
Ketika Lero berada dekat dan bisa menjangkau kakek Erwin, Lero pun langsung melayangkan tinju-nya ke wajah kakek Erwin.
~BRUUAAK~
Lero terhempas dan langsung menabrak batang pohon.
tampak di wajah Lero masih ada bekas pukulan tinju karena barusan kakek Erwin menyerang-nya sebelum serangan Lero mencapai wajah kakek Erwin.
"ce-cepat sekali!" batin Lero sambil berusaha berdiri. "sial@n! pandangan-ku langsung kabur!" ucap-nya dalam hati sambil memegang kepala-nya karena sakit.
Kemudian Lero menatap kakek Erwin yang saat ini sedang berdiri di depan Erwin yang sedang pingsan.
tak lama kemudian tampak dua orang pria melompat dari atas pohon dan langsung mendarat tepat di depan kakek Erwin.
"kalian berdua bawa Erwin pulang." perintah kakek Erwin pada dua pria itu.
"baiklah!" ucap kedua pria itu sambil mengangguk.
sesudah itu mereka bertiga pun langsung pergi dari tempat itu.
Setelah melihat mereka bertiga sudah pergi, kakek Erwin langsung memutar pandangan-nya dan langsung menatap Lero dengan tajam.
Lero yang mendapati tatapan itu langsung merinding karena ia langsung merasakan ada-nya kekuatan yang lebih besar yang di miliki oleh kakek Erwin.
"aku tidak peduli dengan urusan geng kalian." ucap kakek Erwin. "tapi jika kalian berani menyakiti cucu-ku, maka aku akan turun tangan menghajar kalian!" tegas kakek Erwin yang membuat Lero merasakan sebuah intimidasi yang sangat menakutkan.
"ma-maaf sudah mengganggu ketenangan anda." ucap Lero yang secara spontan meminta maaf karena diri-nya telah di kuasai oleh rasa takut.
"kali ini kau ku maafkan, karena ku dengar-dengar kau lah orang yang sudah membantu pembangunan jalan di desa ini." ujar kakek Erwin dan kemudian langsung menimpali-nya sambil menatap tajam, "tapi jika lain kali kau mengulangi hal ini lagi, maka aku tidak akan memaafkan-mu!" tegas kakek Erwin.
Mendengar ancaman kakek Erwin itu membuat Lero makin merinding dan nafas-nya sedikit tertahan.
ia ingin berkata namun semua yang ingin ia katakan tertahan di tenggorokan-nya.
Tak lama setelah itu kakek Erwin langsung membalik-kan badan-nya dan berlalu dari tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
Melihat kepergian kakek Erwin, kini Lero langsung menghela nafas lega sambil mengelus-elus dada-nya.
******
Saat ini tampak Erwin sudah berada di rumah, tepat-nya ia sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang berbalut selimut dan beberapa bagian tubuh-nya yang terluka kini sudah di perban.
di sisi lain, Airin yang sebelum-nya menunggu kedatangan Erwin kini hanya bisa diam dan menatap Erwin yang sedang tidak berdaya itu.
tak lama setelah itu Airin yang saat ini duduk di kursi yang berada di samping Erwin langsung membungkuk-kan tubuh-nya di atas ranjang sambil menggenggam tangan Erwin.
"sebenar-nya apa yang sudah kau lakukan sampai kau jadi seperti ini?" ucap Airin dalam hati dengan raut wajah yang terlihat sedih.
*****
Malam itu di pulau Kalimantan tampak seorang pria yang sedang memantau di sebuah pelabuhan.
pria itu mengenakan masker hitam serta topeng kaca yang menutupi mata dan hidung-nya. pria itu adalah Petra.
Saat ini pertra berada di sebuah bangunan yang cukup tinggi, dan di bangunan inilah dia memantau situasi di pelabuhan itu.
Petra terus memantau menggunakan teropong-nya, mata-nya dengan teliti melihat ke segala sudut pelabuhan.
