
Saat ini Tono Sutirno (ketua cabang divisi 3) tengah menatap anggota-nya yang saat ini sedang duduk di depan-nya.
setelah Tono menanyakan tentang berita itu pada anggota-nya, maka anggota itu langsung menjelaskan semua yang terjadi pada kelompok pencari yang mereka kirim.
setelah mendengar secara rinci, kini Tono hanya bisa memijat pelan kepala-nya sambil menghela nafas dengan raut wajah yang tampak lesu.
"hah.... ini benar-benar merepotkan!" ucap Tono dengan malas.
"ya, aku sependapat dengan anda! akan tetapi kita harus tetap melakukan pencarian dan membalaskan dendam terhadap anggota-anggota kita yang telah di bunuh oleh mereka." jelas anggota yang sedang duduk di depan Tono.
"ya, kau benar! jika kita tidak membunuh orang itu maka nama baik divisi 3 akan terancam di mata pimpinan cabang." balas Tono membenarkan dan kemudian langsung menimpali perkataan-nya. "untuk sekarang cari tahu lebih detail tentang pelaku pembantaian itu secara diam-diam. jika kau dan anggota lain-nya sudah mengetahui identitas-nya, jangan langsung menyerang! usahakan menghubungi-ku agar kita bisa atur rencana sebelum melakukan serangan." jelas Tono.
"tapi dari yang ku dengar dari ketua tim pencari sebelum-nya, pelaku hanyalah bocah berusia 17-an tahun, terlebih lagi dia hanya sendirian." balas anggota itu dengan serius memandang Tono.
"walaupun hanya bocah, kita tak bisa lagi terus meremehkan-nya! bukti-nya sekarang dia sudah berhasil membantai lebih dari 30 anggota Elang Hitam di divisi kita! apa dengan kebenaran itu kau masih mau meremehkan lawan-mu hah?!" ucap Tono dengan tegas sambil pasang ekspresi yang tampak kesal, serta ia juga memukul meja menggunakan tangan-nya.
Sementara itu, anggota yang melihat tono yang tampak marah tentu-nya terkejut dan mulai panik.
"ma-maafkan aku, aku tak bermaksud unt...." ucapan anggota itu terhenti.
~BRAAAK~
Sekali lagi Tono memukul meja dengan keras dan membuat anggota di depan-nya itu tersentak dan langsung menelan ludah dengan kasar.
"apa kau tahu apa yang membuat seseorang mati dengan mudah dalam pertempuran?" tanya Tono pada anggota-nya sambil menatap dengan tatapan yang menyeramkan.
Sekali lagi anggota itu menelan ludah dengan kasar. lalu dengan ekspresi takut-nya itu ia mulai menggelengkan kepala-nya pertanda tidak tahu.
Tono yang melihat hal itu langsung menjawab. "yang membuat orang cepat kalah itu di sebabkan oleh rasa pandang enteng yang terlalu tinggi!" jelas Tono yang kemudian berdiri dan membelakangi anggota-nya sambil menyilangkan kedua tangan-nya di belakang pinggang.
"beri tahu pada semua anggota divisi 3 bahwa buronan utama kita adalah pelaku yang telah membunuh 30 lebih anggota kita!" ucap Tono dengan tegas tanpa menoleh. lanjut-nya, "selain itu, mulai hari ini tuan Anton Marius telah memberi-ku izin untuk menyerang kelompok penjual senjata ilegal yang di kelola oleh Lepi. karena mulai hari ini, Lepi bukan lagi sekutu kita, melainkan musuh kita!" jelas Tono panjang lebar.
__ADS_1
sedangkan si anggota yang mendapati perintah itu langsung mengangguk-kan kepala-nya pertanda ia paham dan siap menjalankan tugas.
******
Saat ini Erwin sudah berpamitan pada Lisa dan Airin untuk pulang ke rumah.
setelah berpamitan, kini Airin mengantar Erwin hingga di gerbang rumah, saat Erwin pergi tiba-tiba kerah baju Erwin di pegang dari belakang oleh Airin, sehingga Erwin terpaksa berhenti dan langsung menoleh pada Airin.
"ada apa?" tanya Erwin dengan ekspresi bingung.
"jangan jadikan aku alat." ucap Airin lirih sambil menunduk-kan kepala-nya karena tak ingin menatap Erwin.
"hmm? apa aku terlihat sedang memperalat-mu?" tanya Erwin sambil tersenyum.
"aku sering melihat kejadian seperti ini, saat seseorang mengetahui rahasia orang lain, maka ia akan menjadikan rahasia itu sebagai patokan untuk memperalat si pemilik rahasia." ucap Airin dengan ekspresi yang tampak sedih.
