
Ketika Erwin sudah terbangun dari pingsan-nya, ia langsung berdiri dan menatap Sagit dengan tatapan yang tampak waspada.
Sagit yang melihat reaksi Erwin itu hanya diam dan tidak bergerak sedikit pun. sesaat kemudian Sagit menggelengkan kepala-nya sambil menghela nafas panjang.
"kau tak perlu se-waspada itu pada-ku." ucap Sagit dengan suara yang tenang.
"apa tujuan Elang Hitam yang sebenar-nya?!" ucap Erwin dengan tegas.
"tujuan yang sebenar-nya?.... entahlah, kami sama sekali tidak tahu pasti apa tujuan kami yang sebenar-nya." ucap Sagit sambil menggeleng kepala-nya dengan ekspresi malas.
Mendengar jawaban Sagit tentu-nya membuat Erwin jadi bingung dan menatap Sagit dengan tatapan yang penuh rasa kesal.
"apa-apaan jawaban-mu itu!" bentak Erwin yang tampak kesal.
"apa jawaban-ku kurang jelas?" tanya Sagit sambil menatap Erwin dengan serius.
"tentu saja kurang jelas!" bentak Erwin lagi.
"hah...." Sagit menghela nafas dengan malas. lanjut-nya, "sejujur-nya tujuan kami hanyalah mencari uang! tetapi tujuan sebenar-nya dari sang 'Elang Hitam' sama sekali belum bisa kami tebak." jawab Sagit menjelaskan.
"tcih!" Erwin berdecak sambil buang muka.
"bagaimana dengan-mu? apa tujuan-mu?" tanya Erwin.
"hmm...?" gumam Sagit sambil memiringkan kepala-nya. "tujuan-ku tidak lah sederhana, tapi inti-nya aku ingin menghentikan adik-ku yang sudah salah ambil jalan." jelas Sagit dan kemudian berseringai.
*****
Setelah Erwin selesai berbicara dengan Sagit, kini mereka mulai mengambil jalan masing-masing, dan saat mereka hendak berpisah, Sagit sempat mengancam Erwin agar Erwin tak membocorkan rahasia tentang diri-nya.
Erwin yang mendapati ancaman itu hanya bisa diam dan ia berusaha mengolah pikiran-nya untuk menanggapi ancaman itu.
setelah itu Sagit langsung pergi tanpa menunggu tanggapan dari Erwin.
******
Setelah hari mulai sore, Erwin pun langsung bangun dari tidur-nya di gazebo yang ia sewa itu.
setelah bangun ia langsung mengedarkan pandangan-nya untuk mencari keberadaan Airin.
tak lama setelah itu Erwin pun melihat Airin yang sedang bermain di air terjun bersama beberapa anak kecil yang ada di sana.
"dia bersemangat sekali." ucap Erwin yang kemudian tersenyum manis menatap Airin yang sedang bermain air dengan anak-anak itu.
Sesudah itu Erwin pun langsung turun dari gazebo itu dan langsung berjalan santai menghampiri Airin dan anak-anak itu.
__ADS_1
saat sampai, Erwin langsung menjadi pusat perhatian beberapa anak kecil yang sedang bermain dengan Airin.
"Airin...? kakak itu seperti-nya sedang memperhatikan-mu dengan tatapan penuh nafsu." ucap salah satu gadis kecil yang berada di air itu.
"barusan kau bilang apa hah?" tanya Erwin dengan halus namun tatapan dan ekspresi wajah Erwin tampak menakutkan.
hal itu pun membuat anak itu langsung takut, dan anak itu pun langsung berlari dan bersembunyi di belakang Airin.
"Erwin.... kau membuat anak-anak jadi takut." ujar Airin sambil berkacak pinggang dan menatap Erwin dengan malas.
"ah.... maaf-maaf..." ucap Erwin sambil tertawa hambar.
"apa dia orang jahat?" tanya gadis yang sedang bersembunyi di belakang Airin.
Mendengar pertanyaan itu Airin pun langsung menunduk dan kemudian memegang pundak gadis kecil itu.
"tenang saja... dia memang terlihat kejam, tapi sebenar-nya dia itu cukup baik kok." jelas Airin.
