Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Kemenangan Petra


__ADS_3

"aku tak percaya kau mengalahkan ketua!!" teriak Timo yang langsung berlari menghampiri Petra dengan penuh niat untuk membunuh.


Sementara itu, Petra yang mendengar ucapan Timo hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


ia hanya menatap Timo yang sedang menghampiri-nya dengan kecepatan tinggi.


Saat berada di dekat Petra, Timo langsung mengayunkan tinju-nya ke wajah Petra.


Petra yang melihat hal itu dengan santai menepis tinju Timo itu ke samping sembari melayangkan tinju-nya ke perut bagian kanan Timo.


hal itu pun membuat Timo kesakitan dan sedikit membungkuk-kan tubuh-nya.


Lalu Petra dengan cepat langsung menendang persendian kaki Timo yang membuat Timo langsung berlutut.


di waktu yang bersamaan, Petra melayangkan tinju-nya ke tenggorokan Timo dan membuat Timo langsung terbaring di tanah.


Tak cukup sampai di situ, Petra yang saat ini sedang berdiri di depan Timo langsung menendang kepala Timo dengan sangat kuat, dan tanpa ia sadari kini Timo sudah kehilangan nyawa karena leher-nya patah saat di tendang oleh-nya.


Petra yang menyadari bahwa Timo sudah mati kini langsung tampak menyesal.


entah karena hal apa kini wajah Petra tampak bersedih dan dia langsung mengalirkan air mata dan menangis sambil menahan suara-nya agar tak lepas saat sedang menangis.


"ini lah yang membuat-ku tidak ingin bertarung! kenapa aku selalu terbawa suasana!" ucap Petra sambil menyeka air mata-nya.


Setelah itu Petra menengadah ke langit dan melihat awan yang tadi-nya menutupi bulan kini perlahan terbuka.


"sebelum aku kembali aku harus bisa mengontrol kemampuan-ku dulu!" ucap Petra dalam hati dan kemudian berusaha untuk tersenyum walau senyum-nya kini terlihat hambar.


Setelah itu, Petra pun langsung mengambil ponsel-nya dan langsung menghubungi seseorang untuk membereskan mayat yang telah di bunuh oleh-nya.


*****


Saat ini, kurang lebih pukul 12 malam, tampak Airin sedang memegang sebilah pisau di tangan-nya.


tangan Airin saat ini tampak berdarah dan terlihat seperti bekas goresan dan darah keluar dari bekas goresan itu.


Airin saat ini duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, dan dengan pisau tajam di tangan-nya itu ia tampak sedang mengiris-iris sofa itu sambil berseringai licik dan membuat wajah-nya terlihat suram dan menakutkan.


Ketika ia terlihat sedang asik mengiris-iris sofa itu, tiba-tiba terdengar suara peralatan dapur yang jatuh di lantai.


peralatan dapur yang jatuh itu di akibatkan oleh seekor tikus yang sedang mencari sisa-sisa makanan di dapur.

__ADS_1


namun karena suara keras dari peralatan dapur yang jatuh itu sampai ke ruang tamu, akhir-nya suara itu membuat Airin tersentak dan diri-nya tampak terkejut.


"ap-apa yang terjadi?" ucap Airin yang tampak bingung karena ia berada di ruang tamu.


Setelah itu Airin langsung merasa sakit di bagian tangan-nya. rasa sakit itu terasa seperti luka goresan, dan saat ia melihat tangan-nya, ia pun langsung terkejut dan langsung pasang ekspresi ketakutan saat diri-nya melihat pisau yang sedang di pegang-nya.


"jangan-jangan?" ucap Airin yang langsung berdiri dan berusaha mendekati saklar lampu yang berada tembok.


Airin tampak sedang berjalan linglung karena rasa terkejut-nya masih belum hilang.


Ketika Airin berhasil menyalakan lampu, diri-nya makin terkejut saat melihat sofa yang ia duduki kini tampak berlubang-lubang dan banyak bekas goresan.


di tambah lagi di sofa itu juga terdapat darah yang berasal dari luka yang ada di tangan-nya.


Airin yang melihat itu langsung syok dan ia tampak langsung kehilangan tenaga.


ia pun langsung terjatuh dan berlutut di atas lantai sambil menunjuk-kan ekspresi yang membuat wajah-nya terlihat ketakutan dan putus asa.


"kenapa aku jadi seperti ini lagi?" ucap Airin yang tampak bersedih, dan tanpa ia sadari air mata-nya perlahan mengalir dan membasahi pipi-nya.


