
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Delisa dan Nathan akhirnya tiba juga, Delisa sudah mempersiapkan semuanya dari kemarin untuk menyambut kedatangan keluarga besar Nathan yang pagi ini akan datang melamarnya secara resmi dan tentunya hari ini juga mereka akan menentukan kapan tanggal pernikahan mereka.
Saat ini wajah Delisa tengah di make over oleh penata rias yang terkenal di kota A, Wulan sahabat Delisa tak ketinggalan untuk menyaksikan sahabatnya lamaran dirinya juga sudah berada di rumah Delisa pagi-pagi sekali setelah dapat izin dari Suaminya Bima.
Bima memilih untuk ikut rombongan sebelah Nathan sekalian seperti biasa menjadi asisten pribadi sekaligus sopir pribadi untuk Nathan, lama menanti akhirnya penata rias telah selesai memake over wajah Delisa yang memang dari lahir sangat cantik.
Wulan begitu kagum melihat kecantikan sahabatnya satu ini pantas saja Nathan dari pertama bertemu Delisa hingga detik ini tak berpaling dari Delisa meski Delisa sempat menghilang berapa tahun, Wulan duduk di sisi Delisa yang sudah berpindah duduk di tepi ranjang.
"Apakah Bella dan keluarganya akan datang kesini?" tanya Wulan sembari menatap Delisa
"Aku tidak tau, yang jelas satu minggu yang lalu aku dan ayahku telah berkunjung kerumahnya dengan baik-baik untuk mengabari hari ini meskipun kami tetap di usir secara kasar dan bahkan tanteku tak terima aku menjadi menantu di keluarga pak Wijaya" jelas Delisa sembari mengingat perlakuan Tantenya satu minggu yang lalu
"Ohh begitu, biarin aja toh tampa restu dari Tantemu kamu tetap akan menjadi menantu di keluarga Pak Wijaya" jawab Wulan yang sebenarnya tidak menyukai satupun Bella dan keluarganya kecuali Delisa dan Dika
Cukup lama Delisa dan Wulan berbincang-bincang sembari mengingat persahabatan yang mereka jalin dari masa SMP dulu, tak lama kemudian terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar tidur Delisa beriringan dengan suara Buk Ina memberi tahu bahwa keluarga besar Nathan sudah ada di lantai bawah.
Delisa dan Wulan segera beranjak dari tempat duduk mereka dan mendekati ambang pintu yang sebenarnya terbuka sedikit, namun Buk Ina dari dulu memang tak berani masuk kamar majikannya kecuali majikannya yang meminta.
"Masyaallah, nona Delisa cantik sekali" kata Buk Ina setelah pintu terbuka dan menampakkan Delisa dan Wulan
__ADS_1
"Akhh Buk Ina bisa aja, makasih. Buk Ina juga cantik" kata Delisa yang memang meminta Buk Ina dan Pak Dadang sedikit berpenampilan lebih rapi hari ini.
Buk Ina menyunggingkan senyuman kepada majikannya itu, kini mereka bertiga segera menuruni anak tangga satu persatu Delisa dan Wulan di depan sedangkan Buk Ina memilih berjalan di belakang majikannya.
Semua tamu yang hadir di acara lamaran Delisa dan Nathan begitu kagum dengan kecantikan Delisa yang memang sangat cantik dengan kebaya yang berwarna soft yang di desain Delisa sendiri, bahkan kebaya yang di pakai Delisa hari ini begitu serasi dengan jas yang di pakai Nathan.
Nathan pun menatap Delisa tanpa berkedip dan dirinya merasa seperti melihat bidadari turun dari langit ke tujuh, Natasya yang melihat reaksi Adik bungsunya seperti itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum.
"Awas tuh liur hampir jatuh" kata Natasya memgoda Adik bungsunya
Dengan cepat dan seperti orang bodoh Nathan mengerakkan tangannya untuk menghapus daerah mulutnya, namun ternyata tak ada apa-apa Kakak sulungnya hanya mengodanya saja membuat dirinya jadi malu.
