Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Episodes 13


__ADS_3

Hansen lebih memilih istirahat di kamar sedangkan Rayen duduk santai di teras melihat bunga yg berjejer rapi di halaman depan rumah Siska.


Siska datang dan duduk di samping Rayen.


"Sis, enak ya kamu punya orang tua yg ramah kaya mereka." Rayen menyandarkan kepalanya di gunungan kursi yg terbuat dari bambu kuning itu.


"Ya begitulah. Orang itu sawang sinawang Kak. Maksudnya gini, mungkin aku lihat Kakak itu hidupnya jauh lebih baik dari aku dan begitu sebaliknya, Kakak lihat hidup aku juga seperti tidak ada beban. Pada kenyataanya semua hidup manusia itu penuh perjuangan dan banyak cobaan." Jawabnya panjang lebar.


Rayen mengangkat kepalanya dan sempat melirik ke arah Siska pelan. Dia kagum dengan kedewasaan Siska padahal umurnya masih jauh lebih muda darinya tapi cara berfikirnya melebihi umurnya.


"Iya bisa jadi kaya gitu." Sahut Rayen singkat.


Mereka kembali diam dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Merasakan kesejukan angin sore yg terombang ambing dari arah berlawanan.


Lia datang membawa paperbag dan menatap Rayen angkuh. Wajah asing telah membuat Lia bertanya siapa kah gerangan cowok tampan yg duduk di sebelah adiknya.


Lia memilih berdehem untuk membubarkan lamunan mereka.


Ehem...


Suara itu terdengar keras di telinga Siska dan juga Rayen. Seketika itu mereka tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah Lia bersamaan.

__ADS_1


"Kakak." Siska langsung berdiri cepat dan memeluk kakaknya. Rasa kangen terlihat jelas di benaknya karena sudah lama mereka tidak saling bertemu.


Lia bukannya membalas pelukan Siska tapi malah menepisnya halus. Masih di selimuti rasa kesal di hatinya karena Siska lebih dulu mengisi ruang hati Edwin. Edwin adalah pria yg di cintai Lia sejak kecil. Ia sudah berusaha mencintai Ilham tapi hati tidak bisa di bohongi, meskipun cincin cantik sudah melingkar di jemari manisnya. Pada kenyataanya dia tidak mampu melupakan Edwin dari dalam hatinya.


"Kakak kenapa?" Siska tidak percaya jika Lia akan menolak pelukannya.


"Maaf, aku lelah jadi aku mau istirahat." Jawabnya berbohong. Lia berlalu begitu saja tanpa menggubris adiknya yg masih merindukannya.


Siska kembali duduk di samping Rayen dengan wajah heran dengan sikap kakaknya yg sok cuek padanya.


"Siapa dia?" Tanya Rayen.


''Dia Kakak ku."


"Entahlah aku sendiri juga tidak tahu. Udahlah kak ayo kita masuk aku mau istirahat di kamar saja."


Siska kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya, begitu juga dengan Rayen. Rayen berbaring di kasur samping Hansen.


Gur...gur...gur..


Suara ngorok Hansen membuat telinga Rayen terasa terganggu. Ia lebih memilih tiduran di atas sofa. Ingin rasanya Ia lama tinggal di rumah Siska dan enggan untuk kembali.

__ADS_1


Senyuman manis terus menghiasi wajahnya ketika sosok cantik Siska melintas di depannya.


Tak terasa hari pun semakin gelap.


Sehabis makan malam Rayen lebih memilih jalan-jalan ke luar rumah mencari angin segar di perkampungan dekat rumah Siska sendirian.


Siska dan Hansen asik lihat tv di temania Ayah dan Ibu.


Tak di duga Rayen mendengar suara tangisan dari depan pagar entah itu rumah siapa. Mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Tak menyangka jika yg di lihat itu adalah Lia dan seorang cowok tampan.


"Edwin, apa kau yakin jika kau tidak mau menerima cinta ku. Apa kurangnya aku di bandingkan dengan Siska. Kamu tahu kan kalau aku mencintai mu sejak dulu lalu kenapa kau abaikan rasa ini. Edwin bisakah kau berikan aku kesempatan untuk mengisi hati mu. Ku mohon tolong jangan abaikan rasa ini, Edwin aku mencinta mu dan sangat-sangat mencintai mu?" Ucap Lia sembari terisak tangisnya. Dia memeluk erat tubuh Kekar Edwin yg dari tadi berdiri di depannya. Edwin menepis pelukan kita dengan halus.


"Maaf Lia, tapi aku sungguh tidak bisa. Kamu harus terima kenyataan ini. Aku hanya mencintai Siska. Bukannya kamu sudah tunangan sama Ilham lalu mau kamu kemanain Ilham.


Kasihan Dia karena Dia sangat mencintai mu, apa kamu tega menyakiti hatinya. Lia, tolong mengerti dia dan jangan kau sakiti dia hanya demi diri ku. Kau bisa anggap aku sebagai kakak tapi jangan berharap lebih karena kita tidak mungkin bisa bersatu karena hati kita jauh berbeda." Jawab Edwin.


Edwin pergi dari hadapan Lia dengan wajah di tekuk. Bukannya dia ingin menyakiti hati Lia tapi dia sungguh tidak bisa menerima Lia karena dia sudah tunangan sama pria lain.


Sedangkan hatinya lebih memilih Siska.


Rayen paham kenapa sikap Lia tadi sedikit sinis saat bertemu Siska. Mungkin karena Lia merasa sakit hati jika orang yg Ia cintai lebih memilih adiknya. Rayen lebih memilih diam dan pergi dari tempatnya menguping.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2