
Saat ini Erwin sedang melaju dengan motor-nya dan diri-nya kini memelankan laju motor-nya ketika sudah dekat dengan rumah-nya.
Ketika Erwin sudah dekat dengan rumah-nya, ia sedikit terkejut ketika melihat Santi yang sedang berdiri di dapan pagar rumah-nya sambil memeluk tas milik-nya di depan dada.
Saat Erwin tiba di depan Santi, ia langsung membuka pagar rumah-nya dan langsung bertanya pada Santi.
"apa kau sudah menunggu lama?" tanya Erwin.
"tidak juga, lagi pula aku kemari hanya untuk membawa tas-mu yang tertinggal di sekolah." jelas Santi tanpa menatap Erwin.
"sudah ku duga dia akan berkata seperti itu." ucap Erwin membatin karena diri-nya sudah menduga ketika melihat Airin memeluk tas-nya itu.
"apa kau mau masuk dulu?" tanya Erwin sambil melempar senyum pada Santi.
"uhm." gumam Santi sambil mengangguk pelan tanpa menatap wajah Erwin. lanjut-nya, "aku ingin bicara dengan-mu, jadi lebih baik jika aku mampir saja."
"baiklah kalau begitu. ayo ikut aku." ucap Erwin yang kemudian memarkir motor-nya di garasi dan langsung masuk ke dalam rumah.
sementara itu Santi tampak sedang berjalan mengekori Erwin dari belakang.
sesampai-nya di ruang tamu Erwin langsung mempersilahkan Santi untuk duduk di sofa.
"silahkan duduk dulu, aku mau menyimpan tas-ku dulu." ucap Erwin sambil tersenyum ke arah Santi.
"iya, aku tunggu kau di sini." balas Santi sambil menoleh pada Erwin saat diri-nya sudah menyandarkan tubuh di sofa itu.
Erwin yang mendengar perkataan Santi hanya tersenyum dan kemudian berjalan ke kamar-nya untuk menyimpan tas-nya.
Beberapa saat kemudian, Erwin datang menghampiri Santi yang sedang duduk di sofa, dan tampak Erwin membawa dua gelas minuman coklat panas serta beberapa cemilan.
"ini coklat panas dan cemilan kesukaan-mu. ku harap kau menikmati-nya." ucap Erwin sambil tersenyum lalu meletak-kan coklat panas dan cemilan itu di atas meja.
Sementara itu, Santi justru terlihat sedikit bingung dan ia langsung bertanya pada Erwin.
"dari mana kau tahu kalau ini adalah cemilan dan minuman kesukaan-ku?" tanya Santi dengan ekspresi bingung dan menatap Erwin dengan tatapan menyelidik.
Erwin yang mendapati pertanyaan itu sedikit tersentak. namun diri-nya tetap tenang dan setelah itu langsung tersenyum tipis.
__ADS_1
"benar juga, aku baru tahu tentang cemilan kesukaan-nya saat kami sudah pacaran, jadi wajar saja jika dia merasa aneh karena aku tiba-tiba mengetahui hal ini." ucap Erwin dalam hati.
setelah itu Erwin langsung menatap Santi sambil melebarkan senyum-nya yang ramah.
"aku hanya asal menebak kok." ucap Erwin dengan nada yang halus.
Santi yang mendengar jawaban Erwin hanya bisa diam.
sesaat kemudian ia langsung menepis pikiran-nya yang bertanya-tanya itu. lalu ia segera meraih segelas minuman coklat panas itu serta memakan cemilan yang ada.
"bagaimana? enak bukan?" ucap Erwin bertanya sambil tersenyum.
"uhm." balas Santi bergumam sambil mengangguk pelan.
Erwin yang melihat reaksi Santi hanya bisa tersenyum tipis dan menatap Santi dengan lembut.
setelah beberapa saat kemudian, Santi langsung mulai membuka percakapan yang menjadi salah satu tujuan-nya datang ke rumah Erwin.
"be-berapa lama kau di skors dari sekolah?" tanya Santi sambil malu-malu dan tak mau menatap Erwin.
"ehh? ini baru satu hari aku tidak ke sekolah, apa kau sudah merindukan-ku?" tanya Erwin menggoda Santi.
"oh begitu ya." ucap Erwin dan langsung menimpali-nya. "aku hanya di skorsing selama satu Minggu saja kok, tidak terlalu lama." ucap Erwin dengan santai-nya.
"hei Erwin...." ucap Santi dengan nada yang terdengar lirih sambil menatap Erwin.
"ada apa?" tanya Erwin dengan tenang.
"kenapa akhir-akhir ini kau terlihat berbeda?" tanya Santi.
