
Beberapa saat kemudian, kini Airin tampak terbaring di atas ranjang-nya.
lalu Erwin perlahan menutupi tubuh Airin menggunakan selimut yang sangat lembut dan cukup tebal.
Setelah itu Erwin langsung duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang itu.
ia kemudian membelai rambut Airin dengan lembut sambil tersenyum manis menatap Airin.
*****
Pagi, pukul 06:23.
Saat ini kamar Airin begitu sunyi, dan di atas ranjang tampak Airin yang masih terbaring dengan posisi yang masih sama seperti saat ia tidur tadi malam.
Sesaat kemudian tampak Airin perlahan membuka mata-nya.
ia kemudian mengedarkan pandangan-nya untuk mencari keberadaan Erwin di kamar-nya itu.
namun sayang-nya ia sama sekali tidak melihat Erwin di tempat itu.
Kemudian Airin pun bangun dan duduk sambil melihat ke arah jendela.
"padahal tadi malam dia bilang akan tetap bersama-ku." ucap Airin dengan rasa kecewa dan tidak bersemangat.
Sesudah itu Airin pun turun dari ranjang-nya.
"apa semua yang terjadi tadi malam hanya-lah mimpi?" ucap Airin yang terlihat makin kecewa dan akhir-nya ia mulai meneteskan air mata-nya lagi.
beberapa saat kemudian, Airin sudah sedikit lebih tenang dan kemudian ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah-nya agar sedikit lebih segar.
Setelah selesai membersihkan wajah-nya, kini Airin langsung berjalan ke dapur untuk mempersiapkan sarapan yang ingin ia makan pagi ini.
Sesekali Airin menghela nafas panjang dengan ekspresi yang tampak tidak bersemangat.
hingga akhir-nya ia sampai di meja makan dan tiba-tiba ia melebarkan mata-nya ketika melihat bahwa meja makan-nya kini sudah di penuhi dengan makanan yang baru saja masak dan membuat ia merasa senang melihat hal itu.
namun, hal yang saat ini paling menggembirakan bagi Airin adalah ketika ia melihat bahwa yang menyiapkan makanan di meja makan itu adalah Erwin.
Erwin yang menyadari kedatangan Airin langsung menoleh pada Airin sambil tersenyum manis pada-nya.
"kau sudah bangun ya, aku baru saja ingin membangunkan-mu karena semua-nya sudah siap sekarang." ucap Erwin dengan nada yang terdengar lembut.
Melihat Erwin yang menyapa-nya dengan senyuman, kini Airin hanya bisa terdiam dan tak tahu mau bilang apa. hingga akhir-nya ia hanya bisa sedikit memiringkan kepala-nya sambil membalas senyuman Erwin.
__ADS_1
******
Saat ini Airin dan Erwin sudah selesai makan, dan kini kedua-nya duduk di ruang tamu sambil menatap sofa yang di rusak oleh Airin saat diri-nya kemasukan roh halus.
"wah..... seperti-nya kasus-mu ini cukup parah." ucap Erwin sambil mengelus dagu-nya.
"uhm." gumam Airin sambil mengangguk karena diri-nya kini tak bisa berkata-kata lagi mengenai kejadian yang menimpa diri-nya.
Setelah bergumam, Airin yang saat ini duduk di samping Erwin langsung menjatuhkan kepala-nya ke bahu Erwin dan bersandar di bahu Erwin.
"sebenar-nya aku punya solusi untuk mengusir mahluk halus yang mengikuti-mu itu." ucap Erwin sambil menoleh pada Airin yang saat ini masih bersandar di bahu-nya.
Setelah mendengar perkataan itu, Airin langsung mengangkat wajah-nya dan menatap Erwin. hal itu pun membuat wajah mereka sangat dekat, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.
Erwin sedikit tersentak saat bibir mereka hampir bersentuhan. begitu pula dengan Airin.
hal itu pun membuat Erwin langsung refleks untuk menarik kepala-nya sedikit ke belakang.
Sementara itu, Airin justru terlihat tidak bergerak sedikit pun meski wajah-nya kini memerah karena hal itu.
"bi-bisa beri tahu aku mengenai solusi yang kau maksud?" tanya Airin dengan nada yang halus.
Seketika Erwin langsung tersenyum ramah menatap Airin. ia kemudian mengelus kepala Airin dengan lembut.