Sesudah itu Airin pun langsung berdiri dan kemudian ia menatap Erwin dengan tatapan yang penuh makna.
Melihat tatapan itu Erwin pun langsung menelan ludah dengan kasar.
"firasat-ku tidak enak sekarang." batin Erwin.
lalu Airin pun langsung menarik Erwin ke dalam air.
meskipun begitu, Erwin yang menyadari niat Airin langsung berusaha untuk mempertahankan diri di atas batu yang ia pijaki karena ia tak mau jatuh ke dalam air.
Melihat Erwin yang keras kepala, Airin pun berusaha sekuat tenaga untuk menarik Erwin.
hingga akhir-nya kaki Erwin terpeleset karena batu yang ia pijaki sedikit licin. hal itu pun membuat Erwin langsung terjatuh ke arah Airin.
Saat terjatuh, Erwin bergerak dengan cepat untuk memeluk Airin, lalu dengan segera ia langsung memutar posisi tubuh-nya dengan posisi tubuh Airin sehingga saat terjatuh hanya Erwin-lah yang menghantam bebatuan yang ada di bawah air itu.
"Aargg." ucap Erwin meringis kesakitan.
"apa yang terjadi?" tanya Airin yang tampak sedikit khawatir karena Erwin mengeluarkan suara seperti sedang kesakitan.
"apa kau baik-baik saja?" ucap Erwin balik bertanya dan tidak menjawab pertanyaan Airin.
"aku baik-baik saja, tapi bisa kah kau turun dari atas tubuh-ku?" ucap Erwin.
"ah maaf." balas Airin yang kemudian langsung mundur. lanjut-nya dengan ekspresi yang tampak malu-malu dan sedikit rasa bersalah, "ehm.... terimakasih."
Mendengar ucapan terima kasih itu membuat Erwin sedikit bingung dan langsung memiringkan kepala-nya.
__ADS_1
"kau berterima kasih untuk apa?" tanya Erwin.
"ehm... karena tadi kau sudah membuat-ku terhindar dari batu yang ada di bawah-mu saat ini." ucap Airin sambil membuang pandangan-nya dengan ekspresi bersalah.
Mendengar penjelasan itu Erwin pun langsung tersenyum. lalu ia pun langsung meletakkan tangan kanan-nya di atas kepala Airin.
"seperti-nya kau sudah menyadari-nya ya.... padahal tadi aku tidak ingin kau tahu kalau tubuh-ku sedang berhantaman dengan batu." jelas Erwin sambil mengelus kepala Airin.
******
Saat ini Erwin dan Airin sudah pulang.
saat tiba di rumah kakek-nya, hari pun sudah mulai gelap.
"seperti-nya kita pergi cukup lama." ucap Erwin sambil menatap Airin.
"yang nama-nya refreshing tentu harus lama, bahkan harus sampai puas." balas Airin sambil menggembungkan pipi-nya dan membalas tatapan Erwin.
"hahaha begitu ya..." ucap Erwin sambil tertawa kecil. lalu Erwin meletakkan tangan kanan-nya di atas kepal Airin sambil mengelus kepala Airin dengan lembut. "kalau begitu lain kali kita jalan-jalan lagi." balas Erwin sambil tersenyum manis pada Airin.
Mendengar ajakan Erwin itu membuat raut wajah Airin seketika terlihat senang.
ia kemudian tersenyum sambil mengangguk untuk menanggapi perkataan Erwin.
******
Malam itu, saat setelah makan malam, tampak kakek Erwin sedang duduk di ruang tengah sambil meminum minuman yang memabuk-kan.
orang-orang di daerah itu menyebutnya 'tule'.
'tule' adalah minuman yang berasal dari pohon enau.
Saat itu, tampak Airin datang dan duduk di depan kakek Erwin. ia kemudian melihat kakek Erwin menuang 'tule' itu ke gelas.
saat ia melihat kakek Erwin meminum minuman itu, Airin pun penasaran dengan minuman itu karena warna minuman itu putih dan di atas-nya tampak sedikit berbusa.
"apa minuman itu rasa-nya enak?" tanya Airin.
Mendengar pertanyaan itu kakek Erwin langsung menoleh pada Airin.
"apa kau mau mencoba-nya?" tanya kakek Erwin.
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit
__ADS_1