Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Kabur


__ADS_3

Setelah beberapa saat pria misterius itu berbicara dengan Rogo dan pegawai-nya, tiba-tiba Erwin muncul dari sebuah koridor gelap yang saat ini lampu-nya padam akibat baku tembak yang terjadi sebelum-nya.


"kalian terlihat sangat akrab! apa perlu ku bunuh saja semua-nya!?" ucap Erwin dengan nada yang lantang sambil menodongkan pistol-nya ke arah pria misterius dan Rogo.


"seperti-nya terjadi sedikit kesalahpahaman di sini." ucap pria misterius satu sambil melirik ke arah Erwin.


"hei bocah! sebelum-nya sudah ku peringatkan! jangan macam-macam jika kau tak tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapan-mu." ucap pria misterius dua dengan ekspresi kesal menanggapi Erwin.


Erwin yang mendengar hal itu hanya diam dan langsung menembaki lantai yang di pijaki mereka sebanyak tiga kali.


mereka yang mendapati tembak-kan peringatan itu langsung terkejut kecuali pria misterius satu.


lalu pria misterius satu hanya tersenyum menanggapi tindakan Erwin.


"seperti-nya kau memang anak yang berani!" ucap pria misterius satu itu dengan nada memuji.


"jangan banyak bicara yang tidak perlu! sekarang jelaskan kenapa kalian bisa akrab!" tegas Erwin mendesak.


"begini, pria ini adalah pimpinan kami, dan aku hanya-lah salah satu bawahan-nya yang ia tugaskan memimpin tempat ini." ucap Rogo yang langsung berjalan ke samping pria misterius satu dan memperkenalkan pria misterius satu itu. lanjut-nya, "pimpinan kami ini bernama Lepi Aka. kami memanggil-nya tuan Lepi." jelas Rogo.


mendengar penjelasan Rogo itu membuat Erwin perlahan menurunkan pistol-nya dan langsung menyimpan-nya di balik jaket-nya.


"setelah kejadian malam itu, kau menyuruh-ku untuk menonton berita di esok hari." ucap Erwin mengungkit kejadian saat Erwin menghentikan penjual narkoba sambil berjalan mendekati kelompok tuan Lepi.


"lalu....?" tanya tuan Lepi sambil memasuk-kan kedua tangan-nya ke saku celana.


"lalu aku melakukan-nya. dan saat itu aku melihat berita bahwa tiga orang yang menjual narkoba itu langsung menjadi buronan yang di cari-cari oleh polisi." jelas Erwin dan langsung berhenti tepat di depan kelompok Lepi.


"jadi apa kesimpulan-mu?" tanya Lepi lagi.


"kesimpulan-ku...... kau adalah orang yang memiliki perselisihan dengan kelompok yang menjual narkoba itu. atau bahkan mungkin saja kau justru berselisih dengan kelompok Elang Hitam dan bukan hanya terhadap penjual narkoba itu." jelas Erwin lagi dengan ekspresi yang tampak sangat tenang.


~PROOK~


~PROOK~


~PROOK~


Lepi yang mendengar hal itu langsung bertepuk tangan dan melempar senyum-nya kepada Erwin.

__ADS_1


"kedua pendapat-mu itu memang benar." ucap Lepi.


"begitu ya..... jadi kau melakukan-nya karena kedua alasan itu." balas Erwin memastikan.


"ya benar!" jawab Lepi dengan cepat. lalu Lepi melemparkan sebuah topeng kepada Erwin.


"gunakan topeng itu, bukan-kah kau masih ingin menikmati masa SMA-mu?"


Erwin yang melihat topeng itu langsung menangkap-nya dan memegangi topeng itu. namun di sisi lain, Erwin sedikit terkejut karena Lepi yang mengetahui bahwa diri-nya masih SMA.


"apa mungkin dia asal tebak? tapi jika dia mengetahui tentang-ku, maka aku harus sedikit berhati-hati pada si Lepi ini." ucap Erwin dalam hati sambil menggunakan topeng itu di wajah-nya.


"sejujur-nya aku tak butuh lagi topeng ini karena pertarungan sudah berakhir." ucap Erwin sambil memasuk-kan kedua tangan-nya ke saku celana dengan santai-nya.


"ini belum berakhir! mereka masih akan datang ke tempat ini!" tegas Lepi sambil menepuk bahu Erwin.


"tadi kami melihat salah satu anggota Elang Hitam menghubungi anggota lain-nya. jadi ada kemungkinan mereka akan datang lagi." jelas pria misterius dua menimpali perkataan Lepi.


"apa!? yang benar saja!" ucap Rogo yang tampak terkejut.


"kalau begitu kita sebaik-nya segera pergi dari tempat ini!" ucap Bosu sambil menatap mereka semua yang ada di sana. lalu mereka semua mengangguk-kan kepala pertanda setuju. lalu mereka pun mulai beranjak dari tempat itu.


"ada apa?" tanya Lepi dengan singkat sambil menghadap Erwin.


"ada satu yang mengganjal di pikiran-ku." jawab Erwin.


"apa itu?" tanya Lepi lagi.


"siapa pria di samping-mu itu?" tanya Erwin sambil menunjuk pria misterius dua yang berdiri di sebelah Lepi.


mereka yang mendengar pertanyaan tak penting dari Erwin itu tentu-nya langsung pasang wajah malas yang terlihat aneh. sementara Muru langsung mengomel dengan wajah yang tampak kesal namun terkesan lucu.


"oh, pria ini adalah pengawal pribadi-ku, nama-nya Dopi." jelas Lepi memperkenalkan pria misterius dua yang bernama Dopi itu.


"oh, begitu ya, kalau begitu ayo bergegas!" ucap Erwin cepat sambil berjalan melewati mereka berlima.


"kami dari tadi sudah mau jalan kampr*t!!" ucap Muru yang terlihat kesal pada Erwin.


Belum sempat keluar dari kafe itu, tiba-tiba muncul segerombolan pria berpakaian hitam yang di lengkapi dengan senjata api di tangan mereka masing-masing. gerombolan itu berjalan dan langsung mengarahkan senjata-nya ke arah Erwin.

__ADS_1


Erwin yang melihat hal itu langsung terkejut bukan main dan menoleh ke belakang.


saat menoleh ke belakang, ia tak lagi melihat kelima pria yang mengobrol dengan-nya barusan. lalu ia menoleh ke arah pintu jalan menuju ke tempat senjata api di simpan, dan tampak Lepi dan yang lain-nya sudah berada di sana.


"sial*n!! kalian kabur-nya terlalu cepat!!" ucap Erwin yang langsung berlari ke arah Lepi dan yang lain-nya


"ini semua gara-gara kau bod*h!!" bentak Muru yang sudah bersembunyi di balik dinding menuju tempat persenjataan itu.


"kalian bertiga! ayo cepat masuk!" perintah Lepi sambil menoleh pada Muru, Bosu, dan Erwin.


lalu mereka bertiga langsung mendekati Lepi yang berdiri di pintu bawah tanah tempat mereka menjual senjata.


setelah itu mereka semua turun ke bawah dan di ikuti oleh Lepi dari belakang.


"hei, jika kita ke sini bagaiman dengan senjata-senjata yang di jual? bisa-bisa mereka akan mengambil semua senjata itu!" ucap Erwin dengan nada tergesa-gesa.


"tenang saja! kami sudah membereskan semua-nya! kita hanya perlu membawa-nya menggunakan mobil yang sudah kami siapkan!" tegas Bosu yang terus berlari.


Sementara itu, rombongan anggota Elang Hitam itu kini berhasil merusak pintu ruang bawah tanah dan langsung masuk untuk mengejar mereka.


Saat sedang berlari, tiba-tiba Erwin dan yang lain-nya langsung di kejutkan dengan tembakan beruntun yang di tembak dari arah belakang mereka.


mereka semua langsung berusaha mencari tempat perlindungan.


Sementara itu, Erwin tampak berlari dan langsung bersembunyi di balik tiang beton yang cukup besar. lalu ia mulai menembak gerombolan itu sehingga beberapa orang berhasil ia tewas-kan.


tak lama setelah itu, Erwin langsung berpindah lagi ke tiang beton yang lain-nya dan terus melakukan tembakan secara acak sehingga para anggota Elang Hitam merasa risih di buat-nya.


Setelah beberapa saat Erwin berpindah-pindah dari satu tiang ke tiang lain, tiba-tiba ia di panggil oleh Rogo dan yang lain-nya yang kini sudah berada di dalam mobil.


Melihat hal itu, Erwin pun langsung berlari ke arah mobil itu dan langsung melompat ke dalam-nya.


"tancap gas!!" teriak Erwin cepat dan langsung di patuhi oleh Bosu yang bertugas mengendarai.


Sementara mereka melaju, para gerombolan itu terus menembaki mereka dari dalam ruang bawah tanah. mereka berusaha mengejar mobil yang kini cukup jauh dari mereka.


Saat ini, mobil itu sudah bergerak mendaki, yang tandan-nya akan segera keluar dari ruang bawah tanah.


Di sebuah gang sunyi, tiba-tiba aspal jalanan terbuka dan dari bawah aspal itu melesat cepat sebuah mobil yang di kendarai oleh Bosu. mobil itu kini sudah keluar dari ruang bawah tanah, dan ketika sudah di luar, tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat di bawah tanah dan membuat jalanan di gang itu langsung ambruk.

__ADS_1


"apa yang terjadi di dalam sana?!" ucap Rogo dan Lepi secara bersamaan dengan ekspresi yang tampak bingung dan terkejut setelah mendengar suara ledakan dan melihat jalanan yang ambruk.


__ADS_2