapa kursi dan meja yang ada di sana.


saat Muru kembali menoleh untuk melihat ke arah pria itu, sebuah pistol sudah siap di tembak-kan ke wajah-nya. hal itu pun membuat Muru terpaksa menunduk-kan kepala-nya sambil menyembunyikan rasa kesal-nya.


Bosu yang melihat tindakan sia-sia Muru itu hanya bisa menggelengkan kepala-nya.


"dasar anak kecil, dia sama sekali tak bisa paham pada situasi." batin Bosu dengan ekspresi lesu.


"bisa jelaskan tujuan kalian tuan-tuan?" tanya Bosu dengan nada sopan agar tak menyinggung perasaan ketiga pria berpakaian hitam itu.


"panggil saja bos-mu sekarang! kami hanya ingin berbicara dengan-nya!" ucap pria yang berdiri di depan Muru dengan nada memerintah dan tetap menodongkan pistol-nya.


"tidak perlu bersuara keras begitu!"

__ADS_1


terdengar suara yang lantang di telinga mereka, dan seketika mereka semua terdiam sesaat.


lalu mereka menoleh ke arah muncul-nya suara itu, dan mata mereka mendapati Rogo yang baru saja keluar dari ruangan-nya.


"apa yang kalian ingin-kan dari-ku?" tanya Rogo yang baru datang dan langsung menghampiri mereka.


"kami ingin menanyakan tentang kematian lima anggota Elang Hitam." tanya pria yang menodong Bosu tanpa basa-basi.


lalu pria yang menodong Bosu itu langsung menurunkan senjata-nya dan berjalan santai mendekati Rogo.


Rogo yang juga berjalan ke arah-nya langsung bertemu dan berpapasan di tengah-tengah.


"tampak-nya kalian sudah mengetahui dalang dari kematian lima anggota kalian itu." ujar Rogo dengan santai-nya.


"kami belum tahu secara pasti, karena itulah kami datang ke sini untuk memastikan-nya!" ucap pria itu dengan lantang.


"baiklah, kalau begitu ikuti aku ke ruangan-ku, akan lebih baik jika kita membicarakan-nya di sana." ucap Rogo yang kemudian berjalan ke ruangan-nya, dan langsung di ikuti oleh pria itu.


******


saat ini Erwin tampak sedang mempersiapkan sesuatu di rumah-nya. setelah itu Erwin keluar dari rumah-nya. ia kemudian menghubungi Nirmala menggunakan ponsel-nya.


setelah berbicara dengan Nirmala, ia pun melesat menggunakan motor-nya.


tujuan Erwin kali ini adalah hotel tempat Nirmala tinggal.


Erwin tampak sedikit terburu-buru dan terus memacu motor-nya.


******


saat ini sudah hampir setengah jam Rogo berbicara dengan anggota Elang Hitam di ruangan-nya. dan tak lama kemudian mereka pun keluar dari ruangan Rogo.


"terima kasih atas informasi-nya, hari ini kalian masih bisa bernafas lega, tapi jika kalian macam-macam maka kami tidak akan segan-segan pada kalian!" ucap salah satu pria itu dengan tatapan yang masih terlihat angkuh.


"tenang saja tuan-tuan, kami tidak akan pernah membohongi dan menghianati kalian." balas Rogo dengan nada yang sopan.


"baiklah! sampai jumpa!" ucap salah satu pria itu dan mereka semua langsung berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2