"lebih baik aku mati saja!" ucap Airin yang kemudian menangis dan berusaha untuk mengelap air mata-nya yang terus mengalir deras.


*****


lalu Erwin perlahan membuka mata-nya. ia kemudian mengedarkan pandangan-nya ke segala arah dan diri-nya langsung terkejut karena diri-nya tak mengenali sebuah kamar dengan dekorasi mewah yang saat ini ia tempati.


"di mana ini?!" ucap Erwin yang langsung bangun karena terkejut.


Setelah itu Erwin langsung menoleh ke sebuah sofa yang ada di kamar itu, dan tampak di sofa itu Petra sedang berbaring.


"ini di rumah Petra ya....?" ucap-nya saat melihat Petra yang sedang tertidur lelap di sofa.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba ponsel Erwin berbunyi, dan di layar ponsel itu tertulis-kan nama yang di gunakan oleh Erwin saat menyebutkan Airin, yaitu "Bocah".


Melihat nama pemanggil itu, Erwin pun langsung menghela nafas panjang dan dengan berat hati ia langsung meraih ponsel-nya.


"ini sudah jam dua malam, kenapa menelpon sekarang sih?" ucap Erwin dalam hati sambil menekan tombol 'jawab' di ponsel-nya.


"halo." ucap Erwin memulai percakapan.


[ha-halo....] balas Airin dengan nada yang terdengar ragu dan terkesan seperti orang yang sedang lemas.

__ADS_1


"ada apa menelpon di larut malam begini?" tanya Erwin dengan nada yang halus karena tak ingin menyinggung Airin.


Airin yang mendengar pertanyaan itu jadi makin bingung mau berkata apa kepada Erwin.


niat awal Airin adalah untuk mengajak Erwin untuk tidur di rumah-nya agar Erwin bisa menjaga-nya malam ini.


namun hal itu benar-benar bukan hal yang masuk akal, dan bahkan jika ia menjelaskan hal yang sebenar-nya pada Erwin maka besar kemungkinan Erwin akan menolak karena permintaan Airin itu bisa saja membahayakan Erwin.


Setelah beberapa saat berpikir, akhir-nya Airin malah mendapati jalan buntu dan otak-nya tak bisa lagi memikirkan jalan keluar untuk masalah-nya.


Diri-nya ingin meminta Erwin untuk menjaga-nya, namun di sisi lain ia juga tidak ingin membahayakan Erwin.


selain itu ia juga merasa tidak enak meminta bantuan semacam itu pada Erwin.


hal itu pun akhir-nya membuat Airin makin putus asa.


Setelah itu ia pun langsung menangis dengan suara yang pelan. namun suara tangisan-nya itu bisa di dengar oleh Erwin.


"hei! apa yang terjadi pada-mu?!" tanya Erwin yang mendadak merasakan firasat yang tidak enak.


Sementara itu Airin hanya terus menangis dan menguraikan pertanyaan Erwin.


[a-aku akan mati] ucap Airin yang saat ini masih menangis.


"hei! jangan bercanda seperti it..."


~Tut Tut Tut Tut~


"apa yang sebenar-nya terjadi pada Airin?" ucap Erwin sambil menatap layar ponsel-nya yang saat ini sudah tidak terhubung dengan Airin.


"aku harus menemui Airin!" ucap Erwin yang kemudian langsung turun dari kasur itu dan segera berjalan ke arah Petra.


setelah itu Erwin langsung membangun-kan Petra.


Petra pun kini terbangun, dan baru saja terbangun ia langsung di hujani oleh berbagai kata-kata Erwin yang meminta untuk pamit.


Petra sebenar-nya tidak mempermasalah-kan Erwin yang tampak buru-buru, hanya saja Petra merasa apakah Erwin merasa terusik dan tidak nyaman berada di rumah-nya.


"padahal aku sudah membiarkan dia menguasai tempat tidur-ku! apa dia terusik karena aku masih ada di kamar itu?" ucap Petra sambil mengelus dagu-nya. lanjut-nya "padahal tujuan-ku hanya ingin dia tidak kebingungan saat bangun. karena kalau dia bangun dan aku tidak ada, maka dia pasti akan kebingungan karena tiba-tiba berada di tempat asing." ucap Petra yang kemudian menutup pintu rumah-nya.


jangan lupa

__ADS_1


Like, Vote, komen, dan faforit


__ADS_2