
"apa-apaan itu? kenapa dia malah lewat pintu?" ucap Rimo sambil mengedutkan mata-nya.
"apa dia menghancurkan dinding hanya untuk pamer kalau dia sudah datang?" ucap teman Rimo yang bernama Sedi.
"entahlah.... tapi seperti-nya memang begitu!" balas Nurdin sambil mengangkat kedua bahu-nya.
Setelah kedatangan Petra di ruangan itu, Rimo pun mulai berseringai karena ia melihat tubuh Petra yang jauh lebih kecil dari diri-nya.
"hei cebol! ini bukan-lah taman bermain.... anak kecil tak boleh datang ke tempat seperti ini." ucap Rimo sambil tersenyum mengejek dan menunjuk Petra.
Petra yang melihat hal itu hanya diam, hingga sesaat kemudian Petra langsung menatap Rimo sambil tersenyum.
"maaf, aku tak punya urusan dengan om-om bau tanah seperti-mu." ucap Petra yang tampak santai sambil tersenyum.
Hal itu tentu membuat Rimo tersinggung dan langsung diam.
"om-om kata-mu?" ucap Rimo sambil tertawa kecil. lanjut-nya, "seperti-nya kau benar-benar cari mati!" ucap Rimo dengan tegas dan langsung berlari ke arah Petra.
Melihat Rimo yang langsung menyerang, Sedi dan Nurdin pun tidak tinggal diam.
mereka berdua pun langsung maju mengikuti Rimo dari belakang.
Petra yang melihat ke datangan Rimo hanya diam dan tampak sangat tenang.
"dia terlihat siap untuk bertarung kapan saja! aku tak boleh gegabah melawan-nya!" ucap Rimo dalam hati. lanjut-nya, "dari pengalaman-ku melawan Erwin.... orang yang tampak tenang tidak boleh di lawan dengan cara biasa!"
Setelah berada di dekat Petra, Rimo langsung mengayun tangan kanan-nya ke ulu hati Petra.
namun dengan cepat Petra menangkis dan menepis tinju Rimo ke samping.
"sudah ku duga!" batin Rimo sambil terbelalak.
"kalau begitu!" timpal Rimo dalam hati sambil memutar tubuh-nya dan langsung melakukan serangan menggunakan sikut-nya ke arah dagu Petra
Petra yang menyadari hal itu langsung menangkap sikut Rimo dengan tenang dan mudah.
sedetik setelah itu Sedi melayangkan tendangan ke arah Petra. namun dengan refleks yang cepat Petra langsung menghindar ke samping.
Saat berhasil menghindar, Petra langsung di sambut dengan sebuah tinju yang sangat kuat dari Nurdin.
namun Petra dengan cepat menunduk sambil bergerak ke samping depan untuk menghindari tinju itu.
__ADS_1
alhasil si Nurdin malah meninju angin.
Tak berhenti di situ. Nurdin yang tadi-nya gagal menyerang langsung menunduk, dan dari belakang Nurdin tampak Rimo melompat ke udara dengan menjadikan Nurdin sebagai batu pijakan.
Rimo pun kini mengarah ke arah Petra sambil menekuk kedua kaki-nya di depan dada agar tak ada cela bagi Petra untuk menyerang-nya saat di udara.
Petra yang melihat hal itu langsung tersenyum sambil melompat ke belakang untuk menghindar.
Ketika Rimo mendarat di lantai, Rimo langsung melakukan tendangan berputar yang tepat ke arah kepala Petra.
Petra pun langsung melangkah-kan kaki-nya selangkah ke belakang.
namun tak di sangka-sangka dari samping sudah ada Sedi yang langsung melayangkan tendangan lurus ke arah Petra.
namun dengan refleks-nya yang cepat Petra pun langsung membuka lebar kaki-nya sehingga tendangan Sedi hanya masuk ke antara kaki Petra.
tak butuh waktu lama, Petra langsung merapatkan kedua kaki-nya sehingga kaki Sedi tak bisa di tarik dari kuncian kaki Petra.
lalu dengan cepat Petra memutar kaki-nya dengan kuat dan membuat Sedi langsung menjerit kesakitan.
"kaki-ku!!" teriak Sedi sambil meringis karena pergelangan kaki-nya mengalami keseleo.
Kurang dari sedetik hal itu terjadi, sebuah tendangan berputar dari Rimo langsung mengarah ke ulu hati Petra. hal itu pun membuat Petra langsung melepaskan Sedi dan melompat ke belakang agar tendangan itu tidak mengenai-nya.