"hmm....?" gumam Petra dengan ekspresi curiga. lanjut-nya, "bukan-kah orang itu adalah salah satu ketua divisi di daerah ini?" ucap Petra dalam hati.
Note: Petra mengenali dari sebuah tanda yang ada di pakaian yang di gunakan oleh ketua divisi.
Setelah melihat pria yang merupakan ketua divisi cabang Elang Hitam itu, maka di pikiran Petra timbul berbagai kecurigaan dan rasa penasaran untuk mencari tahu hal itu.
"apa jangan-jangan di sini mereka melakukan transaksi narkoba dengan jumlah yang besar?.... jika memang begitu sebaik-nya aku memastikan-nya.
Setelah berkata demikian, Petra pun langsung menyimpan teropong-nya di pinggang-nya.
Saat ini Petra sedang menyelinap masuk ke pelabuhan itu.
ia bahkan sedang membuntuti seorang pria yang ia duga adalah ketua divisi.
__ADS_1
Sementara itu, si ketua divisi yang tidak menyadari keberadaan Petra tetap terus berjalan dan kemudian masuk ke salah satu ruangan yang ada di gedung pelabuhan itu.
Melihat si ketua divisi masuk, Petra pun mulai berpikir dan mencari cara untuk masuk ke dalam.
namun pada akhir-nya Petra lebih memilih untuk menggunakan mobil mainan yang sudah ia rakit khusus untuk melakukan penyelidikan seperti ini.
"hah.... kalau tahu begini lebih baik sejak tadi ku pakai benda ini!" gerutu Petra dalam hati sambil berjalan pelan dan mulai mencari tempat aman untuk menggunakan mobil mainan itu.
Saat ini Petra sudah berada di atap gedung itu. sementara mobil mainan itu kini sudah berada di ruangan yang di masuki oleh ketua divisi.
"tchi.... seperti-nya aku terlambat mendapatkan informasi yang ku cari!" ucap Petra dalam hati dengan rasa kesal karena melihat si ketua divisi dan pengurus pelabuhan sudah mulai basa-basi.
Setelah beberapa saat akhir-nya si ketua divisi mulai membuka pembicaraan tentang pengiriman narkoba yang mereka terima saat ini.
Di video itu tampak ketua divisi menyerahkan sejumlah besar uang hasil pengedaran narkoba satu bulan sebelum-nya.
Melihat sejumlah besar uang di atas meja itu, mata si pengurus pelabuhan itu langsung terbelalak dan ia terlihat senang sekaligus terkejut.
"hahaha..... bagaimana? bisnis ini menggiurkan bukan?" ucap si ketua divisi sambil memainkan alias-nya.
"hum.... ini memang lumayan.... bahkan jumlah-nya jauh lebih besar dari sebelum-nya." balas si pengurus pelabuhan sambil tersenyum puas.
"hahaha sudah ku duga kau akan mengatakan hal itu." ujar ketua divisi sambil tertawa.
"baiklah, aku terima uang ini." ucap pengurus pelabuhan itu.
Sementara itu, Petra yang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi langsung menaik-kan satu alis-nya dan tersenyum licik.
"hehe.... jika aku melaporkan hal ini pada polisi pasti mereka akan segera di tangkap!" batin Petra. lanjut-nya, "meskipun begitu, aku yakin si ketua divisi dan kawan-kawan-nya tidak akan di tahan.... karena ke manapun polisi mencari, mereka tetap tidak akan ditemukan...." gumam Petra sambil mengelus dagu-nya.
"hal itu di karena-kan ketua divisi dan kawan-kawan-nya saat ini sedang menggunakan topeng kulit sebagai penyamaran.... dengan kata lain, wajah asli mereka tidak di kenali."
Setelah mengatakan hal itu, Petra pun langsung melompat turun dari atas atap.
"meskipun mereka bisa membodohi orang-orang, tapi aku tidak akan bisa mereka bodohi karena aku tahu persis seperti apa itu organisasi Elang Hitam!" ucap Petra dalam hati sambil berseringai.
__ADS_1
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit.