Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Bunuh Lima


__ADS_3

setelah selesai membunuh si B dan si C, kini Erwin melanjutkan rencana-nya.


saat ini ia berada di sebuah lorong yang kemungkinan-nya akan di lalui oleh si D dan si E. ia saat ini tengah bersandar di sebuah pagar tembok yang dekat dengan tiang listrik.


setelah beberapa lama menunggu, akhir-nya ia melihat ada dua orang pria yang baru saja muncul dari balik tembok lorong sebelah.


"itu dia mereka!" ucap Erwin sambil bersembunyi di persimpangan lorong itu.


tak lama setelah itu, si D dan si E tiba di persimpangan lorong itu.


kemudian dengan cepat Erwin langsung menyerang si D yang berada paling dekat dengan-nya.


si D langsung terkejut melihat hal itu. namun keterkejutan-nya tak bisa membuat-nya bergerak refleks untuk menghindar ataupun menangkis serangan itu. serangan itu pun langsung mengenai wajah si D dengan telak. sebuah tendangan kuat itu membuat si D terlempar ke belakang dengan jarak yang cukup jauh.


si E yang melihat hal itu tentu-nya tidak tinggal diam. si E dengan cepat langsung menyerang Erwin menggunakan sebuah karambit yang ada di tangan-nya.


si E adalah salah satu anggota tim yang paling mahir dalam menggunakan senjata jarak dekat. jika di bandingkan dengan ke tiga teman-nya, dia adalah orang terkuat ke dua di tim mereka.


si E dengan lihai-nya memainkan karambit di tangan-nya sambil bergerak menyerang Erwin.


Erwin yang melihat kemahiran si E hanya bisa tersenyum. ia tampak cukup bersemangat untuk menghadapi si E.


saat si E mundur selangkah, si D langsung menyerang Erwin dan tendangan si D tepat mengenai kepala Erwin.


Erwin terkejut akan hal itu, namun dengan cepat diri-nya tersadar dan langsung menghindari serangan karambit dari si E.


saat Erwin berhasil menghindar, si D langsung menyerang Erwin. kini sebuah tinju melayang ke arah ulu hati Erwin. namun dengan cepat Erwin meraih tinju itu lalu menarik tangan si D. setelah itu, Erwin dengan segera mematahkan tangan si D dan membuat si D berteriak keras menahan sakit-nya.


~KRAAKK~


~AARRRGGG!!~


seolah tak peduli dengan si D, si E langsung melancarkan serangan-nya. ia mengayunkan karambit-nya ke arah Erwin. namun karena Erwin sempat melihat pergerakan cepat si E, Erwin pun langsung mundur untuk menghindari serangan itu. meskipun begitu, tetap saja wajah Erwin terkena goresan dari karambit itu.

__ADS_1


tidak berhenti di situ, si E langsung menyerang lagi. tapi kini Erwin tidak mau berlama-lama lagi karena wajah-nya sudah tergores.


saat si E menyerang, di saat itu Erwin bergerak dengan cepat dan menangkap tangan si E. setelah berhasil menangkap tangan si E, Erwin pun langsung menekuk-kan tangan si E dan membuat tangan si E yang memegang karambit itu langsung mengarah ke tenggorokan-nya sendiri.


~SRAAKK!~


leher si E langsung tertusuk oleh karambit yang di pegang-nya sendiri. lalu Erwin langsung menarik tangan si E sehingga tenggorokan si E langsung terputus dan memuncrat-kan banyak darah segar dari sana.


darah itu pun membasahi wajah Erwin dan membuat Erwin terlihat sangat menakutkan. wajah Erwin kini tampak seperti para pembunuh berdarah dingin dalam film-film horor.


si D yang melihat hal itu menjadi sangat ketakutan. ia kini berlari dan berusaha untuk menyelamatkan diri-nya sendiri. namun sayang-nya hal itu tak di biarkan oleh Erwin.


Erwin dengan cepat menarik pistol-nya dari balik jaket-nya. lalu dengan segera Erwin mengarahkan pistol itu ke kepala si D yang berusaha kabur.


