
Keesokan harinya sehabis sarapan pagi Rayen, Hansen dan Siska jalan-jalan di dekat rumah Siska. Mereka terlihat ceria saat itu kecuali Rayen yg masih diam memikirkan kisah cinta Siska dan Edwin. Berusaha tersenyum meski hatinya terasa gundah.Takut jika Siska akan sakit hati kalau tau ternyata Lia juga menaruh hati sama Edwin.
"Kak, kita mampir ke toko ya aku mau beli minum dulu." Ucap Siska yg hanya di angguki Rayen. Hensen dan Siska masuk ke toko sedangkan Rayen lebih memilih menunggu di luar toko.
Di rasa sudah lelah akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang. Lagian badan gendut Hansen tidak mampu untuk berjalan lebih jauh lagi.
Sesampai di rumah ada Edwin duduk di teras menunggu kedatangan Siska.
"Kak Edwin, kapan datang?" tanya Siska girang. Terseyum bahagia karena akhirnya bisa bertemu Edwin juga. Rasa rindu karena lama tak jumpa akhirnya bisa terobati juga.
"Baru saja, tadi aku ke sini dan kata Ibu kamu pergi jalan-jalan makannya aku nunggu kamu di sini." Jawab Edwin.
"Ow gitu ya. Kak, kenalin ini Kak Rayen dan Hansen anak dari Majikan aku." Siska memperkenalkan Mereka.
Rayen manatap Edwin sinis karena tau kisahnya yg sesungguhnya. Dia lebih memilih masuk rumah dari pada meladeni Edwin dan membiarkan Siska menemui Edwin tanpa membalas jabat tangan Edwin.
__ADS_1
Hansen juga ikut Rayen masuk rumah tidak ingin mengganggu pertemuan mereka.
Siska merasa ada yg aneh antara Rayen dan Edwin namun Ia mencoba menepisnya dan berpikir positif saja.
"Kak, aku ambilin minum ya." Ucapnya.
"Tidak perlu, kau cukup duduk saja di sini temani aku." Jawab Edwin sambil menarik tangan Siska yg hampir pergi mengambil minum untuknya.
Siska kembali duduk dan tersenyum tipis saat melihat wajah Edwin yg sudah lama Ia rindukan.
"Hehe, maaf ya karena kemaren aku masih sibuk jadi belum sempat datang menemui mu. Kangen ya kamu sama aku." Balas Edwin mengoda Siska sembari tangannya mencubit hidung Siska pelan.
"Ehem, emangnya Kakak ngak kangen apa sama aku." Tanyanya malu-malu dengan menundukkan pandangannya sedikit dan mengigit bawa bibirnya menahan malu.
"Dasar kamu, jelas kangen lah masak ngak kangen sama gadis kecil ku ini." Edwin kembali mencubit hidung Siska pelan.
__ADS_1
Mereka tertawa renyah dan saling bercanda melepas kerinduan yg lama mereka nantikan. Hanya lewat dunia maya mereka saling bercinta dan kini mereka bisa puas melepaskan segala keresahan dan kerinduan itu.
Bahkan Edwin kini menyematkan cincin bermata satu sebagai pengikat tali cinta mereka. Hanya rasa bahagia yg di rasakan Siska saat itu. Lepas sudah rasa ketakutan dan keresahan selama itu, takut jika Edwin akan lari dan melupakan cintanya yg selama ini mereka bina.
"Kak, terima kasih. Aku pasti akan menjaganya untuk mu dan aku tidak akan melepaskannya walau hanya sedetik saja." Ucapnya sembari mengusap cincin itu pelan.
"Tapi aku tidak punya apa-apa untuk Kakak, tapi tenang pasti aku akan memberi sesuatu untuk Kakak." Imbuhnya lagi dengan wajah sumringah.
"Kamu ini lucu sekali sih, kau tidak perlu kasih aku apa-apa cukup kasih hati mu hanya untuk ku, dan jaga selalu hati mu untuk ku. Apa kau sanggup menjaganya untuk ku?" Tanya Edwin penuh harapan karena hanya Siska lah yg selama ini Ia cintai.
"Aku janji pasti aku akan menjaganya tapi Kakak juga harus janji pada ku jangan sampai tergoda wanita lain. Awas aja kalau kecantol wanita lain maka aku tidak akan memaafkan mu selamanya." ucap Siska serius sembari memoncongkan bibirnya dan mengangkat kepalan tangannya.
Edwin terkekeh mendengar ucapan Siska yg sangat polos itu. Kepolosannya lah yg membuat Edwin jatuh hati dan tidak ingin melepaskan cintanya. Mereka terlihat bahagia saat itu.
Bersambung....
__ADS_1