Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Rimo Dan Elang Hitam


__ADS_3

Ketika Petra melihat beberapa dari mereka mulai waspada. Petra pun langsung tersenyum licik dan membuat wajah-nya terlihat menyeramkan.


"orang seperti kalian tak pantas mengaku sebagai anggota Elang Hitam!" ucap Petra sambil berseringai dengan penuh percaya diri.


Di sebuah ruangan lain yang ada di gedung itu. tampak Rimo sedang berbicara dengan salah satu utusan Tono yang bertugas untuk memimpin kelompok kecil yang ada di daerah itu.


"apa aku perlu membantu anggota lain-nya untuk membereskan penyusup itu?" tanya Rimo.


"tidak perlu.... untuk sekarang kau diam saja di sini sampai aku menyuruh-mu.... lagi pula penyusupan-nya hanya ada satu orang." jelas utusan Tono itu sambil menopang dagu-nya menggunakan tangan kanan.


"baiklah kalau begitu." ucap Rimo yang kemudian segera duduk di kursi yang ada di depan meja utusan Tono itu.


Di sisi lain, saat ini Petra sudah di serang oleh para anggota Elang Hitam yang ada di ruangan itu.


namun aneh-nya tak satu pun dari mereka yang serangan-nya berhasil mengenai Petra.


hal itu tentu-nya membuat para anggota Elang Hitam itu jadi kesal, sementara Petra justru terlihat senang dan terus berseringai licik sambil menghindar dari semua serangan mereka.


"sial!! dia sama sekali tidak tersentuh!!" ucap salah satu dari anggota Elang Hitam yang tampak kesal.


******


Saat ini suasana tengah malam di pedesaan benar-benar sangat sunyi.


tidak ada satu-pun suara kendaraan, apalagi manusia yang terdengar.


Sementara itu, di sebuah kamar, tampak Airin dan Jasie sedang terbaring di atas ranjang.


tak lama setelah itu, Jasie tampak membuka mata-nya secara perlahan.


Namun entah karena memikirkan apa, kini Jasie tampak langsung bangun dan turun dari ranjang itu.


setelah itu ia mulai berjalan perlahan keluar dari kamar itu agar tidak terdengar suara saat ia melangkah keluar.


Setelah ia keluar dari kamar itu, ia pun langsung berjalan ke kamar yang saat ini sedang di gunakan oleh Erwin.


sesampai-nya di depan pintu kamar itu, Jasie langsung membuka pintu itu secara perlahan agar tak terdengar oleh Erwin yang saat ini sedang tidur di dalam.


Setelah itu Jasie pun langsung masuk ke kamar itu dan mendapati Erwin yang saat ini sedang terbaring di atas ranjang.


Tanpa banya basa-basi, kini Jasie langsung naik ke atas ranjang itu dan langsung masuk ke dalam selimut yang saat ini di gunakan oleh Erwin.


Erwin yang merasakan ada sesuatu yang kenyal menyentuh daerah perut-nya langsung sadar.

__ADS_1


ia perlahan membuka mata-nya dan saat ia bisa melihat dengan jelas, mata-nya langsung mendapati wajah Jasie yang saat ini membaringkan tubuh-nya di atas Erwin dengan posisi menghadap ke bawah.


Hal itu membuat Erwin sedikit tersentak. namun ia segera tenang saat menyadari bahwa gadis itu adalah Jasie.


"apa kau ada masalah?" tanya Erwin sambil memejamkan mata-nya dan langsung memeluk Jasie.


Saat Erwin memeluk Jasie, wajah Jasie tiba-tiba memerah dan ia tampak merasa nyaman berada di dekapan Erwin.


"aku hanya merasa tidak beruntung." ucap Jasie sambil merapatkan pipi-nya ke dada Erwin.


"tidak beruntung? apa maksud-mu?" tanya Erwin yang berpura-pura tidak tahu.


"hehehe bukan apa-apa kok." ucap Jasie sambil tertawa hambar seraya menggelengkan kepala-nya pelan.


Sebenar-nya Erwin sudah tahu tentang apa dan kemana arah pembicaraan Jasie. namun Erwin sengaja berpura-pura bodoh karena ia sadar bahwa gadis yang saat ini di peluk-nya adalah keponakan-nya sendiri.


Sementara itu, Jasie hanya diam sambil memejamkan mata-nya secara perlahan.


"kenapa kau harus jadi paman-ku?" batin Jasie sambil melekatkan diri pada Erwin.


******


Saat ini, di sebuah ruangan yang cukup luas, tampak banyak anggota Elang Hitam yang sudah hilang kesadaran. bahkan banyak dari mereka yang tampak memiliki wajah yang berlumur darah.


