
Saat ini, di ruang tengah tampak kakek dan nenek Erwin sedang duduk di sofa, dan di depan mereka tampak Airin dan Jasie duduk bersampingan di sofa.
"sudah-lah, kau tak perlu khawatir, kakek sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Erwin." ucap Jasie saat melihat Airin yang tampak masih khawatir.
"itu benar.... kau tak perlu khawatir." timpal kakek Erwin sambil menyilangkan kedua tangan-nya di depan dada. lanjut-nya, "lagi pula Erwin itu tidak akan bertindak ceroboh seperti itu.... jadi jika dia mengejar pelaku, itu arti-nya dia sanggup mengalahkan pelaku itu.... tapi jika ia tak bisa mengalahkan-nya, maka ia pasti akan melarikan diri sesegera mungkin." ucap kakek Erwin yang tampak percaya diri.
Mendengar penjelasan itu, Airin hanya diam dan menatap kakek dan nenek Erwin.
"uhm." gumam Airin sambil mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, Erwin langsung muncul di depan pintu dan memberi salam.
"selamat malam." ucap Erwin sambil masuk ke dalam rumah.
Mendengar suara Erwin, mereka semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Erwin.
"tuh kan, dia baik-baik saja." ucap Jasie sambil tersenyum.
"hahaha tadi-nya ku pikir kau sudah mati!" ucap kakek Erwin sambil tertawa menggelegar.
~BRUKK!!~
"diam-lah pak tua!" ucap nenek Erwin dengan lantang sambil tersenyum hambar dan memukul kepala kakek Erwin.
Sementara itu, Airin yang sedari tadi khawatir kini hanya bisa terkejut sekaligus merasa lega saat melihat keadaan Erwin yang saat ini tampak baik-baik saja. kemudian Airin tersenyum tipis dan tanpa ia sadari air mata-nya mulai mengalir lagi.
Erwin yang melihat hal itu jadi bingung. ia kemudian memiringkan kepala-nya dan bertanya pada Airin.
"ada apa?" tanya Erwin yang tampak bingung.
Airin sama sekali tidak menjawab. namun dengan tiba-tiba ia langsung berdiri dan menghampiri Erwin dengan cepat. setelah itu ia pun langsung memeluk Erwin dengan erat.
"ku pikir kau tak akan kembali." ucap Airin dengan lirih.
Mendengar perkataan itu membuat Erwin sadar apa yang membuat Airin jadi seperti itu.
"begitu ya.... maaf sudah membuat-mu khawatir." ucap Erwin sambil membalas pelukan Airin dan kemudian merapatkan dagu-nya di atas kepala Airin.
~CEKREK~
~CEKREK~
~CEKREK~
Suara kamera ponsel kakek Erwin terus terdengar, dan tampak saat ini kakek Erwin berpindah-pindah tempat hanya untuk memotret Airin dan Erwin yang sedang berpelukan.
"ini momen yang langka!" ucap kakek Erwin sambil tertawa cekikikan.
__ADS_1
~BRUAKK!!~
Sebuah tinju tepat mengenai wajah kakek Erwin, dan pelaku yang melayangkan tinju itu adalah nenek Erwin.
"cepat hubungi para murid-mu untuk berhenti mencari bod0h!" bentak nenek Erwin yang tampak kesal dengan tingkah suami-nya itu.
"ah iya-iya.... maaf-maaf." ucap kakek Erwin sambil tertawa hambar. setelah itu kakek Erwin menelpon para murid yang ia perintahkan untuk mencari Erwin.
Sementara itu, Erwin dan Airin yang melihat tingkah kakek dan nenek itu langsung tertawa kecil.
"bisakah kalian berdua berhenti berpelukan di depan-ku?" ucap Jasie yang saat ini tiba-tiba berdiri di samping Airin dan Erwin.
"ah! anu...!" ucap Airin sambil melepaskan pelukan-nya dari Erwin.
namun belum berhasil menjauhkan tubuh-nya dari Erwin, kini Erwin malah langsung menarik Airin sehingga tubuh Airin malah makin rapat pada Erwin.
lalu Erwin makin mengeratkan pelukan-nya pada Airin sambil tersenyum mengejek ke arah Jasie.
Melihat senyuman Erwin itu membuat Airin langsung mengetahui bahwa tujuan Erwin adalah untuk memanas-manasi Jasie.
Jasie yang melihat reaksi Erwin yang tampak mengejek-nya tentu jadi makin kesal.
lalu Jasie pun langsung berusaha memisahkan mereka berdua. namun sayang-nya tenaga-nya kalah jauh dari Erwin yang terus merangkul Airin dengan erat.
