Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Terima Kasih


__ADS_3

Dua minggu setelah kejadian Ibunya meninggal dunia, Delisa masih merasakan kesedihan di lubuk hatinya paling dalam meski dirinya juga bersyukur akhirnya Ayahnya sadar juga dari komanya meski kini kehidupan Ayahnya tak sempurna seperti dulu lagi.


Ada rasa sedih juga terpancar di bola mata Delisa melihat keadaan kedua kaki Ayahnya yang di amputasi gara-gara kecelakaan kemarin, Ayahnya akan menjalani hidupnya seumur hidup di atas kursi roda.


Hari ini Dokter sudah memperboleh Ayahnya untuk pulang karena keadaan Ayahnya sudah semakin membaik, Delisa memandangi wajah Ayahnya yang terlihat sedih bukan sedih akan kehidupannya masa depan tapi sedih di tinggal oleh orang yang dicintainya selama-lamanya.


"Sudah siap?" tanya Wulan kepada Delisa yang bengong dari tadi


"Sudah, Lho dengan siapa kesini?" tanya Delisa setelah lamunan panjangnya buyar begitu saja


"Biasa dengan Nyokap dan Bokap Gue, mereka di depan. Tadi Papa Gue habis bayar kursi roda buat Ayah Lho" jelas Wulan sembari beriringan dengan Delisa keluar dari ruang rawat


Delisa mendorong kursi roda Ayahnya yang telah dibelikan oleh Papanya Wulan, Delisa bahagia masih bisa bertemu dengan orang baik seperti Wulan dan Kedua orang tuanya padahal mereka adalah orang lain.


Sedangkan Tantenya dari Wulan memberitahu tentang kabar Kedua orang tuanya kecelakaan hingga Ibunya meninggal dunia dan Ayahnya sudah ingin pulang, tapi tak ada sedikit pun Tantenya berkunjung sama sekali ke rumah sakit membuat rasa benci Delisa semakin dalam.


Saudara kandung macam apa yang tak peduli sama sekali terus mungkin hati Tantenya terbuat dari sebuah batu, Delisa kembali menyumpahkan kehidupan Tantenya dengan sumpah serapahnya.


"Loh ternyata Ayahnya Delisa Pak Dika" kata Dody terkejut melihat wajah Ayahnya Delisa


"Pak Dody" kata Dika juga terkejut melihat orang yang ada dihadapannya


"Papa kenal dengan Om Dika?" tanya Wulan yang terkejut melihat reaksi Papanya

__ADS_1


"Iya Lan, Pak Dika ini yang membantu Papa dulu. Kalo gak ketemu Pak Dika mungkin restoran kita sudah tutup hingga sekarang, Pak Dika yang membantu memberi pinjam uang buat modal restoran yang hampir tutup dulu" jelas Dody kepada semuanya


"Saya hanya perantara dari Tuhan untuk meminjamkan uang, dan hasil kesuksesannya tetap Pak Dody yang berusaha mengembangkan kembali restoran Bapak" kata Dika merendahkan diri


Delisa yang mendengar hanya diam dan tersenyum artinya kebaikan Ayahnya di masa lalu ternyata bisa membantu Ayahnya dan dirinya di masa depan, padahal Papanya Wulan belum melihat wajah Ayahnya tapi tetap mau membantu karena mungkin semua sudah di atur oleh Tuhan.


"Saya belum sempat mengembalikan uang pinjam kepada Pak Dika, satu tahun yang lalu saya sudah pernah mencari Pak Dika di perusahaan Pak Dika tapi kata para staf kantor CEO di perusahaan atmadja bukan Pak Dika lagi. Terus datang ke rumah Pak Dika juga bukan Pak Dika lagi yang menempatinya melainkan orang lain" jelas Dody yang memang sempat mencari keberadaan Ayahnya Delisa


"Panjang ceritanya Pak Dody, tapi tak perlu di kembalikan saya sudah ikhlas. Justru sama sangat berterima kasih dengan Pak Dody sudah membantu Delisa mengurus jenazah istri saya bahkan keluarga Bapak terus menyempatkan diri membantu Delisa menjaga saya" kata Dika sembari menyunggingkan senyuman


"Justru kita yang harusnya berterima kasih" kata Dody dan Winda berbarengan


Dika menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Satu jam kemudian, akhirnya mobil Kedua orang tua Wulan berhenti tepat di depan rumah Delisa dan Ayahnya yang sangat sepi dan bahkan terlihat debu mulai bertumpukkan karena sudah lama sekali rumah itu tertinggal serta tak pernah di bersihkan.


Dody membantu Ayahnya Delisa untuk turun dan memampahnya ke atas kursi roda, setelah Delisa dan Ayahnya keluar Wulan dan Kedua orang tuanya langsung pamit pulang Delisa juga terus mengucapkan terima kasih pada Wulan dan Kedua orang tuanya.


Setelah mobil Wulan dan Kedua orang tuanya menghilang di balik belokan, Delisa segera mendorong kursi roda Ayahnya untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Delisa menutup rongga hidungnya karena sangat tercium debu di dalam rumah mereka sudah bertumpukkam, Delisa terpaksa keluar lagi membawa Ayahnya tak tahan dengan debu kasihan dengan Ayahnya.


"Kenapa keluar lagi?" tanya Dika kepada Anaknya itu

__ADS_1


"Ayah tunggu di luar sebentar ya, Delisa bersihin dulu rumah kita" ujar Delisa sembari membenarkan posisi kursi roda Ayahnya


Dika hanya menjawab dengan anggukkan kepala, Delisa pamit dengan Ayahnya untuk masuk ke dalam sembari tersenyum.


Delisa mulai membersihkan rumah mereka dari depan ke belakang, setelah menyapu Delisa juga mengepel lantai rumah mereka tak lupa kamar tidur Ayahnya dan kamar tidurnya juga di bersihkan.


Selesai semua Delisa kembali keluar dan mengajak Ayahnya masuk ke dalam rumah, rumah mereka sudah kembali bersih seperti biasanya saat Ibunya membersihkan.


Lagi-lagi Delisa mengingat sosok Ibunya yang sangat dirindukannya, meski Ibunya sudah tak ada di dunia ini Delisa masih merasakan sosok Ibunya di sekitar rumah mereka.


"Ayah mau langsung istirahat?" tanya Delisa kepada Ayahnya yang sering melamun


"Iya, antar Ayah masuk ke kamar" jawab Dika yang berusaha menerima semua kenyataaan dalam hidupnya


Delisa kembali mendorong kursi roda Ayahnya masuk ke dalam kamar tidur Ayahnya, kemudian membantu Ayahnya turun lalu berbaring di atas kasur dan setelah itu Delisa meninggalkan Ayahnya sendirian dalam kamar membiarkan Ayahnya beristirahat.


Delisa juga masuk ke dalam kamar tidurnya dan duduk di atas kasurnya sembari bersandar di dinding kamar tidurnya, dirinya memandangi bingkai foto yang berisi gambar dirinya dan Kedua orang tuanya sembari mengusap wajah Ibunya yang ada di gambar itu.


Air mata Delisa kembali berjatuhan saat mengingat kenangan-kenangan bersama Ibunya, sosok Ibunya yang selalu mengajarinya banyak hal dan segalanya.


"Bu, Ibu yang tenang ya disana. Delisa janji akan menjaga Ayah dengan baik, Ibu tau gak besok Delisa sudah mulai masuk SMA. Doain Delisa ya bu, biar bisa sukses di masa depan" kata Delisa berbicara sendiri sembari terus mengusap wajah Ibu yang ada di gambar itu dan sesekali diciumnya


Delisa berjanji dengan diri sendiri akan menjadi anak yang lebih baik untuk mengurus Ayahnya, meski dirinya sekolah nanti dirinya harus mencari uang buat kebutuhan kehidupan sehari-harinya dengan Ayahnya.

__ADS_1


Meski di dalam tabungannya ada banyak uang hasil dari simpanan Ibunya dan pemberian dari Guru serta Papanya Wulan, tapi uang itu ingin Delisa simpan kalo saja ke depannya dirinya lebih membutuhkannya karena kita manusia tak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya.


__ADS_2