Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Geng Sadondo (2)


__ADS_3

Saat ini Pado terlihat mulai kesal dengan apa yang di lakukan oleh Erwin.


di mata Pado, saat ini Erwin sedang mengganggu-nya yang sedang bersenang-senang menindas Aprilio.


"oh.... ternyata kau berani juga menatap-ku seperti itu hah?!" ucap Pado dengan ekspresi kesal. "bocah bod0h ini benar-benar harus di beri pelajaran dulu biar paham di mana posisi-nya saat ini!" ucap Pado.


Lalu Pado pun berjalan mendekati Erwin.


sementara itu Erwin pun dengan segera maju mendekati Pado.


ia sama sekali tak peduli dengan jumlah geng Padondo yang jumlah-nya cukup banyak itu.


"seperti-nya memang masih banyak sampah di sekolah ini yang harus di bersih-kan!" ucap Erwin dengan nada tegas.


"siapa yang kau maksud sampah sial@n!!" ucap Pado dengan suara keras sambil melancar-kan tinju-nya ke wajah Erwin.


Erwin tak diam saja, dengan gerakan yang cepat Erwin langsung menghindar ke samping sambil memutar tubuh-nya. di waktu yang bersamaan, Erwin melancar-kan serangan tinju saat memutar.


Kini tinju yang di lancarkan oleh Erwin berhasil mengenai belakang kepala Pado.


Pado sedikit tersentak akibat tinju itu.


Pado pun kini memutar tubuh-nya dan melakukan tentangan ke arah perut Erwin.


namun dengan refleks yang cepat Erwin langsung memegang kaki Pado sambil menghindar ke samping, dan di saat yang bersamaan ia menarik kaki Pado yang berhasil ia tangkap itu ke depan sehingga kedua kaki Pado kini melebar dan diri-nya langsung jatuh ke lantai sambil meringis kesakitan serta memegangi pah@-nya yang terasa sakit karena terbuka sangat lebar sewaktu Erwin menarik kaki-nya.


"sial@n kau Erwin!!.... aku tak-kan memaafkan-mu!" ucap Pado yang tampak sangat kesal.


Sementara itu, para anggota Pado kini langsung maju ketika melihat ketua mereka terjatuh.


"bocah ini sudah terlalu sombong!" ucap salah satu dari anggota geng Padondo.


"ayo hajar dia sampai mampus!!" timpal anggota yang lain.


"ayo lari dari sini!" ucap Aprilio dengan cepat sambil pasang ekspresi yang terlihat gelisah.


"lari?" ucap Petra sambil menatap Aprilio yang saat ini berada di samping-nya. "aku benar-benar kecewa melihat orang seperti-mu menyuruh lari ketika bertemu orang-orang seperti ini.... harus-nya kau berkata maju, dan kemudian bertarung sampai menang!" ucap Petra sambil tersenyum licik.

__ADS_1


Mendengar ucapan Petra kini Aprilio hanya bisa diam sambil memaling-kan wajah-nya dari Madika.


Aprilio saat ini terlihat sedang menyembunyi-kan sesuatu dari mereka.


sementara itu, kini Ariel pun ikut membuka suara.


"dia benar!.... lebih baik kita lari saja!" ucap Ariel membenar-kan Aprilio.


Namun perkataan Aprilio dan Ariel tampak seperti angin lalu di telinga Petra dan Erwin.


kini Petra pun ikut maju menghadapi para anggota geng Padondo.


Pertarungan pun pecah. namun bagi Petra dan Madika, menghadapi anak geng abal-abal seperti ini bukan-lah masalah.


lagi pula geng mereka hanya sebatas di sekolah saja, mereka bahkan tak mempunyai sistem organisasi yang mumpuni.


mereka hanya berlandas-kan siapa yang terkuat ia yang memimpin.


hal itu tentu-nya membuat Petra dan Madika makin memprioritas-kan untuk menumbang-kan Pado agar semangat anggota-nya menghilang.


Kini Petra dan Erwin terus melancar-kan tinju serta tendangan ke arah Pado. sementara itu, para anggota Pado yang tampak ingin menghadang serta melawan Erwin dan Petra kini juga di hajar hingga terdorong mundur.


akhir-nya kini pado pun tumbang. ia tergeletak di lantai dengan wajah yang tampak babak belur.