"maksud-mu?" balsa Erwin sambil sedikit memiringkan kepala-nya karena bingung.
"kau biasa-nya tidak akan melawan Rimo ataupun teman lain-nya yang menjahili-mu, tapi akhir-akhir ini kau sudah berani melawan mereka." jelas Santi dan kemudian sedikit menunduk-kan kepala-nya. lanjut-nya, "sejujur-nya aku sangat senang kau sudah bisa membela diri, hanya saja..... kau justru terlihat sedikit berlebihan." ucap Santi dengan nada yang sedikit ragu.
"maksud-mu aku terlalu kejam menghajar mereka?" tanya Erwin lagi sambil mengangkat satu alis-nya.
"uhm." gumam Santi membenarkan.
__ADS_1
Mendengar pendapat Santi itu membuat Erwin langsung tersenyum tipis. lalu ia berdiri dan kemudian perlahan berjalan dan kemudian duduk di samping Santi.
Santi yang merasakan Erwin yang sudah duduk di samping-nya langsung mengangkat wajah-nya dan langsung menoleh ke samping.
saat diri-nya menoleh, tangan Erwin sudah mendarat di atas kepala-nya dan mengelus kepala-nya dengan lembut.
Saat ini Santi bisa melihat Erwin yang sedang tersenyum manis sambil mengusap kepala-nya dengan lembut.
hal itu tentu-nya membuat Santi langsung berdebar-debar dan wajah-nya langsung memerah.
Setelah itu Santi langsung meraih tangan Erwin dan memegang tangan Erwin menggunakan kedua tangan-nya sambil menurunkan tangan Erwin di depan dada-nya. lalu ia langsung menatap Erwin dengan serius.
"apa kau adalah Erwin yang dulu ku kenal?" tanya santi dengan serius.
"apa kau meragukan diri-ku?" balsa Erwin bertanya namun tetap tersenyum.
"i-iya, aku aku sedikit ragu." jawab Santi Dangan nada yang agak ragu.
"sebenar-nya...." ucap Erwin dan kemudian mulai menjelaskan semua yang terjadi pada diri-nya.
ia juga menjelaskan tentang luka di tubuh-nya yang kini hanya bisa ia samarkan dengan membuat tato di sekujur tubuh yang terluka. selain itu Erwin pun bahkan sempat membuka baju-nya agar Santi benar-benar bisa percaya dengan apa yang ia katakan.
Setelah mendengar semua penjelasan Erwin, Santi pun hanya bisa terkejut dengan mulut yang menganga namun di tutup oleh kedua tangan-nya.
"ke-kenapa mereka sekejam itu pada-mu?" ucap Santi dengan ekspresi yang tampak bersimpati.
Erwin yang melihat reaksi Santi hanya bisa tersenyum agar Santi tidak perlu memikirkan masalah diri-nya dengan orang-orang yang menjahili-nya. karena Erwin tahu bahwa Santi itu adalah tipe gadis yang berani, ia bahkan tak takut menghajar preman sekolah. dengan berbekalkan kemampuan bela diri, Santi sudah di kenal sebagai gadis yang berhasil menghajar beberapa pria yang pernah mengganggu diri-nya di sekolah. itu lah sebab-nya banyak pria di sekolah yang tidak mau macam-macam pada Santi.
"kau tak perlu terlalu memikirkan hal itu, karena aku sudah membereskan masalah itu sekarang." ucap Erwin yang kemudian menimpali-nya. "sejujur-nya aku merasa sedikit malu jika kau terus-terusan melindungi-ku, itu akan membuatku terlihat makin buruk, karena seharus-nya aku yang sebagai laki-laki lah yang harus melindungi-mu." jelas Erwin sambil mendekatkan kepala-nya ke kepala Santi. lalu ia langsung menyandarkan dahi-nya ke dahi Santi.
******
Saat ini, pihak kepolisian sedang melakukan persiapan untuk melakukan penyergapan malam ini.
tujuan dari kepolisian serta beberapa anggota tentara adalah untuk melenyapkan sumber dari senjata api ilegal. dengan kata lain, mereka akan menyerang setiap cabang penjualan senjata ilegal di kota ini.
*******
__ADS_1
Di sebuah markas Elang Hitam, tampak Tono Sutirno sedang mempersiapkan kelompok-kelompok yang di butuhkan untuk sebuah operasi penyerangan dan pembasmian.
tujuan Tono saat ini adalah menghancurkan semua anggota Lepi yang berada di tiap cabang penjualan senjata api ilegal. hal itu di karenakan Tono sudah siap untuk memutuskan hubungan kerjasama mereka dengan Lepi karena Lepi sudah di anggap menghianati Elang Hitam.