"seperti-nya kau ini korban sinetron ya?" tanya Erwin dengan nada mengejek.
Melihat reaksi Airin yang tidak biasa itu membuat Erwin mulai mengerti sesuatu.
"apa ia pernah mengalami hal seperti ini sebelum-nya?" ucap Erwin dalam hati.
setelah itu Erwin langsung tersenyum dan kemudian meletak-kan tangan kanan-nya di atas kepala Airin sambil mengelus kepala Airin dengan lembut.
"tenang saja, aku bukan pria yang suka macam-macam kok." ucap Erwin sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Erwin membuat Airin langsung mengangkat kepala-nya perlahan.
ia kemudian menatap mata Erwin dengan tatapan yang lembut dan sesaat kemudian ia langsung membuka mulut-nya.
"mata-mu itu sangat indah dan membuat perasaan-ku terasa hangat dan nyaman." ucap Airin sambil tersenyum manis pada Erwin.
__ADS_1
Erwin yang mendengar ucapan Airin itu tentu-nya langsung tersipu malu, terlebih lagi saat Airin menunjuk-kan senyum-nya yang dapat meluluhkan hati setiap pria yang melihat-nya. lalu Erwin dengan segera menepis pandangan-nya dari Airin karena wajah-nya mulai memerah.
Sementara itu, Airin yang melihat reaksi Erwin tampak berusaha menahan tawa kecil-nya, dan tanpa berkata apa-apa lagi, Airin langsung menutup gerbang rumah-nya dan langsung masuk ke dalam rumah-nya.
"kau satu-satunya yang akan mengendalikan pembunuh yang hidup dalam diri-ku!" batin Airin sambil pasang ekspresi serius setelah masuk dan menutup pintu rumah-nya.
Saat ini tak ada yang tahu apa maksud dari perkataan Airin tentang pembunuh yang hidup di dalam diri-nya. namu yang jelas-nya, perkataan itu muncul setelah ia mulai menatap mata Erwin dengan penuh konsentrasi saat mereka berbincang di gerbang sebelum-nya.
******
Saat ini di ruangan kerja Lepi, tampak Rogo dan kedua pegawai-nya sedang duduk berhadapan dengan Lepi di sebuah sofa. saat ini mereka sedang membicarakan perihal kerjasama mereka dengan Erwin.
"jadi bagaimana pendapat kalian?" tanya Lepi sambil menatap Rogo dan dua pegawai-nya.
"ku rasa itu bukan ide yang buruk. lagi pula dia itu memang cukup berbakat dan memiliki potensi, jadi akan lebih baik kita membiarkan dia melakukan apa yang dia inginkan." jawab Rogo yang kemudian menimpali perkataan-nya dengan cepat. "meskipun begitu, kita harus tetap menarik-nya pelan-pelan agar ia mau bergabung dengan kuta tanpa paksaan."
"ya kau benar sekali!" ucap Lepi membenarkan dan kemudian langsung menimpali perkataan-nya sambil pasang ekspresi serius. "selain itu, aku juga punya informasi yang harus kalian rahasiakan dari Erwin. informasi ini harus kalian beritahu pada semua anggota kita dan katakan bahwa kalian harus merahasiakan-nya dari Erwin.... untuk saat ini Erwin tak perlu tahu tentang informasi ini!" jelas Lepi.
Mendengar perkataan Lepi, Rogo dan dua pegawai-nya itu langsung menatap Lepi dengan serius.
"baiklah akan ku lakukan!" ucap Rogo yang tampak siap melakukan tugas. lanjut-nya, "jadi seperti apa Informasi yang harus kita rahasiakan itu?" tanya Rogo.
Setelah Rogo menanyakan tentang informasi itu, Lepi pun langsung membuka mulut-nya dan menjelaskan informasi itu.
Sementara itu, saat Lepi menjelaskan, tampak mereka bertiga melebarkan mata-nya dengan mulut yang menganga karena terkejut.
"apa anda yakin dengan hal itu?" tanya Rogo sambil tersenyum licik menatap Lepi setelah Lepi selesai menjelaskan semua hal kepada mereka.
"ya, aku cukup yakin! tapi ini hanya-lah tahap percobaan, jadi masih ada kemungkinan untuk mengganti-nya!" jelas Lepi sambil membalas seringai Rogo.
"anda ini benar-benar punya selera yang menarik!" balas Rogo sambil menyilangkan kedua tangan-nya di depan dada.
__ADS_1