Saat Pado tumbang dan tak punya tenaga untuk berdiri lagi, kini seluruh geng Padondo pun kehilangan harapan mereka.


bahkan jika di lihat dari situasi mereka saat ini, mereka benar-benar sangat di rugikan karena yang bisa berdiri dengan baik saat ini hanya ada tiga anggota saja. sisa-nya kini masih tergeletak di lantai dan ada juga yang berdiri-nya tampak oleng.


"sebaik-nya kalian pahami situasi kalian!.... pergi atau kalian semua kami bantai!" ucap Erwin menggertak anggota geng Sadondo dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi.


Mendengar perkataan Erwin itu, kini para anggota geng Sadondo tampak semakin ragu untuk menyerang lagi.


hingga akhir-nya Pado si ketua geng itu perlahan berdiri sambil memegang dada-nya yang saat ini terasa sakit.


setelah berdiri Pado pun langsung menyeka darah yang mengalir di pinggir bibir-nya.


"hahahaha...." Pado tertawa kecil. lalu ia mengangkat wajah-nya dan membalas tatapan tajam Erwin. "pergi kata-mu?.... tchi!.... setelah sekian lama aku tak pernah bertemu lawan yang kuat kau menyuruh-ku pergi sebelum benar-benar menikmati pertarungan?.... hahaha jangan bercanda!" ucap Pado dengan ekspresi yang tampak bersemangat.

__ADS_1


setelah berkat seperti itu, Pado pun langsung berlari ke arah Erwin dan Petra.


sambil berteriak dengan penuh semangat Pado langsung melompat ke arah Erwin sambil bersiap melancar-kan tinju-nya.


"sepertinya orang ini harus dihajar terlebih dahulu baru bisa paham dengan situasi-nya saat ini!" ucap Petra dengan ekspresi bosan.


Setelah berkata seperti itu Petra pun langsung bergerak dengan cepat.


ia maju dan langsung menangkap tangan Pado. setelah itu ia langsung memutar tubuh-nya seraya menarik tangan Pado dan kemudian menjatuh-kan Pado ke lantai.


seketika kepala Pado langsung terbentur ke lantai.


Tidak cukup sampai di situ, Petra yang saat ini masih memegang tangan Pado kini langsung menarik Pado dan menyeret-nya sejauh lima meter di lantai.


Pado pun tidak tinggal diam saat di tarik, diri-nya dengan cepat berusaha berdiri.


ia memutar kaki-nya dan mengayun-kan kaki-nya ke arah Petra.


Petra pun hampir terkena tendangan dari Pado. hal itu pun membuat Petra langsung melepas-kan pegangan-nya pada Pado.


lalu Petra pun langsung melompat ke belakang dan menjaga jarak dari Pado.


"hah... benar-benar orang yang keras kepala!" batin Petra sambil menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.


"biar aku saja yang menghadapi orang ini." ucap Erwin dengan ekspresi tenang sambil berjalan mendekati Petra.


Petra pun langsung menoleh ke arah Erwin.


"hah.... terserah kau saja." ucap Petra setelah menghela nafas dengan ekspresi bosan.


"tchi!... maju berdua sekaligus saja kalian!... aku tidak akan takut!" ucap Pado dengan ekspresi yang tampak penuh percaya diri.


meski-pun Pado berkata seperti itu dengan percaya diri, namun sebenar-nya saat ini ia langsung merasa-kan bahwa diri-nya tidak akan bisa menang jika harus berhadapan dengan Petra.


"tchi!.... aku belum pernah merasa-kan firasat seperti ini sebelum-nya, tapi entah kenapa, aku mendadak merasa-kan aura yang sangat mencekam dari bocah itu!.... meski-pun hanya dia sendiri yang maju, aku pasti tidak akan bisa menang jika melawan-nya!" batin Pado sambil melirik Petra dengan ekspresi kesal.


Kalau ada yang minat baca karya lainnya bisa cek di profil author ya...

__ADS_1



__ADS_2