Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Berpikir


__ADS_3

Desi mengintip dari balik jendela ingin memastikan bahwa Kakak iparnya sudah pergi, entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa yang menyebar fitnah itu Kakak iparnya karena dirinya tak memiliki musuh selain Kakak iparnya.


Namun Desi membuang pikiran buruk itu, meski Kakak iparnya kelihatan sok kaya sok segalanya tapi Kakak iparnya itu tak akan mungkin melakukan hal murahan seperti itu toh selama ini dirinya bersama Suaminya tak pernah meminta hak warisan peninggalan Ayah mertuanya.


Desi duduk santai di depan teras memperhatikan sekeliling warung makan yang dulu sering di kunjungi orang-orang, namun kini telah hancur bahkan sekarang sudah seperti bukan warung makan tapi bagaikan kandang ayam bau busuk itu bahkan belum hilang meski sudah dibersihkan.


Beruntung rumahnya dengan rumah para tetangga jaraknya agak jauh jadi tidak akan terlalu tercium bau busuk ini kepada tetangga, meski setiap kali ada orang lewat selalu bertanya bau busuk berasal dari mana.


Desi melihat hpnya yang ada digengamannya, dibukanya layar hp tersebut dan memilih aplikasi m-banking yang ada dihpnya. Desi ingin melihat berapa tabungannya yang sudah terkumpul bersama dengan sisa uangnya dulu dilihatnya sudah mencapai puluhan juta yang artinya sudah lumayan banyak.


Tabungan ini sengaja disiapkannya untuk Anaknya yaitu Delisa, apalagi sebentar lagi Delisa akan masuk SMA unggulan tentu perlu biaya yang banyak nantinya.


Desi berpikir sejenak ingin membuka usaha baru namun belum tau apa, saat dirinya begitu fokus dengan layar hpnya dirinya kini memiliki sebuah ide untuk membuka usaha baru yang tentu takkan memerlukan modal besar dan takkan ada lagi yang bisa menyebar fitnah kepada dirinya.


Desi akan membicarakan soal usaha baru yang ingin dibukanya nanti dengan Suaminya, karena segala sesuatu itu harus diridhoi Suami dahulu pastinya dapat diridhoi Tuhan juga.


.


.


Ditempat lain

__ADS_1


Bunyi bel istirahat membuat semua murid SMP Merdeka Mandiri bersorak bahagia karena akhirnya mereka bisa istirahat sejenak, Delisa yang kebetulan hanya membawa kotak bekal untuk makan siang pas belajar tambahan nanti memilih ke kantin sekolah apalagi perutnya juga mulai terasa lapar.


Delisa berjalan sendirian di koridor sekolah sembari tersenyum ketika berpapasan kepada murid lain, Delisa termasuk idola murid SMP Merdeka Mandiri karena kecerdasaannya tapi bukan hanya itu Delisa juga sangat cantik dan terkenal ramah di sekolahannya meski Bella juga cantik namun Bella lebih terlihat sombong.


Delisa dengan Bella kadang di bilang murid-murid lain seperti saudara kembar namun membedakan mereka hanya tinggi badan dan warna rambut, jika murid SMP Merdeka Mandiri tau kalo Delisa dan Bella adalah saudara sepupu mungkin mereka semua akan heboh.


Delisa sudah tiba di kantin sekolah yang sudah sangat ramai serta semua tempat duduk penuh, dilihatnya seperti tak ada satu pun tempat duduk yang tersisa disitu jadi dirinya harus bagaimana apalagi perutnya kini sudah benar-benar lapar.


Delisa masih berpikir bagaimana caranya dirinya bisa duduk bergabung dengan salah satu di tempat duduk itu apalagi kelihatannya tak ada yang suka dengan kehadirannya disini karena rata-rata yang ada di kantin ini anak kelas IX, Delisa pun memutuskan untuk memakan kotak bekalnya saja dari pada kelaparan.


Delisa melangkahkan kaki ingin pergi dari kantin tersebut, namun baru selangkah dirinya berjalan ada samar-samar yang memanggil namanya sontak Delisa menoleh ke belakang ternyata Wulan salah satu teman kelasnya yang memanggilnya mengajak bergabung di tempat duduk mereka.


