
Setelah beberapa saat kemudian, pria empat itu langsung meluruskan tubuh-nya dan menatap Erwin dengan tenang.
"dari pergerakan-mu sebelu-nya, aku yakin kau seorang pengguna bela diri. benar kan?" ucap pria empat memastikan.
"ya, itu benar!" jawab Erwin tanpa berbohong sedikit pun.
"berdasarkan pantauan ku, kau adalah penggunaan bela diri Krav Maga, benar kan?" tanya pria empat lagi.
"kau salah!" jawab Erwin dengan lantang dan membuat pria empat sedikit tersentak. lanjut-nya, "sebelum-nya ku pikir kau bisa tahu tentang bela diri yang ku miliki, namun ternyata kau masih salah mengira.... selain itu, dari yang ku lihat kau ini pengguna bela diri silat kan?" ucap Erwin memastikan.
Mendengar tebak-kan Erwin itu membuat pria empat sedikit tersentak karena terkejut.
"rupa-nya dia bisa menebak-nya dengan benar." ucap pria empat dalam hati.
"meski kau pengguna silat, tapi tidak ku sangka kau selemah ini." ucap Erwin dengan santai.
"tcih.... jadi kau berpikir Krav Maga itu lebih kuat dari silat hah?!" bentak pria empat dengan kesal.
"sudah ku bilang kau salah.... aku bukan pengguna Krav Maga." ucap Erwin dengan tenang.
"kalau kau penasaran...." ucap Erwin memberi jeda dan kemudian langsung pasang sikap bertarung ala silat. "biar ku tunjuk-kan bela diri yang ku kuasai pada-mu." ucap Erwin sambil tersenyum licik.
Pria empat yang melihat sikap kuda-kuda silat yang di gunakan Erwin, pria empat itu pun makin terkejut. ia bahkan sempat mundur ke belakang karena diri-nya mulai panik.
"i-itu kuda-kuda silat! seperti-nya kemampuan silat-nya jauh lebih kuat dari-ku!" ucap pria empat dalam hati dengan ekspresi panik.
Tanpa banyak basa-basi, Erwin pun langsung maju.
ketika Erwin berada dekat dengan pria itu, Erwin langsung memutar tubuh-nya sambil menendang.
Pria empat yang melihat itu langsung mundur selangkah untuk menghindar, dan kemudian maju lagi untuk melayangkan tinju.
Erwin pun langsung menangkis tinju itu dan menepis-nya ke samping seraya melakukan pukulan ke arah tenggorokan pria itu.
Pria itu dengan refleks menahan pukulan Erwin menggunakan siku tangan-nya. lalu ia mengangkat kaki-nya untuk menendang ulu hati Erwin.
namun Erwin dengan cepat memutar tubuh-nya untuk menghindar sembari mengayunkan tangan kanan-nya ke dagu pria empat.
"sial!" ucap pria empat yang tak sempat menghindar.
__ADS_1
~BRUAKKH~
Pria empat itu terkena telak dan ia terdorong mundur selangkah.
Erwin tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menendang kaki pria empat yang membuat pria itu hampir jatuh.
setelah itu dengan cepat Erwin menjambak rambut pria itu dan menarik-nya kebawah sambil mengangkat lutut-nya ke atas sehingga kepala pria itu terbentur dengan sangat kuat ke lutut Erwin.
hal itu pun membuat pria itu langsung hilang kesadaran dan langsung jatuh tersungkur di lantai.
Sementara itu, di balik tembok, tampak seorang pria yang juga seusia Erwin tampak sedang memperhatikan pertarungan Erwin tadi.
setelah Erwin mengalahkan empat pria yang ada di sana, pria yang bersembunyi itu pun langsung menelepon Toni.
"mereka berempat telah di tumbangkan. aku akan maju sekarang." ucap pria tujuh yang bersembunyi itu.
[baiklah, hajar dia sekarang! tapi jangan mengalahkan-nya! buat dia makin lelah agar aku bisa dengan mudah membalaskan dendam-ku!] ucap Toni memerintah.
"baiklah! akan ku lakukan!" jawab pria tujuh dengan ekspresi yang serius.
