
Pado mungkin tidak tahu bahwa di antara Erwin dan yang lainnya hanya Petra lah yang terkuat dan yang sudah pasti tidak akan bisa ia kalahkan meskipun harus ia lawan secara keroyokan dengan semua anggota gengnya.
'Kekuatan mutlak!', Itulah kata yang terbesit di benak pado saat melihat sosok Petra yang memberi intimidasi yang luar biasa pada dirinya.
Di sisi lain, kini Erwin sudah berdiri di hadapan pado dan siap untuk menghajar pado lagi karena pado yang keras kepala untuk pergi dari tempat tersebut.
"Apa kau masih belum paham situasi juga hah?" Tanya Erwin dengan ekspresi datar namun terkesan mengintimidasi.
Intimidasi itu pun berhasil tersampaikan pada Pado, alhasil Pado pun kini merasa sedikit ragu untuk kembali maju.
Namun karena ini adalah momen yang langka bagi Pado yang baru saja bertemu dengan lawan yang kuat, ia pun kini berusaha menghilangkan rasa takut itu dan kemudian bertekad untuk maju.
"Hahaha... Aku tidak akan mundur!... Akan ku lawan kalian sampai aku mampus sekalipun!" Ucap Pado membulatkan tekad.
Lalu Pado pun langsung berlari ke arah Erwin dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini.
Erwin yang melihat tindakan Pado kini hanya bisa geleng-geleng kepala.
Lalu Erwin pun segera melancarkan serangan yang sangat cepat begitu Pado berada di area jangkauannya.
Tinju yang sangat cepat itu pun tak sempat di hindari oleh Pado, alhasil kini rahang bawah Pado terkena pukulan tinju yang sangat kuat dan membuat Pado terlempar ke udara hingga akhirnya jatuh ke lantai.
BRUUKKK
Seluruh anggota Pado terkejut melihat kejadian itu, beberapa anggota yang saat ini masih tergeletak di lantai kini perlahan mencoba untuk berdiri dengan tekad melarikan diri dari tempat ini.
"Sial!... Dia tidak akan bisa kita lawan!"
"Lebih baik kita pergi dari sini!"
"Bocah sialan itu terlalu kuat!"
"Dia terlalu berbahaya untuk kita hadapi!"
Seketika seluruh anggota geng Pado langsung patah semangat untuk melawan, mereka semua kini memiliki satu pemikiran yang sama, yakni kabur dari keganasan Erwin dan Petra.
Tak butuh waktu lama, kini mereka semua pun berhasil bangun dan kabur dari tempat itu, sementara si Pado kini hanya bisa menatap kepergian seluruh anggotanya.
__ADS_1
"Sialan!... Mereka semua lari ketakutan seperti itu dan meninggalkan ku seorang diri!" Ucap Pado dalam hati.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba sosok seorang siswa laki-laki yang merupakan teman terdekatnya di gengnya itu langsung membopong dirinya dan membawa ia pergi dari hadapan Petra dan Erwin.
"Tunggu saja!... Setelah ini kami pasti akan membuat perhitungan!... Pado bukanlah orang yang akan menyerah dengan mudah setelah di kalahkan seperti ini!... Camkan itu!" Ucap teman Pado dengan ekspresi serius sambil menoleh ke arah Erwin dan Petra.
"Semangat yang bagus!... Tetap pertahankan hal itu ya!" Balas Petra dengan ekspresi yang tampak datar.
Setelah Pado dan temannya itu pergi dari hadapan Erwin dan Petra, kini Lisa dan Aprilio pun segera mendekati mereka berdua.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Lisa yang tampak sedikit khawatir, namun ia tampak lebih mengkhawatirkan Erwin ketimbang Petra karena sejak tadi sorot mata Lisa lebih banyak ke arah Erwin.
"Tenang saja, kami tak kenapa-kenapa." Jawab Erwin santai.
"Terimakasih sudah menolongku... Tapi apa tak kenapa-kenapa jika sudah seperti ini?" Ucap Aprilio bertanya dan berterimakasih.
"Maksudmu?" Tanya Erwin memastikan.