Setelah beberapa saat tak bisa memisahkan mereka berdua, Jasie pun menyerah.
kemudian ia menatap Erwin dengan tajam.
Airin yang melihat tindakan Jasie tentu sedikit terkejut.
ia merasa seolah Jasie sebenar-nya bukan kesal karena di panas-panasi karena diri-nya yang sedang jomblo. melainkan ia kesal melihat Erwin yang sedang berpelukan dengan gadis lain.
"eh? mana mungkin lah!" ucap Airin dalam hati sambil menepis pikiran-nya tentang Jasie
"hei kakek juga ikutan!" ucap kakek Erwin yang tiba-tiba datang dan memeluk Erwin dari belakang.
"yang benar saja! aku merasa makin gerah sekarang!" ucap Erwin yang kemudian langsung melepas pelukan-nya dari Airin.
setelah itu Erwin pun langsung melepaskan diri dari mereka bertiga.
"aku mau mandi! tadi aku banyak berkeringat karena mengejar orang aneh itu." ucap Erwin yang langsung berlalu dari tempat itu.
******
Di malam yang sama di pulau Kalimantan.
"aku sebenar-nya sudah mendengar rumor-rumor buruk tentang kelompok Elang Hitam di daerah ini!" ucap Petra dalam hati sambil berlari menyusup di sebuah ruangan.
__ADS_1
tak lama setelah itu muncul dua pria di sebuah koridor bangunan itu.
Petra yang melihat dua pria itu langsung menepi ke sebuah tiang beton yang ada di dinding.
Saat dua pria itu berada di dekat Petra, Petra dengan cepat menyergap mereka.
Petra langsung memukul belakang leher mereka dengan sangat kuat dan membuat mereka langsung hilang kesadaran.
Sesudah itu Petra langsung melanjutkan penyusupan-nya di gedung itu.
"dari yang ku dengar-dengar, gedung ini memiliki ruang tersembunyi tempat mereka melakukan kegiatan ilegal, tapi sayang-nya aku masih belum tahu persis di mana ruangan tersembunyi itu." batin Petra sambil berjalan cepat.
Setelah Petra tiba di sebuah pintu yang ada di koridor itu, Petra langsung perlahan mendekati pintu itu.
setelah itu dengan rasa penasaran ia mulai memastikan tak ada orang di sekitar-nya, dan setelah itu ia pun langsung membuka pintu itu secara perlahan.
"rupa-nya tidak di kunci!" ucap Petra dalam hati sambil pasang ekspresi yang tampak sedikit terkejut saat ia berhasil membuka pintu itu.
Sesudah itu Petra pun langsung masuk ke ruangan kosong itu dan mulai melangkah-kan kaki-nya secara perlahan.
Saat Petra tiba di tengah-tengah ruangan itu, tiba-tiba lampu di seluruh ruangan itu menyala, dan membuat Petra langsung tersentak melihat hal itu.
"sudah ku duga!" batin Petra yang kemudian tersenyum.
Di depan Petra saat ini tampak beberapa pria yang usia-nya jauh lebih tua dari Petra.
pria-pria itu memiliki tubuh yang jauh lebih besar dari Petra, dan mereka tampak berseringai licik serta menatap Petra dengan tatapan yang meremehkan.
"heh?.... jadi dia ini penyusupan-nya?"
"ku kira orang-nya lebih besar dari-ku... tapi kelihatan-nya dia jauh lebih lemah dari perkiraan-ku!"
"hahaha dia masuk ke kandang singa hanya untuk mempersembahkan nyawa!"
"bocah ini benar-benar sudah gila ya?"
"berani sekali dia mencari masalah dengan kelompok Elang Hitam!"
Berbagai opini terdengar dari mulut-mulut pria yang saat ini berdiri di depan Petra. namun Petra tampak tenang dan tidak terpancing atau pun takut terhadap mereka.
"jangan lengah!! bocah itu sudah banyak membunuh anggota kita!! dia adalah buronan tuan Tono!!" bentak salah satu yang memimpin mereka dengan suara tegas.
Mendengar hal itu pun membuat beberapa dari mereka diam dan tampak langsung waspada.
sementara beberapa lain-nya masih berisik karena menganggap bahwa Petra tidak mungkin bisa mengalahkan mereka saat ini.
note: mereka mengira Petra adalah Erwin.
__ADS_1
jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit.