
Toni yang saat ini sedang menggenggam kerah baju Petra tampak langsung menoleh pada Erwin.
"hah?! hentikan kata-mu?" ucap Toni sambil menatap Erwin dengan tatapan yang meremehkan.
"apa perkataan-ku masih kurang jelas di telinga-mu hah?!" ucap Erwin dengan suara yang terdengar dingin namun memberi kesan yang tegas sambil menatap dengan tatapan yang terlihat menyeramkan.
Toni yang melihat reaksi Erwin itu tentu langsung menatap Erwin dengan tajam dan langsung mengubah raut wajah-nya menjadi kesal.
"kau seperti-nya mau cari gara-gara dengan-ku ya?" ucap Toni sambil mendorong Petra yang saat ini sedang ia palak. lanjut-nya sambil membalik-kan badan-nya menghadap Erwin. "aku ingat, kau itu anak dari kelas sebelah yang di skorsing karena menghabisi Rimo dan kawan-kawannya." ucap Toni dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"memang-nya kenapa kalau kau sudah tahu siapa aku? apa itu akan mengubah keadaan?" ucap Erwin sambil memasuk-kan kedua tangan-nya ke saku celana.
"tchi! kau meremehkan-ku hah?!" bentak Toni yang makin kesal karena Erwin membalas perkataan-nya dengan cara yang tidak ia sukai.
"ya." balas Erwin dengan singkat dan tenang.
Melihat tanggapan Erwin yang sangat singkat itu membuat Toni semakin marah dan langsung maju menyerang Erwin.
Erwin yang melihat kedatangan Toni langsung menghindar ke samping dengan santai dan tangan-nya masih berada di saku celana-nya.
lalu Toni yang melihat hal itu dengan cepat langsung menendang ke arah kepala Erwin.
namun dengan cepat Erwin menunduk sehingga tendangan itu hanya lewat begitu saja di atas kepala Erwin.
"tchi!!" Toni berdecak kesal melihat dua serangan-nya di hindari.
lalu Toni yang tampak kesal itu langsung mengayunkan tinju-nya ke wajah Erwin.
namun karena refleks Erwin yang cukup cepat, Erwin dapat dengan mudah menghindari tinju itu.
Toni yang makin kesal kini langsung melancarkan tinju bertubi-tubi ke arah Erwin.
namun hal itu tidak di anggap serius oleh Erwin. karena semua serangan itu bisa di hindari oleh Erwin dengan santai-nya, bahkan ia tak perlu mengeluarkan tangan-nya dari saku celana-nya.
"kau itu kuat, tapi kau bodoh dalam bertarung." ucap Erwin sambil tersenyum saat menghindari serangan Toni.
"diam kau sial*n!! orang yang hanya menghindar seperti-mu tak pantas mengatai-ku Bangs*t!!" bentak Toni yang masih terus menyerang dengan cara membabi buta.
"aku menghindar saja tak bisa kau atasi, bagaimana jika aku menyerang?" ucap Erwin dengan penuh percaya diri.
"diam dan gunakan tangan-mu!! aku tidak suka di remehkan oleh seorang pecundang sekolahan seperti-mu!!" bentak Toni dengan wajah yang tampak jelek karena emosi.
"pecundang sekolahan? ah... itu julukan-ku yang dulu...." ucap Erwin yang tampak tersinggung.
__ADS_1
"dulu? tidak ada kata dulu bagi-mu!! karena sampai saat ini kau masih pecun...."
~BRUAAGH~
Ucapan Toni terhenti dan perut-nya terkena tendangan yang sangat kuat dari Erwin.
Toni yang terkena tendangan itu tentu-nya terlempar ke belakang dan langsung berguling di jalanan.
Saat ini Toni tampak terkapar di jalanan, dan ia terlihat berusaha mati-matian untuk berdiri.
sementara itu, Erwin langsung mendekati Toni, lalu ia berdiri di hadapan Toni yang saat ini sedang duduk dengan posisi membungkuk.
"sekarang bisa kau jelaskan siapa yang pecundang di sini?" tanya Erwin dengan suara yang terdengar dingin.
Mendengar suara dingin Erwin itu membuat bulu kuduk Toni tiba-tiba berdiri, tubuh Toni pun ikutan merinding karena merasakan sesuatu yang membuat diri-nya takut.
"ap-apa-apaan dia ini?" ucap Toni yang tak berani menatap Erwin karena ketakutan.
"ku peringatkan kau, sebaik-nya kau hentikan perbuatan-mu ini! karena jika aku masih melihat ada orang lain yang mengalami hal yang sama dengan apa yang ku alami, maka aku akan menghabisi pelaku yang melakukan perbuatan yang seperti ini!" ucap Erwin dengan tatapan yang mengintimidasi.
Sementara itu, saat ini Petra hanya bisa melihat Erwin yang sedang memarahi Toni.
sesaat kemudian Petra tiba-tiba langsung tersenyum tipis melihat aksi Erwin.
"menarik...." ucap Petra dalam hati.
Setelah Toni telah lenyap dari pandangan mereka, kini Erwin langsung berjalan mendekati Petra yang saat ini sedang memperhatikan diri-nya.
"apa kau tak apa-apa?" tanya Erwin saat ia sudah berada di dekat Petra dan berdiri berhadapan dengan Petra.
"ya aku tidak apa-apa... terimakasih karena sudah menolong-ku." ucap Petra sambil tersenyum menatap Erwin.
"ya, sama-sama." balas Erwin yang kemudian menimpali-nya. "boleh ku tahu siapa nama-mu?" tanya Erwin sambil membalas senyuman Petra.
"nama-ku Petra Arata, panggil saja Petra." jawab Petra memperkenalkan diri.
"Petra ya...." gumam Erwin yang kemudian langsung menimpali ucapan-nya. "nama-ku Erwin Aksa, panggil saja Erwin." ucap Erwin memperkenalkan diri.
Setelah berkenalan, kini Petra langsung mengajak Erwin ke sebuah kafe dan mentraktir Erwin sebagai bentuk rasa terimakasih Petra pada Erwin.
*****
Saat ini Erwin dan Petra sudah keluar dari kafe dan mulai melakukan aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Erwin sedang mengendarai motor-nya dan bergerak dengan cukup cepat.
tujuan Erwin kali ini adalah rumah Airin. hal itu di karenakan saat Erwin mengobati Airin, Erwin sempat meletak-kan handphone-nya di atas tempat tidur Airin. dan saat ia pergi, ia lupa mengambil handphone-nya itu.
Ketika Erwin sudah tiba di rumah Airin, Airin langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Erwin masuk.
lalu Erwin masuk dan menjelaskan tujuan kedatangan-nya ke rumah Airin.
"kalau begitu langsung ambil saja di kamar, aku tak mengunci kamar-ku." ucap Airin yang kemudian langsung ke dapur.
"baiklah." balas Erwin sambil mengangguk.
"oh iya...." ucap Airin yang berhenti melangkah dan langsung menoleh ke arah Erwin. lanjut-nya sambil tersenyum. "aku baru saja mau memasak, apa kau mau makan malam di sini?" tanya Airin.
"hm?..." gumam Erwin sambil mengelus dagu-nya dan berpikir.
"boleh lah, mumpung gratis." jawab Erwin.
"kalau begitu aku ke dapur dulu." balas Airin dan langsung pergi ke dapur.
Setelah itu, Erwin langsung mengambil handphone-nya di kamar Airin. setelah mengambil handphone-nya, kini Erwin juga pergi ke dapur untuk melihat Airin yang sedang memasak.
"mau ku bantu?" tanya Erwin yang saat ini berdiri di pintu dapur.
Airin yang mendengar suara itu langsung menoleh sambil tersenyum.
"memang-nya kau tahu cara memasak?" tanya Airin.
"kau pikir orang yang hidup sendiri di rumah tidak tahu memasak?" balas Erwin bertanya.
Airin yang mendengar tanggapan itu hanya tersenyum dan langsung mengijinkan Erwin untuk membantu-nya.
******
Setelah mereka selesai memasak, mereka pun langsung makan.
setelah selesai makan, mereka berdua kini duduk di ruang tamu dan mengobrol satu sama lain. awal-nya mereka hanya membahas hal-hal yang ringan saja, sampai akhir-nya Erwin bertanya.
"bagaimana keadaan orang tua-mu di luar negeri?" tanya Erwin sambil meminum secangkir kopi yang ia pegang saat ini.
Airin yang mendengar pertanyaan itu langsung mengubah raut wajah-nya menjadi sedih.
Erwin yang menyadari perubahan itu pun langsung bingung dan menatap Airin dengan lembut.
__ADS_1
"Airin?" ucap Erwin dengan nada yang halus.
"sebenar-nya, kedua orang tua-ku sudah meninggal." ucap Airin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.