~HUA!!~
Teriak pria tujuh saat diri-nya menutup telepon dan melihat Erwin yang sedang berdiri di samping-nya sambil menunggu ia selesai menelpon.
"aku merasakan aura yang sangat berbahaya yang terpancar dari orang ini!" ucap pria tujuh dalam hati dengan ekspresi yang mulai panik.
"jadi kau juga ingin melawan-ku hingga aku kelelahan?" tanya Erwin sambil tersenyum tipis yang penuh makna.
******
Saat ini Toni sedang berjalan keluar dari ruangan yang ia tempati untuk menyekap Petra.
saat ia keluar dan berdiri di luar pintu, ia langsung membalik-kan badan-nya dan menatap ketua geng dengan tatapan serius.
"tolong perhatikan dia! jika dia macam-macam, kau boleh menghabisi-nya." ucap Toni yang tampak bersemangat.
"terserah kau saja!" ucap ketua geng itu dengan tenang.
Setelah itu Toni langsung pergi dari tempat itu dan langsung menuju ke tempat Erwin yang saat ini sedang menghadapi pria tujuh.
__ADS_1
Saat Toni telah pergi, ketua geng itu langsung berdiri dan berjalan ke arah Petra.
"orang lemah seperti-mu memang selalu tertindas ya?" ucap ketua pada Petra.
namun Petra masih terus menunduk seolah masih hilang kesadaran.
"tak perlu berpura-pura Bangs@t! aku tahu kau sudah sadar dari tadi." bentak ketua dengan penuh emosi sambil meremas kerah baju Petra dengan kasar.
Petra yang mendapati tindakan itu pada diri-nya tentu merasa terusik.
Petra kemudian perlahan membuka mata-nya dan mengangkat wajah-nya untuk menatap si ketua, dan saat ia sudah menatap ketua itu, ia langsung tersenyum licik pada ketua itu sambil menatap-nya dengan tatapan yang menyeramkan.
Ketua yang merasa kesal tentu jadi makin kesal melihat tingkah Petra.
hal itu pun membuat si ketua langsung melayangkan tinju-nya ke wajah Petra dengan kekuatan penuh.
*****
Di sebuah koridor bangunan yang rusak itu, tampak Toni sedang berjalan dengan senyuman licik yang terukir di wajah-nya.
saat ini Toni sudah percaya diri untuk menghabisi Erwin. diri-nya tampak sangat bersemangat untuk hal itu dan tangan-nya juga sedari tadi terus di kepalkan dengan sangat erat hingga mengeluarkan bunyi.
"kali ini dia benar-benar akan ku hajar sampai mampus!" batin Toni sambil berseringai.
Setelah mengatakan hal itu, dengan senyum percaya diri-nya Toni langsung berlari dengan penuh semangat sambil berteriak histeris ke tempat pertarungan Erwin dan pria tujuh.
setelah itu, Toni pun langsung melompat dengan harapan agar diri-nya muncul di hadapan Erwin dengan cara yang sangat keren seperti di film-film.
Saat Toni mendarat di lantai, ia langsung merasa seolah sedang memenangkan sesuatu dan tersenyum dengan angkuh.
"apa kau sudah gila?"
Terdengar suara seseorang dari belakang Toni dan membuat Toni langsung diam dan berhenti berteriak histeris.
selain itu, wajah Toni yang sebelum-nya terlihat sangat senang kini berubah jadi jelek ketika mendengar suara itu.
Lalu Toni pun langsung menoleh ke belakang-nya dan mendapati Erwin yang sedang duduk santai di atas tubuh para anggota-nya yang sudah tak sadar dan di tumpuk di tempat itu.
"aku tanya, apa kau sudah gila sampai-sampai berteriak seperti orang bodoh begitu?" ucap Erwin dengan nada mengejek sambil tersenyum tipis dengan tatapan yang menyeramkan.
__ADS_1
Toni yang melihat hal itu tentu-nya langsung terkejut dan melebarkan mata-nya.
"yang benar saja! kenapa malah dia yang muncul dengan cara keren di hadapan-ku?!" ucap-nya kesal.