Delisa memesan makanan terlebih dahulu kepada Ibu kantin kemudian berjalan menuju tempat duduk teman kelasnya itu, Delisa hanya diam tak bersuara sama sekali selama duduk disitu dan menunggu makanannya tiba.


"Delisa, kok Lho sekarang agak tertutup sih? Kita semua udah tau kali Ayah Lho sekarang tak memiliki segalanya, tapi bukan berarti kita gak mau temanan dengan Lho" kata Wulan yang memang dulu kelas VIII sangat akrab dengan Delisa


"Gue biasa aja, hanya memang mau lebih fokus belajar apalagi sebentar lagi kita Ujian Nasional tentu nilai ujian Gue harus bagus agar bisa bareng kalian ke SMA unggulan karena ingin lewat jalur beasiswa. Kalo kalian sih bisa aja masuk sekolah SMA unggulan karena biaya dari orang tua kalian, lah Gue bisa beli seragam sekolah dengan buku-buku tulis saja sudah bersyukur" jawab Delisa yang sebenarnya terharu ternyata teman-temannya itu masih mau bertemanan dengan dirinya.


Wulan dan yang lain terdiam saat mendengar perkataan Delisa barusan, mereka tak menyangka ternyata hidup Delisa benar-benar berubah padahal dulu Delisa anaknya terkenal sangat ceria.


Makanan yang Delisa pesan pun tiba, Delisa segera menyantap bakso kuah merah itu dengan begitu lahap mungkin sudah lama dirinya tidak makan makanan di kantin semenjak uang saku yang di beri Ibunya selalu disimpannya untuk membeli kuota ataupun membeli buku-buku LKS untuk belajar.

__ADS_1


"Pelan-pelan Del, nanti keselek. Ohh ya ini tadi Gue pesan dua minuman tapi kayaknya gak habis jadi buat Lho aja ya" kata Wulan yang dulu sering di traktir Delisa dan sangat akrab dengan Delisa


"Ahh gak usah, Gue nanti minum di kelas aja tadi pagi udah disiapin Ibu Gue bersama kotak bekal makanan Gue" jawab Delisa menolak pemberian dari teman kelasnya itu


"Ya ampun Delisa, bukannya Lho itu paling gak suka kalo ada yang buang-buang makanan karena mubazir. Ayolah sekali ini aja terima minuman yang udah Gue pesan tadi" kata Wulan sedikit memaksa


"Oke-oke thanks ya" jawab Delisa yang tak mau berdebat


Delisa kembali melanjutkan makannya, setelah habis dirinya juga meminum minuman yang di beri oleh teman kelasnya itu.


"Wah anak orang miskin bisa juga rupanya makan di kantin elit, entar gak bisa bayar. Atau minta traktir dengan yang lain" kata Bella saat melewati tempat duduk Delisa dan yang lain


"Memangnya hanya orang kaya kayak Lho yang bisa makan di kantin ini, Gue yang orang miskin bukan berarti tak mampu ya" jawab Delisa menatap Bella dengan tatapan tajam


"Orang miskin belagu hahaha" kata Bella dengan nada yang begitu tinggi sembari tertawa besar


Tentu mengundang perhatian seluruh murid yang ada di kantin tersebut, Delisa yang melihat sekelilingnya menatap dan berbisik-bisik memilih menahan emosi karena dirinya ingin selalu menjaga image nya agar tidak mendapat masalah di sekolahannya.


"Sudah sih Bella, Gue lihat Lho itu kayak benci banget dengan Delisa. Padahal Delisa gak ada salah sama Lho bahkan dari dulu perasaan Lho cuek aja kalo Delisa selalu nomor satu sekarang kok Lho yang sibuk ngurusi hidup orang" kata Wulan yang sedang duduk di dekat Delisa


"Ohh ada yang ngebela anak orang miskin ini ya sekarang, bagus akhirnya Lho punya teman juga" kata Bella menyunggingkan senyuman mengejeknya kemudian mengibaskan tangannya mengajak teman satu genknya pergi dari situ.

__ADS_1


__ADS_2