Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Masalah Airin


__ADS_3

Setelah beberapa saat piton itu menggeliat, akhir-nya piton itu kini diam dan tak bergerak lagi.


Setelah si piton sudah mati, Erwin pun langsung mendekati piton itu dan langsung memasuk-kan piton itu ke dalam kantong yang besar dan kemudian langsung membuang-nya ke tempat sampah yang ada di samping halaman rumah Airin.


Setelah membuang ular itu, kini Erwin langsung membersihkan tangan-nya dan mencuci tangan-nya di dapur.


Saat Erwin sedang mencuci tangan-nya, Airin datang dan berdiri di depan pintu sambil menatap Erwin dengan ekspresi malu-malu.


Erwin yang menyadari kedatangan Airin langsung menoleh dan menatap Airin.


"ada apa?" tanya Erwin dengan suara pelan saat melihat ekspresi Airin yang tampak malu-malu.


"bo-boleh kah aku meminta satu hal lagi pada-mu?" tanya Airin sambil menunduk-kan kepala-nya dan menatap ke samping bawah.


"hm.... apa yang kau inginkan?" ucap Erwin menanggapi perkataan Airin.


"bi-bisakah kau mengobati punggung-ku? aku tak bisa melakukan-nya sendiri." jelas Airin yang masih tampak malu-malu dan membuat wajah-nya terlihat makin menggemaskan.


"eh?.... punggung-mu terluka?" balas Erwin yang terlihat terkejut.


******


Saat ini, di kamar Airin tampak Erwin sedang duduk di sebelah ranjang sambil memilih obat yang akan ia gunakan untuk mengobati luka Airin.


Sementara itu, saat ini Airin yang sedang setengah telanj*ng tampak berbaring dengan posisi menghadap ke bawah sehingga bagian dada dan perut-nya tertutup oleh kasur.


selain itu, ia juga menggunakan jaket untuk menutupi bagian depan tubuh-nya. ia sengaja hanya menutup bagian depan-nya saja agar bagian punggung-nya tetap terbuka lebar dan bisa membuat Erwin bisa lebih leluasa untuk mengobati punggung-nya yang mengalami luka gores yang cukup panjang namun tidak dalam.


"bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" tanya Erwin dengan nada yang tenang sambil membersihkan darah di bagian tubuh Airin yang tergores.


"AHH...." des@h Airin karena merasa perih saat Erwin membersihkan luka-nya.


"tolong jangan keluarkan suara aneh seperti itu." ucap Erwin dengan ekspresi yang mulai panik. namun Erwin tetap berusaha untuk terlihat tenang dan ia juga berusaha untuk tetap berpikir bersih.


"ma-maaf, aku tak sengaja." ucap Airin tanpa menoleh sambil menyembunyikan wajah-nya yang saat ini tengah memerah ke bantal.

__ADS_1


"ini benar-benar hal yang tak pernah terpikir oleh-ku.... lagi pula kenapa aku harus mengobati-mu di kamar?" tanya Erwin yang saat ini mulai membuka plester.


"maaf, tapi ini karena aku hanya menyimpan obat-obatan di kamar-ku saja.... selain itu, jika kau mengobati-ku di sini, aku bisa menutupi tubuh-ku dengan cara yang lebih nyaman bagi-ku." jelas Airin.


"nyaman bagi-mu tapi siksa bagi-ku!" ucap Erwin yang tampak sedikit kesal. lanjut-nya, "memang-nya bagaimana kau bisa mendapat-kan luka ini?" tanya Erwin.


"tadi saat di dapur, aku tidak sengaja mundur dan langsung berdiri, hal itu membuat punggung-ku tergores oleh sudut rak piring." jelas Airin sambil menoleh ke arah Erwin dengan wajah yang memerah dan tampak malu-malu.


Erwin yang melihat ekspresi Airin itu langsung menatap Airin dengan tatapan yang lembut.


"seperti-nya bukan aku saja yang merasa malu-malu di sini." ucap Erwin saat melihat ekspresi Airin yang menatap-nya dengan malu-malu.


"mungkin jika aku menganggap Airin sebagai adik-ku mungkin aku bisa mengobati-nya tanpa rasa canggung dan malu-malu seperti ini." ucap Erwin dalam hati.


setelah itu Erwin pun langsung mencoba menganggap Airin sebagai adik-nya dan sesudah itu ia langsung menempelkan plester itu pada luka Airin.