"samapi jumpa di kehidupan selanjut-nya." ucap Erwin sambil berseringai. "itupun jika ada kehidupan selanjut-nya!"


setelah berkata seperti itu, Erwin langsung menembak dan tembakkan-nya tepat menembus kepala si D.


setelah malam panjang itu berakhir, kini Erwin sudah berada di sekolah dengan wajah yang di rekatkan sebuah palster.


saat jam pelajaran berlangsung, Erwin lebih banyak menghabiskan waktu-nya untuk tidur secara sembunyi-sembunyi agar tak di ketahui oleh guru. hal itu di karenakan Erwin sama sekali tak bisa tidur semalaman, dan itupun akhir-nya membuat diri-nya merasa sangat mengantuk.


setelah jam istirahat tiba, Erwin mulai terlihat sedikit segar kembali. kemudian Erwin berjalan menghampiri Santi yang sedang bersiap ke kantin.


"hai, bagaimana kabar-mu hari ini?" ucap Erwin berusaha terlihat akrab sambil mengangkat tangan kanan-nya serata bahu.


"apa menurut-mu aku terlihat sedang sakit atau sebagai-nya?" balas Santi dengan nada malas.


"ehm..... menurut-ku kau baik-baik saja." ucap Erwin dengan tawa yang hambar.


"kalau kau sudah mengerti lebih baik menjauh dari-ku." ucap Santi dengan jutek-nya sambil berjalan melewati Erwin.


Erwin hanya bisa melihat kepergian Santi dengan rasa putus asa karena masih belum bisa meminta maaf dengan benar pada Santi.

__ADS_1


setelah kejadian itu, kini Erwin sedang berjalan-jalan di selasar sekolah. di sana ia tidak sengaja bertemu dengan Rimo dan kawan-kawannya.


Erwin yang melihat Rimo dan kawan-kawan-nya itu berjalan ke arah-nya hanya bisa menarik nafas dalam lalu menghembuskan-nya dari mulut.


saat Erwin sudah berpapasan dengan mereka dalam jarak yang cukup dekat, kini Erwin serta Rimo dan kawan-kawannya berhenti dan saling berhadap-hadapan.


"kemarin itu kau hanya beruntung saja sial*n!" bentak Rimo sambil menunjuk Erwin.


"apa kau masih belum puas dengan hasil yang kemarin?" tanya Erwin dengan nada yang tak bersemangat.


"jangan konyol! mana sudi aku di kalahkan oleh orang lemah seperti-mu!" bentak Rimo.


"lalu memang seperti itu, kita cari tempat yang lebih cocok. toh aku juga sedang ingin melampiaskan kekesalan-ku" ucap Erwin yang kemudian berjalan melewati mereka tanpa menoleh ataupun menatap mereka.


"hahaha, bahkan lewat di depan-ku saja kau langsung menunduk! apa nyalimu sudah pupus sebelum bertarung?" ucap Rimo dengan nada mengejek dan kemudian menertawai Erwin.


Erwin hanya terus berjalan sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya. ia sama sekali tak peduli mendengar ocehan dan tertawaan Rimo serta ke dua teman-nya itu.


"hei pecundang! kenapa kau mau pergi jauh-jauh hanya untuk menyelesaikan urusan kemarin? apa kau takut di permalukan olehku di depan banyak siswa lain-nya?" timpal Rimo sambil memutar tubuh-nya dan menghadap ke arah Erwin yang sedang berjalan membelakangi-nya.


"sudah jelas bukan? aku yakin pecundang seperti-nya tidak akan melawan, paling-paling dia ingin berlutut meminta maaf pada-mu." ucap salah satu teman Rimo sambil menoleh pada Rimo.


"ya itu benar, mana berani ia berlutut padamu di depan orang lain, itu hanya akan membuat harga diri-nya makin jatuh!" timpal salah satu teman Rimo lain-nya.


"hahaha, rasanya itu memang benar!" balas Rimo sambil tertawa mengejek.


"baiklah! aku tak mau mengikutimu! pokok-nya sekarang kau berlututlah dan jilati kaki-ku! dengan begitu barulah aku akan melepaskan-mu!" timpal Rimo dengan penuh percaya diri.


semua siswa yang ada di tempat itu langsung menoleh ke arah Rimo dan Erwin. hal itu di karenakan Rimo yang dari tadi terus mengolok Erwin dengan suara keras.


kemudian Erwin langsung menoleh ke arah Rimo dengan tatapan yang terlihat tidak bersemangat.


"kalau memang begitu keinginan-mu, maka bersiaplah!" ucap Erwin dengan nada yang dingin.

__ADS_1


__ADS_2