
Saat ini di kantin tampak banyak siswa yang sedang makan, dan di salah satu meja terdapat beberapa teman Santi yang juga sedang duduk makan sambil membicarakan sesuatu.
"apa Santi tak memberi kabar atau alasan kenapa ia tak hadir hari ini?" tanya salah satu teman Santi yang bernama Seli.
"tidak, dia sama sekali tak memberi kabar apa-apa." jawab Dian yang duduk di depan-nya.
"hmm.... semoga saja dia tidak sakit." balas Mia yang kemudian meminum air di gelas-nya.
"hmm.... semoga saja begitu." timpal Seli.
"oh iya, apa kalian sudah melihat berita yang menarik hari ini?" tanya Dian.
"hah.... maaf aku tak suka nonton berita." jawab Mia dengan nada lesu.
"hei... berita ini tidak membosan-kan.... berita ini tentang seorang pahlawan bertopeng yang menyelamatkan seorang gadis yang di culik dan hendak di jadikan 'budak naf$u'." ucap Dian memperjelas.
Sementara itu, Seli dan Mia yang mendengar ucapan-nya langsung tersentak dan mereka berdua tersendat bersamaan.
lalu dengan cepat Seli dan Mia mengambil air dan meminum-nya.
"yang benar saja.... berita itu terdengar lucu namun ada bagian ironis-nya." ucap Seli.
"ya benar! apa-apaan itu pahlawan bertopeng.... terdengar sangat norak.... hahahaha." timpal Mia sambil tertawa.
Sementara itu, Petra yang saat ini duduk tidak jauh dari mereka tentu-nya bisa mendengar pembicaraan mereka, dan saat mendengar pembicaraan tentang 'pahlawan bertopeng', Petra pun langsung menunduk lesu.
"hah.... aku juga setuju! itu terdengar norak sekali!" batin Petra sambil berusaha menahan tawa-nya.
"yah.... meskipun norak tapi jika berita itu benar berarti dia cukup berjasa karena sudah menyelamatkan seseorang." jelas Seli.
"hmm.... seperti-nya ini yang terbaik." ucap Petra dalam hati sambil mengunyah makanan-nya. lanjut-nya, "karena di berita itu tak di ceritakan tentang siapa gadis yang di culik itu.... dengan begini, Santi bisa terus merahasiakan kejadian ini dari teman-teman-nya..... karena jika ada yang tahu hal ini, maka bisa-bisa orang-orang akan berpikir bahwa dia sudah di lecehkan dan sudah kehilangan kesucian-nya." ucap Petra dalam hati.
******
Sore ini, tampak sebuah taxi berhenti tepat di depan rumah Airin.
lalu dari dalam taxi itu Airin dan Erwin keluar sambil membawa barang bawaan mereka.
"hah.... akhir-nya bisa sampai di rumah juga." ucap Airin sambil menghela nafas.
"hmm... kau benar." balas Erwin sambil mengangguk sekali.
Setelah itu mereka berdua pun langsung masuk ke dalam rumah.
sementara itu, saat di dalam rumah, Erwin langsung duduk di sofa ruang tengah, sementara Airin langsung ke kamar-nya dan menyimpan barang-barang-nya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Airin kembali ke ruang tengah sambil membawa secangkir kopi dan meletak-kan kopi itu di atas meja tepat di depan Erwin.
"silahkan di minum." ucap Airin mempersilahkan.
"hmm.... terimakasih." jawab Erwin yang kemudian meminum kopi tersebut.
"oh iya, apa kau memiliki bayangan tentang orang yang di maksud oleh kakek-ku?" tanya Erwin sambil meletak-kan kopi di atas meja.
Airin hanya menggeleng-kan kepala-nya.
"aku tidak tahu.... lagi pula apa yang di katakan kakek-mu itu bisa berarti banyak." ujar Airin.
"ah.... benar juga, lagi pula orang yang berada di sekitar kita bukan hanya satu, bisa jadi itu tetangga, orang asing di sekitar kita, atau bahkan teman kita.... inti-nya masih belum pasti." ucap Erwin dengan nada mengeluh.