"solusi yang bisa ku berikan pada-mu adalah mendatangi kakek-ku." ucap Erwin lalu menimpali-nya. "kakek-ku sudah banyak berurusan dengan hal-hal yang seperti kau alami ini, jadi aku yakin dia pasti punya cara untuk mengatasi masalah-mu." jelas-nya sambil tersenyum ramah.
"ya aku sangat yakin." balas Erwin yang masih tersenyum.
"baiklah jika kau se-yakin itu." ucap Airin sambil melipat jari tangan-nya di atas p@ha-nya.
******
Saat ini, di kediaman Petra, tampak Petra tengah menelpon seseorang.
"untuk permasalahan biaya aku yang akan tanggung, jadi kau lakukan saja apa yang ku perintahkan." ucap Petra yang tampak begitu santai di atas sofa-nya sambil mengangkat kaki-nya di atas meja.
[baiklah tuan, aku akan segera mengurus-nya.] ucap seorang di telepon itu dengan patuh.
"oh iya, aku juga ingin kau mengurus kedatangan-ku di SMA Lowe, katakan pada kepala sekolah-nya untuk menjadikan-ku murid pindahan, tapi ingat, aku tak perlu di anggap sebagai murid sungguhan karena aku tidak akan menetap dan masih banyak lagi yang harus ku lakukan." jelas Petra.
[jika memang tidak menetap, maka untuk apa anda bersekolah di sana? anda kan sudah bersekolah di tempat lain?] tanya pria yang menelpon itu.
"aku sudah bilang, jangan anggap aku sebagai murid sungguhan, karena tujuan-ku bukan untuk jadi murid." jelas Petra lagi.
__ADS_1
[jika memang begitu, lalu apa tujuan anda?]
"aku hanya perlu berpura-pura menjadi seorang murid agar bisa dekat dengan Erwin." ucap Petra sambil menghela nafas seolah sudah lelah menjelaskan.
[Erwin? maksud anda anak yang pingsan tadi malam? apa anda tertarik pada-nya?]
"ya, aku tertarik pada-nya, dia itu anak yang memiliki potensi." ucap Petra dengan ekspresi yang tampak serius.
[baiklah kalau begitu.]
note: Petra tahu tempat Erwin bersekolah saat mereka berdua mengobrol panjang di kafe.
*******
Saat ini Erwin dan Airin berada di sebuah bandara yang ada di kota itu.
Erwin terlihat begitu tenang, sementara Airin tampak seperti orang yang kurang pergaulan, karena memang begitu kenyataan-nya.
saat berjalan bersama Erwin, Airin hanya terus memandang ke bawah karena diri-nya tidak begitu percaya diri untuk memandang lurus ke depan.
hal itu pun membuat Erwin tertawa kecil dan langsung meraih tangan Airin. ia kemudian menuntun Airin agar Airin yang terus memandang ke bawah itu tidak terpisah dengan-nya.
"ke-kenapa kita ke bandara?" tanya Airin dengan suara yang terbata-bata.
"karena kakek-ku tinggal di salah satu desa yang ada di Sulawesi tengah, jadi akan lebih cepat jika kita naik pesawat, dan kebetulan ada pesawat yang akan segera berangkat hari ini jadi aku langsung mengambil tiket-nya." jelas Erwin.
"begitu ya." balas Airin sambil menelan ludah-nya dengan kasar.
Erwin yang melihat tingkah Airin itu hanya bisa tersenyum tipis.
"kau ini benar-benar kurang pergaulan ya." ucap Erwin sambil meletak-kan tangan-nya di atas kepala Airin.
"jangan pegang kepala-ku seperti itu, aku bukan anak kecil." ucap Airin sambil menggembungkan pipi-nya dan membuat wajah-nya terlihat makin menggemaskan.
Di sisi lain, saat ini Airin dan Erwin menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di tempat itu. khusus-nya Airin yang memiliki wajah yang sangat cantik dan manis membuat banyak orang yang melihat-nya jadi tidak berhenti untuk memandangi Airin.
"wah gadis itu benar-benar cantik."
"dia terlihat sangat manis, apa pria yang bersama-nya itu kekasih-nya?"
"wah, beruntung sekali pria itu."
Berbagai opini keluar dari mulut orang-orang yang memperhatikan mereka. namun Erwin dan Airin tampak tidak peduli dan hanya terus berjalan.
__ADS_1
jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit