Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Santi Di Culik (2)


__ADS_3

PERINGATAN!!


Episode kali ini mengandung adegan


18+


Bagi yang merasa tidak nyaman jangan di teruskan.


Mendengar ucapan dan tindakan pria itu, Santi pun makin panik, ia berusaha berontak dan berteriak. namun semua itu sia-sia, sehingga tanpa ia sadari air mata-nya mulai mengalir.


Sementara itu, pria yang tidak di kenal itu justru terlihat makin bersemangat dan girang ketika melihat Santi yang mulai meneteskan air mata.


"itu dia! itu dia alasan-ku sehingga aku menunggumu sadar dulu baru melakukan-nya!" ucap pria itu dengan semangat yang berkobar-kobar. "aku memang sengaja menunggu mu sadar, karena melakukan $eks saat kau tidak sadar sangat tidak menyenangkan!.... itu karena aku ingin mendengar suara mu! des@han-mu! bahkan tangis-mu. hahahah...." ucap-nya dengan penuh bir@hi.


Mendengar hal itu, Santi pun makin banyak mengeluarkan air mata, ia ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. semua usaha-nya sia-sia.


Sementara itu, pria yang tak di kenal itu kini memegang ujung rok Santi, lalu ia perlahan menarik-nya ke atas hingga celana pendek yang di gunakan Santi langsung terlihat jelas.


Santi yang merasa rok-nya yang kini tak menutupi bagian kem@luan-nya kini berusaha merapatkan kedua p@ha-nya sambil menangis. namun itu sia-sia karena kedua kaki-nya sudah di ikat agar tetap terbuka lebar.


"hehehehe...." tawa kecil pria itu sambil meraba-raba bagian sensitif Santi dan menatap Santi dengan senyum me$um.


"hngg....(hentikan....)" ucap Santi dengan tidak jelas.


Setelah meraba-raba bagian bawah, kini pria itu langsung melepas baju-nya sendiri dengan semangat. sesudah itu ia memegang dasi Santi sambil mendekatkan tubuh-nya pada Santi. lalu ia pun langsung duduk jongkok di atas perut Santi sambil melepas dasi Santi.


Santi yang melihat hal itu makin sedih dan terus menangis.


namun pria itu justru tambah bersemangat. ia kemudian mulai membuka kancing baju Santi satu persatu.


Santi hanya bisa menangis dan pasrah. ia tak berdaya lagi.


sementara pria itu terus membuka kancing baju santi serta merobek baju dalam Santi. sehingga hanya menyisakan br@-nya saja.


Setelah itu, pria yang tidak di kenal kini perlahan mengelus bagian dad@ Santi dan terus meraba-nya hingga ke bagian kem@luan.

__ADS_1


lalu sesudah itu, si pria tak di kenal langsung membuka celana-nya sendiri sehingga hanya menyisakan ****** ***** yang menutupi bagian bawah-nya. ia kemudian membuang celana-nya ke lantai dan dengan segera ia kembali duduk jongkok tepat di depan p@ha Santi yang terbuka lebar.


Setelah itu ia menatap Santi dengan senyuman licik sambil memegangi celana pendek yang masih menutupi bagian bawah Santi.


"hehehehe..... aku sudah tak sabar lagi." ucap-nya.


Ketika pria tak di kenal itu hendak membuka celana pendek Santi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar sedang di ketuk oleh seseorang.


~TUK TUK TUK~


Mendengar suara itu, pria tak di kenal kini berhenti dan langsung menoleh ke arah pintu.


"siapa itu?" tanya pria tak di kenal.


"maaf mengganggu, tapi Sang Elang Hitam meminta anda untuk menghadap ke markas utama! ini perintah dan harus di lakukan sebagai bukti bahwa kita benar-benar serius bergabung." jelas seseorang yang berada di balik pintu.


"apa harus sekarang?" tanya pria tak di kenal.


"iya sekarang! kata-nya Sang Elang Hitam tidak akan mentoleransi keterlambatan, waktu yang di berikan sangat mepet, jadi bergegaslah!" ucap pria di balik pintu.


"hah...." pria itu menghela nafas malas. "mungkin ku lanjutkan nanti saja!" ucap pria itu yang kemudian turun dari ranjang.


lalu pria itu kembali mengambil celana dan baju-nya di lantai, lalu ia mengenakan kembali pakaian-nya.


setelah itu pria itu langsung keluar dari kamar itu serta mengunci-nya dari luar.


Melihat kepergian pria tak di kenal itu, kini Santi tampak sedikit lega, namun ia sadar bahwa kelegaan itu hanya sementara, sehingga ia kembali menangis dengan tersedu-sedu.


Sementara itu, pria tak di kenal kini membawa kunci kamar Santi karena diri-nya tak mau ada teman-nya yang sembarang masuk dan mendahului-nya.


Setelah itu, pria tak di kenal kini berjalan di depan salah satu teman-nya, dan teman pria tak di kenal itu adalah Sedi!.


"oii Sedi, apa Nurdin masih belum kembali dari sekolah?" tanya pria tak di kenal itu sambil menarik topeng kulit-nya perlahan.


"masih belum! apa mungkin dia sudah di hajar oleh anak pindahan itu?" jawab Sedi yang kemudian bertanya-tanya.

__ADS_1


"hmm....?" pria itu menggumam sambil melepaskan topeng kulit-nya secara keseluruhan, dan ternyata pria tak di kenal itu adalah Rimo. lanjut-nya sambil menoleh pada Sedi. "sebaik-nya kau cari dia, jika dia tertangkap, bisa-bisa kita semua dalam bahaya!" perintah Rimo sambil menatap Sedi dengan tatapan yang menakutkan.


"baiklah! aku akan segera mencari-nya setelah kita selesai bertemu Sang Elang Hitam!" jawab Sedi.


"humm!" gumam Rimo yang kemudian lanjut berjalan.


*******


Malam telah tiba, saat ini di Sulawesi tengah tepat-nya di kediaman kakek Erwin tampak Erwin, Jasie dan Airin duduk bersebelahan di sofa. sementara kakek Erwin dan nenek Erwin duduk bersampingan di depan mereka bertiga.


"baiklah, letak-kan tangan-mu di atas telapak tangan-ku." ucap kakek Erwin sambil menjulurkan tangan-nya.


Lalu tanpa pikir panjang Airin pun langsung meletak-kan tangan-nya sesuai permintaan kakek Erwin.


Sesudah itu, kini kakek Erwin perlahan menutup mata-nya dan terlihat seperti menerawang Airin.


Semua yang duduk di ruang tengah itu kini hanya diam dan memperhatikan kakek Erwin. mereka tampak penasaran untuk mengetahui masalah Airin secara lanjut.


Beberapa saat kemudian, akhir-nya kakek Erwin membuka mata-nya dan kemudian mengedarkan pandangan-nya ke semua penghuni rumah.


"maaf tadi aku ketiduran!" ucap kakek Erwin dengan ekspresi jelek.


"apa kata-mu?!!" bentak nenek Erwin sambil mengguncang tubuh suami-nya itu. lanjut-nya, "jadi dari tadi kami hanya menunggu kau bangun saja hah?!!"


"hahahah..... aku bercanda kok, tadi aku benar-benar melakukan tugas-ku." jawab kakek Erwin sambil tertawa dan mulai cengar-cengir.


Melihat tingkah kakek-nya itu, Erwin hanya bisa tersenyum dan merasa senang bisa bersama mereka di rumah ini.


sementara itu, Airin dan Jasie hanya bisa menertawakan kelakuan kakek Erwin.


Melihat tawa bahagia mereka, Erwin pun jadi teringat tentang masa lalu-nya dengan Santi, ia mengingat betul betapa indah-nya senyuman dan tawa Santi saat itu. lalu ia pun menghela nafas penat karena teringat masa lalu.


"hah..... ku harap Santi baik-baik saja saat ini." batin Petra dengan ekspresi lesu.


Jangan lupa

__ADS_1


Like, Vote, komen, dan faforit.


__ADS_2