
Siska cemas dan mondar-mandir ngak jelas nunggu kabar dari Rayen.
"Ada apa dengan Kak Lia kenapa dia terlihat marah seperti itu, apa yg sebenarnya terjadi."
Merasa penasaran Siska pun segera menemui Kakaknya namun saat ada di depan pintu kamar dia berhenti. Tak di sangka
ternyata Rayen masih memeluk Lia hangat penuh perhatian. Siska tersenyum lega akhirnya Lia bisa tenang juga.
"Kak, kenapa kakak marah seperti itu." Tanya Siska sembari memunguti barang Lia yg berserakan.
"Sebaiknya kamu pergi dari kamar ku." Pinta Lia jutek.
"Memangnya apa salah ku, Kak?" Siska berusaha cari tau kebenarannya.
"Pergi dari kamar ku sebelum aku marah lagi." Ketusnya lagi.
"Sis, kita keluar aja ya!" Ajak Rayen.
Siska mengangguk dan mengikuti langkah Rayen. Siska kembali ke kamar melamun memikirkan sikap Kakaknya.
"Ada apa dengannya kok dia marah sama aku?" pikirnya dalam hati.
Edwin datang menjemput Siska hendak pergi ke suatu tempat.
"Maaf Bu, saya datang ke sini mau jemput Siska, bolehkan Bu?" Tutur Edwin meminta izin dengan sopan.
"Boleh tapi jangan pulang malam-malam ya, saya nitip Suska ya Nak!" Jawab Ibu.
"Iya Bu!"
__ADS_1
Setelah berpamitan akhirnya mereka pergi tapi rencananya tidak berjalan mulus seperti yg mereka harapkan.
"Tunggu ! Sis, bolehkan aku ikut?" Ucap Lia.
"Maaf, tapi aku sama Siska mau pergi karena ada sesuatu yg harus di bahas." Jawab Edwin.
"Ehm, gini deh aku ikut sampai minimarket aja karena aku pingin beli sesuatu. Boleh ya, please...!" Rengek Lia memelas.
Akhirnya Siska pun membiarkan Lia nebeng di mobil Edwin. Edwin udah merasakan ada hawa hawa tidak nyaman perihal sikap Lia yg tiba-tiba kaya gitu.
Siska duduk di depan sedangkan Lia duduk di bangku tengah.
"Aku tidak akan membiarkan mereka berduaan." Ucap Lia dalam hati. Senyumannya terlihat sinis penuh kepalsuan.
Saat tiba di depan minimarket mobil Edwin berhenti. Saat menoleh ke belakang ternyata Lia sudah memejamkan matanya erat berpura-pura sedang ketiduran.
"Kak, sudah sampai ni." Siska berusaha membangunkan Lia pelan tapi Lia tidak mau bangun juga. Dengan terpaksa Edwin pun membawa Lia ke tempat tujuan yaitu Toko perhiasan.
"Terus gimana dengan kak Lia?" Siska merasa tidak enak hati meninggalkan Lia sendirian.
"Kamu ajak aja juga ngak masalah."
Siska membangunkan Lia, Lia segera bangun dan mulai memainkan sandiwaranya lagi.
"Udah sampai ya." Mengusap mukanya pelan dan berpura menguap selayaknya orang yg beneran sedang ngantuk berat.
"Sudah Kak!" Jawab Siska.
"Di mana ini bukannya tadi saya minta turun di minimarket dekat rumah kok kita turun di sini?" Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Udahlah yuk kita masuk." Ajak Edwin yg sudah mulai menaruh rasa curiga.
Mereka masuk ke toko perhiasan itu. Edwin sengaja datang ke toko itu ingin memberikan hadiah ulang tahun buat calon mertuanya.
"Sayang, kamu mau pilih yg mana?" Tanya Edwin.
Siska mulai memilih sesuai selera Ibunya.
Pilihannya jatuh di sebuah kalung cantik yg ada liontinnya.
"Kak, gimana kalau ini aja." Ucapnya yg di setujui oleh Edwin.
"Kurang ajar ternyata dia dapat hadiah kalung darinya. Aku ngak akan ngebiarin ini semua terjadi begitu saja. " Mulai memutar otak cari cara untuk merebut kalung itu dari tangan Siska.
Selesei dari toko perhiasan mereka mampir di sebuah rumah makan sederhana.
Mereka pesen nasi uduk + ayam panggang betutu.
"Kak, coba paha ini pasti enak karena banyak dagingnya." Siska mengambilnya dan menaruh di piring Edwin.
"Terima kasih sayang." Edwin menerimanya dengan senang hati sembari mencubit dagu Siska pelan.
"Ih, apaan sih." Senyumnya malu-malu.
Sorot mata Lia terus menatap mereka kesal. Menatapnya tajam dengan hati terasa panas terbakar rasa cemburu. Bibirnya bergerak penuh amarah. Tak sengaja Ia menusuk ayam dengan sendok garpu keras hingga berulang-ulang.
Siska tidak menyadari jika Kakaknya sedang cemburu. Tapi Edwin tau jika kini hati Lia sedang terluka tapi berusaha berpura seolah tidak pernah tidak terjadi apa-apa.
"Sial beraninya mereka bermesraan di depan ku. Awas kalian pasti akan ku balas." Sinisnya dalam hati.
__ADS_1
😠😠😠😠😠😠😠😠ðŸ˜
Bersambung...