Sementara itu, di tengah-tengah ruangan itu hanya ada satu orang pria yang masih berdiri.


bisa di lihat dari wajah-nya yang saat ini terus menunjuk-kan seringai yang menakut-kan.


"lemah!" ucap Petra yang saat ini sedang tersenyum dengan ekspresi yang menakutkan.


Sementara itu, di ruangan yang berbeda, tampak Rimo dan kedua teman-nya sedang duduk berhadapan dengan urusan Tono.


"apa sekarang aku boleh menunjuk-kan seberapa mampukah kami agar bisa di terima secara resmi di sini?" tanya Rimo dengan penuh percaya diri.


"baiklah, lakukan sekarang juga!" perintah utusan Tono itu karena diri-nya memang ingin menguji Rimo dan kawan-kawannya sebelum menerima mereka secara resmi.


Setelah menyelesaikan pertarungan di ruangan sebelum-nya, kini Petra langsung berjalan lagi di sebuah koridor sambil mengedarkan pandangan-nya dengan penuh kewaspadaan.


"seperti-nya dugaan-ku benar! mereka memang mempunyai kamera pengintai di setiap sudut ruangan, dan bisa jadi saat ini aku masih terus di pantau oleh mereka!" batin Petra sambil terus berjalan dengan waspada.


Setelah beberapa saat berjalan, kini Erwin menemukan jalan buntu di koridor yang saat ini ia lewati, dan di ujung koridor itu hanya ada satu pintu di salah satu dinding sebelah kiri.


Melihat koridor buntu itu, Petra hanya bisa memegang dinding koridor itu.

__ADS_1


tak lama kemudian Petra pun langsung berseringai.


seringai yang saat ini di tunjuk-kan oleh Petra adalah seringai yang menunjuk-kan bahwa diri-nya sudah tahu di mana letak ruang rahasia itu.


Setelah itu dengan cepat Petra langsung menoleh ke samping kiri-nya dan menatap pintu yang saat ini berada di dinding sebelah kiri.


Di balik pintu itu terdapat ruangan yang tidak begitu luas. ruangan itu penuh dengan kursi dan meja yang tertata rapi. di antara kursi dan meja itu, tampak Rimo dan kedua teman-nya sedang berdiri dan menghadap ke arah pintu yang akan di lalui oleh Petra.


"bersiaplah! kita akan melawan musuh yang kuat!" ucap Rimo sambil menoleh pada kedua teman-nya yang berdiri di samping kiri dan kanan-nya.


Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu yang sedang di dobarak.


mereka bertiga yang mendengar suara dobrak-kan itu dengan segera menatap ke arah pintu. Dan sekali lagi, pintu itu di dobrak dengan kuat dari luar.


Setelah terdengar beberapa kali percobaan mendobrak, suasana di ruangan itu pun menjadi tegang karena mereka berpikir bahwa Petra akan segera muncul karena pintu yang di dobrak kini mulai hancur.


~BRUAKKK!!!~


Tiba-tiba tembok yang ada di samping pintu hancur dan membuat semua bata yang ada di tembok itu terlempar ke dalam ruangan dan berhamburan di lantai.


dinding yang hancur itu menghasilkan lubang yang sangat besar sehingga bisa di lewati oleh seseorang untuk masuk ke dalam ruangan.


"yang benar saja!" batin Rimo yang terkejut melihat dinding hancur begitu saja.


"hei! di mana orang yang menghancurkan dinding itu?" tanya salah satu teman Rimo.


Mendengar pertanyaan itu membuat Rimo tersadar dari keterkejutan-nya.


ia pun langsung mengedarkan pandangan-nya ke segala arah.


"benar juga, aku sama sekali tidak melihat ada yang datang bersamaan dengan dinding yang hancur itu!" ucap Rimo dalam hati sambil pasang kuda-kuda untuk bertarung.


"seperti-nya orang itu menghancurkan dinding menggunakan palu besar itu!" ucap salah satu teman Rimo lagi sambil menunjuk sebuah palu dengan berat sekitar 15 kilogram yang tergeletak di lantai.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu masuk yang berada di samping dinding hancur itu langsung terbuka.


"trick or treat?" ucap Petra sambil tersenyum manis dan membuka pintu itu dengan wajah girang.


"dia malah lewat pintu!!" ucap Rimo dan kawan-kawannya dengan serentak sambil pasang ekspresi yang jelek.


note: buat pembaca, jika ada masukan silahkan di tuliskan lewat komentar.... soal-nya


Thor mau tau selera pembaca di sini.

__ADS_1


jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit.


__ADS_2