"Ihh Kakak, awas ya di rumah nanti" kata Nathan kesal dengan kelakuan Kakak sulungnya itu
Acara demi acara telah di mulai, kini Delisa dan Nathan telah resmi lamaran serta tanggal pernikahan mereka telah di tentukan namun Delisa baru sadar bahwa hingga detik ini dirinya belum melihat batang hidung Bella dan keluarganya.
Kemungkinan besar Bella dan keluarganya tak sudi untuk menghadiri acara penting ini namun Delisa tak merasa kecewa yang terpenting dirinya dan Ayahnya telah mengabari mereka secara baik-baik dan bahkan berusaha melupakan masa lalu yang pernah terjadi dulu, karena Ayahnya yang memang mengikhlaskan semua harta peninggalan Kakeknya untuk Tantenya.
.
__ADS_1
.
Ditempat lain
"Mama Papa gimana sih, kok bisa-bisanya kesiangan kita pasti terlambat ke acara lamaran Delisa dan Nathan. Gagal deh buat merusak acara lamaran mereka, pasti sekarang mereka sudah lamaran" jelas Bella yang dari tadi mengoceh panjang lebar memarahi kedua orang tuanya yang kesiangan
"Iya maaf, ini Papa udah ngebut kamu tenang saja mungkin belum di mulai acaranya" kata Bagas yang mengemudikan kendaraan mobil pajero sport itu di atas rata-rata
"Pa, pelan-pelan Mama takut" kata Rani yang sedikit takut melihat Suaminya mengemudi pajero sport itu dengan kecepatan tinggi
Bagas tak mengidahkan perkataan Istrinya justru menambah kecepatan, dan Bagas juga tak sadar jika di depan ada perempatan bahkan jalan mereka tempuh saat ini menandai lampu merah namun justru dirinya menerobos lampu merah itu dan terjadi tabrakkan dengan sebuah mobil lain yang dari jalan lain.
Mobil pajero sport yang di tumpangi Bella dan keluarganya terpelanting begitu jauh bahkan mobil pajero sport itu terguling-guling hingga terhenti di pembatas jalan, yang menyaksikan kecelakaan tragis itu begitu ketakutan bahkan banyak suara teriakkan dari orang-orang yang ada di tempat kejadian.
Mobil ambulan dan mobil polisi sudah berdatangan ke tempat peristiwa kecelakaan tragis tersebut, bahkan reporter tak ingin ketinggalan berita mengabadikan kejadian kecelakaan tragis tersebut sehingga membuat awak media dimana-mana sangat banyak melihat berita tersebut.
Polisi sudah bisa mengeluarkan tiga korban kecelakaan itu namun ternyata kedua korban telah meninggal di tempat hanya seorang gadis yang bersimbah darah yang masih bernapas meski detak nadinya sangat lemah dan telah di larikan di rumah sakit terdekat.
Delisa dan Ayahnya beserta yang lain kini sudah berada di rumah sakit dimana Bella dan keluarganya di larikan, Delisa takkan tau jika saja tadi Wulan tak sengaja melihat berita tersebut dan wajah Bella yang masih bisa di kenali meski bersimbah darah dan di benarkan oleh Ayahnya karena mobil pajero sport tersebut pembelian Ayahnya waktu menang tender ketika masih memegang posisi CEO di perusahaan PT.Atmadja Sejahtera.
__ADS_1
Delisa yang sudah tak ada rasa dendam dan benci terhadap keluarga Tantenya begitu merasa kehilangan, Delisa terus menangis di pelukan Nathan mendengar kabar dan melihat keadaan Tante dan Omnya dalam keadaan meninggal secara tragis.
Wulan juga ikut merasa iba melihat Tante dan Omnya Delisa meninggal dunia seperti itu, sekarang bahkan Bella masih di tangani Dokter di ruang UGD dan belum tau keadaannya bagaimana meski masih bisa sempat di bawa ke rumah sakit.