"baiklah, sudah selesai." ucap Erwin setelah menyelesaikan tugas-nya mengobati luka Airin.


Sesudah itu Airin pun langsung bangun dan duduk sambil menutupi tubuh bagian depan-nya menggunakan jaket dan selimut yang ada di atas kasur itu.


Erwin yang melihat senyuman manis itu hanya bisa membalas senyuman itu dengan senyuman-nya yang lembut.


lalu ia pun langsung membelai rambut panjang Airin dengan lembut.


"untuk sekarang kau istirahat saja dulu.... tidak perlu terlalu banyak bergerak agar luka-mu tidak mengeluarkan darah lagi." ucap Erwin mengingatkan. lanjut-nya, "baiklah, sekarang aku mau pulang dulu."


Setelah itu Erwin pun berdiri dari duduk-nya dan langsung memutar tubuh-nya serta mulai melangkah.


Baru satu kali melangkah tiba-tiba tangan Erwin langsung di genggam kuat oleh Airin.


"tu-tunggu dulu...." ucap Airin yang tampak malu-malu sambil melempar pandangan-nya ke samping bawah.


Erwin yang saat ini di hentikan oleh Airin tentu-nya langsung menoleh dan mendapati Airin yang terlihat seolah tak ingin ia pergi sekarang.


"apa kau merasa kesepian?" tanya Erwin yang asal tebak.

__ADS_1


Airin yang mendapati pertanyaan itu langsung sedikit tersentak. namun diri-nya masih malu-malu dan ragu untuk menatap Erwin.


hal itu di karenakan keinginan Airin saat ini adalah sesuatu yang cukup tidak wajar. terutama genre mereka sebagai laki-laki dan perempuan.


"ini benar-benar hal yang berat untuk ku ucapkan." ucap Airin dalam hati sambil memejamkan kedua nata-nya.


Sementara itu, Erwin yang tidak peka dengan keadaan hanya bisa memiringkan kepala-nya menatap Airin dengan ekspresi yang tampak meminta penjelasan.


"jujur saja! aku sangat ingin tahu apa yang akan terjadi jika Erwin menginap dan menemani tidur-ku malam ini?" ucap Airin dalam hati sambil sesekali menatap Erwin dengan malu-malu. lanjut-nya, "aku sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi pada diri-ku... tapi jika aku menjelaskan hal ini pada Erwin mungkin Erwin akan berpikir aku sudah gila... hal itu tentu justru membuat diri-nya akan menjauhi-ku dan mungkin tidak akan datang lagi pada-ku." ucap Airin dalam hati dengan perasaan yang bimbang dan sedikit panik.


Hingga akhir-nya, Airin pun tak bisa memutuskan untuk meminta Erwin menginap dan menemani-nya tidur.


ia merasa malu untuk mengatakan hal yang sebenar-nya karena diri-nya tak mau Erwin menganggap diri-nya aneh.


"berhati-hati lah di perjalanan pulang-mu." ucap Airin yang berusaha tersenyum manis ke arah Erwin.


Erwin yang melihat reaksi Airin itu langsung sedikit tersentak. ia kemudian menatap Airin dengan serius, dan diri-nya terlihat seperti menyadari sesuatu saat melihat Airin dengan seksama.


*****


Saat ini Erwin sudah berada dalam perjalanan pulang.


di atas motor yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, tampak Erwin sedang merenungkan tentang apa yang sedang terjadi pada Airin sebelum ia pulang tadi.


saat itu Erwin merasa ada yang janggal dari hal itu.


Ketika Erwin berbelok di sebuah persimpangan, tiba-tiba Erwin langsung melihat seorang yang sedang di buli oleh teman sekolah-nya.


mau di bilang teman rasa-nya kurang cocok, yang jelas-nya pria yang menggunakan seragam yang sama dengan SMA tempat Erwin bersekolah itu tampak sedang membuli seorang pemuda yang seumuran dengan-nya.


"aku benar-benar benci hal seperti itu!" ucap Erwin dalam hati dengan perasaan kesal.


Setelah itu Erwin pun memarkir motor-nya dan langsung mendatangi Toni yang sedang membuli pria itu.


"hentikan perbuatan-mu!" perintah Erwin dengan tatapan tajam dan mengintimidasi yang di arahkan kepada Toni yang melakukan pembulian itu.

__ADS_1


__ADS_2