"mati kau sial@n!!" ucap Nurdin dengan ekspresi yang sangat kesal.
Meskipun semangat Nurdin dalam melakukan pukulan bertubi-tubi itu sudah makin membara, namun Petra tampak tetap tenang dan dengan cepat menangkis semua pukulan yang di arahkan Nurdin kepada-nya.
"kau baik-baik saja?" tanya Rimo sambil menunduk dan memegang bahu Sedi.
"rasa-nya kaki-ku sedikit keseleo! untuk sementara aku tak bisa bergerak dengan leluasa!" ucap Sedi sambil memegangi kaki kanan-nya dengan ekspresi yang masih meringis kesakitan.
Mendengar penjelasan itu, Rimo pun langsung berdecak kesal sambil menoleh pada Petra.
"tchi!! orang itu..... dari tadi kami sama sekali tak bisa menyentuh-nya! semua serangan yang kami lancarkan bisa dengan mudah ia tepis dan ia hindari!" ucap Rimo dalam hati dengan ekspresi yang tampak sangat kesal.
lalu Rimo pun langsung berdiri dan berlari ke arah Nurdin yang saat ini masih beradu tinju dengan Petra.
"dari tadi kau hanya menangkis dan menghindari serangan-ku? apa kau tak mau menyerang ha!!" bentak Nurdin sambil melakukan tendangan berputar ke arah Petra.
Petra pun segera menghindar. ia hanya diam saja dan tak menghiraukan perkataan Nurdin.
__ADS_1
Melihat reaksi Petra yang begitu datar membuat kemarahan Nurdin makin menjadi.
"apa kau meremehkan-ku ha!?" bentak Nurdin lagi sambil melayangkan tinju yang kuat.
namun reaksi Petra terhadap perkataan-nya tetap sama, yakni datar.
"apa-apaan kau ini!?" ucap Nurdin sambil melakukan tendangan salto ke arah Petra. "kau benar-benar cari mati!" bentak-nya dengan kesal.
Melihat tendangan salto itu, Petra pun langsung menjatuhkan tubuh-nya ke lantai sambil mendorong kaki-nya dengan kuat ke atas.
alhasil tendangan salto yang super keren dari Nurdin malah menghantam angin, sedangkan tendangan sederhana yang hanya terinspirasi dari sebuah senam lantai malah menghantam dua butir terlur yang selalu dibawa-bawa oleh Nurdin.
hal itu pun membuat Rimo langsung jatuh ke lantai dan langsung berguling sambil memegangi 'burung peliharaan-nya' dengan ekspresi yang tampak kesakitan.
tanpa ia sadari air mata-nya keluar meskipun ia tidak mengeluarkan suara tangisan.
note: 'burung peliharaan' hanyalah kata kiasan.
"nafas-ku tertahan!" batin Nurdin yang tampak panik dan kesakitan.
rasa sakit yang di rasakan Nurdin saat ini benar-benar sakit sampai-sampai nafas-nya tertahan karena berusaha menahan sakit itu.
Rimo yang melihat Nurdin yang tampak tersiksa itu makin kesal dan marah.
ia pun tidak tinggal diam dan langsung berlari cepat ke arah Petra.
Petra yang melihat Rimo berlari ke arah-nya langsung berseringai licik.
Melihat seringai licik itu membuat Rimo langsung tersentak dan berhenti berlari.
mata Rimo kini terbelalak seolah menyadari sesuatu.
"benar juga! orang ini tidak bertarung dengan emosi! karena emosi hanya bisa membuat-mu hilang kendali dan bergerak secara gegabah!" batin Rimo. yang kemudian menimpali-nya, "salah satu alasan Erwin berhasil mengalah-kan ku karena dia terlihat tenang dan tidak terbawa emosi sesaat!" batin-nya sambil menggertak-kan gigi-giginya.
Setelah itu Rimo pun langsung meluruskan badan-nya dan kemudian menarik nafas dalam-dalam melalui hidung. setelah itu ia menghembuskan-nya secara perlahan melalui mulut sambil berusaha menenangkan pikiran-nya.
Kini pikiran Rimo sudah tenang, dan ia pun langsung menatap Petra dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi.
"kali ini kau tidak akan ku biarkan lolos!" ucap Rimo dengan lantang dan dengan tatapan yang menyeramkan.
jangan lupa
__ADS_1
Like, Vote, komen, dan faforit.