"Maksudku, kalian kan sudah menolongku, jadi aku yakin setelah ini pasti mereka juga akan menargetkan kalian berdua." Jawab Aprilio yang terlihat sedikit khawatir pada Erwin dan Petra.
"Tenang saja." Balas Erwin dengan wajah santai sambil menepuk bahu Aprilio.
"Tapi..."
"Oi Aprilio..." Ucap Petra menyela perkataan Aprilio dengan cepat dan dengan suara yang terdengar dingin.
Lanjutnya, "Sebaiknya kau tak perlu mengkhawatirkan hal itu... Lagi pula, kau sendiri pasti tidak merasakan pukulan mereka bukan?" Ucap Petra. "Pukulan selemah itu tidak mungkin membuat mu terluka!"
Mendengar ucapan Petra, Aprilio pun jadi sedikit terkejut, namun ia berusaha menyembunyikan ekspresi terkejut itu agar tak ketahuan bahwa memang dirinya tidak begitu merasakan efek dari pukulan yang di arahkan oleh Pado dan kawan-kawannya pada dirinya.
"Siapa orang ini? dan juga kenapa sejak tadi ia selalu berbicara seolah-olah ia mengenali diriku?" Pikir Aprilio menyelidik.
"Sudahlah." Ucap Lisa menyela. "Tidak usah di permasalahkan lagi hal itu... Lebih baik sekarang kita langsung ke kantin saja... Aku ingin makan sesuatu sekarang!" Ucap Lisa sambil berjalan melewati Aprilio dan Petra.
"Hah... Kau benar." Balas Petra sambil menghela nafas.
Lalu Petra kembali menoleh ke arah Aprilio.
__ADS_1
"Hei kau!... Bagaimana kalau kau juga ikut kami ke kantin?" Tanya Petra mengajak Aprilio.
"Kantin?" Tanya Aprilio seolah memastikan sesuatu.
"Ya." Balas Petra singkat.
"Baiklah... Lagi pula sejak tadi pagi aku memang tak sarapan sebelum ke sekolah." ucap Aprilio menanggapi.
"Baiklah kalau begitu." Ujar Petra.
Setelah itu kini mereka berempat pun segera pergi ke kantin tanpa ada hambatan lagi.
*******
Setelah jam sekolah berakhir, kini seluruh siswa berbondong-bondong keluar dari gedung sekolah.
Ada yang menggunakan kendaraan pribadi dan ada pula yang hanya berjalan kaki dan mencari kendaraan umum untuk di tumpangi.
Sementara itu, Lisa saat ini sedang berjalan ke mobil miliknya dan setelah masuk ke dalam mobil, ia pun segera menyalakan mobil dan tancap gas dari tempat itu.
Setelah sudah cukup jauh Lisa melaju dengan mobilnya, Lisa pun kini lewat di sebuah jalan yang terbilang cukup sunyi.
Di jalan itu tiba-tiba seorang siswa yang juga berasal dari SMA yang sama dengannya secara sengaja menabrak mobil Lisa hingga tergores dan siswa laki-laki itu terjatuh bersama dengan motornya.
Karena terkejut, Lisa pun langsung mengerem mobilnya secara mendadak sementara pria yang tadinya sengaja sedikit menabrakkan motornya ke mobil Lisa kini langsung berdiri dengan ekspresi marah di wajahnya.
Pria itu kini seolah-olah membuat Lisa lah yang bersalah dalam hal ini.
Pria itu pun segera mendekati mobil Lisa dan menggedor-gedor kaca mobil yang ada di pintu samping.
"Keluar!... Kalau jalan tuh pake mata woi!!" Teriak pria itu dengan ekspresi kesal di wajahnya.
Lisa tentunya merasa geram dengan apa yang di perbuat oleh pria itu karena Lisa juga merasa diri benar karena memang bukan dirinya yang bersalah.
Karena kesal, Lisa pun membuka kaca mobilnya dan hendak memaki pria yang tampak sedang emosian itu.
Namun baru saja Lisa membuka kaca mobil dan hendak berbicara, tiba-tiba tangan pria itu langsung melekat ke hidung Lisa bersamaan dengan sebuah sapu tangan yang berisikan obat bius.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, kini Lisa pun langsung tak berkutik dan ia pun terkulai lemas di dalam mobilnya sendiri.