"uhmm.... sebaik-nya kita jangan asal menuduh." balas Airin.
Setelah itu mereka berdua pun mulai membicarakan topik-topik yang ringan sambil mencairkan suasana.
Setelah beberapa lama berbincang dengan Airin, kini Erwin berpamitan untuk kembali ke rumah-nya.
"baik-lah, aku pulang dulu." ucap Erwin sambil tersenyum pada Airin yang saat ini sedang membuka-kan gerbang rumah untuk-nya.
"iya, hati-hati di jalan." balas Airin sambil tersenyum.
Setelah itu Erwin pun langsung mengendarai motor-nya dan berlalu dari tempat itu.
setelah itu ia langsung berbaring sejenak.
beberapa saat kemudian ia meraih ponsel-nya dan langsung menelpon Santi.
Di sisi lain, Santi yang saat ini sedang mengurung diri di kamar-nya mendengar ponsel-nya berdering.
ia kemudian melihat bahwa nomor yang memanggil adalah nomor baru.
Santi yang masih merasakan trauma dengan kejadian kemarin tentu-nya merasa ragu untuk mengangkat telepon itu.
hingga akhir-nya ponsel-nya berhenti berdering.
setelah itu ia langsung menghela nafas panjang.
Tak lama setelah itu handphone-nya berdering lagi, dan nomor yang memanggil tetap nomor yang tadi.
lalu Santi pun mulai mengumpulkan keberanian-nya untuk mengangkat telepon itu.
[halo Santi, apa aku mengganggu-mu?] ucap Erwin melalui telepon itu.
__ADS_1
Sementara itu, Santi yang menyadari bahwa itu adalah suara Erwin kini langsung menghela nafas lega.
"boleh aku tahu aku bicara dengan siapa saat ini?" tanya Santi ingin memastikan.
Sementara itu, Erwin yang mendengar pertanyaan Santi langsung tersadar dan menepuk jidat-nya.
"astaga, aku lupa kalau di garis waktu ini aku belum bertukar nomor dengan Santi." ucap Erwin dalam hati.
note: Erwin menelepon Santi karena ia menghafal nomor handphone Santi saat diri-nya belum menggunakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.
"ah maaf, ini aku, Erwin.... apa kau tak mengenali suara-ku?" tanya Erwin.
[aku mengenali-nya kok, aku hanya ingin memastikan karena ini nomor baru] ucap Santi melalui telepon.
"oh begitu ya...." ucap Erwin sambil bangun dan duduk di atas ranjang. "ehm... apa aku tak mengganggu sekarang?" tanya Erwin.
[tidak, kau tidak mengganggu.] balas Santi melalui telepon.
Kemudian Santi berbaring di atas ranjang-nya sambil meletak-kan handphone-nya di dekat telinga.
[jadi bagaimana kabar-mu saat ini?] tanya Erwin melalui telepon
Santi yang mendengar pertanyaan itu langsung terdiam sejenak, dan sesaat kemudian ia berusaha menenangkan diri lalu kembali menjawab pertanyaan Erwin.
"aku baik-baik saja, bagaimana dengan-mu?" jawab Santi yang kemudian kembali bertanya.
[oh baguslah, aku juga baik-baik saja sekarang.] jawab Erwin melalui telepon.
"syukur lah kalau begitu, oh iya, kenapa kau masih belum masuk sekolah? padahal kan waktu hukuman-mu sudah selesai." tanya Santi.
[hahahaha.... kau sampai menanyakan hal itu, apa kau merindukan-ku?] tanya Erwin dengan nada penuh percaya diri.
Santi yang mendengar perkataan Erwin langsung tersentak dan tersipu malu. wajah-nya langsung memerah dan dia hampir salah tingkah.
"ehm.... anu.... bukan begitu, aku hanya sekedar bertanya saja, tidak lebih dari itu." jawab Santi yang berusaha menenangkan pikiran-nya.
[oh begitu ya.... maaf, seperti-nya aku terlalu percaya diri sampai menanyakan hal itu.] balas Erwin.
Setelah itu mereka berdua mulai membicarakan topik-topik ringan dan banyak berbasa-basi hingga hari mulai gelap.
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1