
Sebelum sarapan, pagi ini Delisa menemani Ayahnya untuk joging di sekitar komplek perumahan elit mereka yang di ujung jalan ada sebuah taman untuk anak-anak bermain dan orang tua jogging atau duduk-duduk santai.
Delisa dan Ayahnya terus berlari kecil menikmati sejuknya udara pagi yang masih terasa dingin akibat hujan deras tengah malam semalam, Delisa begitu senang menikmati kebersamaan Ayahnya yang mungkin sudah jarang mereka lakukan bersama.
Delisa dan Ayahnya istirahat sebentar meminum air mineral yang di bawa mereka tadi, Delisa mengatur napasnya yang terasa ngos-ngosan padahal mereka joging belum separoh jalan tapi ini sudah Delisa istriahat saja.
Delisa dan Ayahnya melanjutkan joging mereka agar bisa secepatnya tiba di ujung jalan yang ada taman, memakan waktu 30 menit akhirnya Delisa dan Ayahnya tiba di sebuah taman yang kelihatan sudah mulai ramai karena banyak orang-orang sedang senam bersama.
"Tu, Ayah telatkan gara-gara kamu" kata Dika yang terlambat karena orang-orang sudah senam kemungkinan dari tadi
"Maaf ya" kata Delisa singkat namun dengan raut wajah ngeselin membuat Ayahnya geleng-geleng kepala
Delisa segera duduk di kursi taman mengistirahatkan kedua kakinya yang terasa pegal apalagi dirinya sudah jarang sekali yang namanya joging, sedangkan Dika ikut bergabung dengan rombongan orang-orang yang sedang senam itu.
Drrt...drrt...drrt
Terasa getaran hp Delisa di dalam saku celana tereningnya, segera Delisa mengambil hpnya yang ada di dalam saku celana tereningnya lalu dilihatnya ke arah layar ingin melihat pesan siapa yang masuk barusan dan ternyata Nathan yang mengiriminya pesan whatsapp.
(Aku pagi ini mau ke kota J, melakukan perjalanan bisnis selama seminggu. Jaga diri baik-baik ya selama aku pergi, dahh my hunny I LOVE YOU) Nathan
(Siap pak bos, hati-hati di jalan ya. Jangan sampai telat makan karena terlalu sibuk bekerja, dahh cintaku I LOVE YOU TOO) Delisa
__ADS_1
Delisa terkekeh geli melihat pesan dari Nathan dan balas dari dirinya, padahal dirinya yang paling tidak suka mengeluarkan kata-kata romantis itu jadi ikut-ikutan karena Nathan sering mengunakan kata-kata romantis.
Delisa kembali memasukan hpnya ke dalam saku celana tereningnya, tak lama kemudian Ayahnya mengajak dirinya segera pulang apalagi sekarang matahari sudah mulai meninggi dan mereka juga belum sarapan.
Delisa dan Ayahnya kini berjalan lebih santai untuk kembali ke rumah mereka, dan jika dinikmati ternyata perjalan dari taman komplek ke rumah mereka tidak terlalu melelahkan dan tak begitu jauh.
Hingga mereka pun sudah tiba di depan rumah mereka dengan waktu 20 menit dan lebih cepat dari joging tadi, karena pas joging tadi Delisa kebanyakan istirahat terus menerus selama perjalanan jadi membuat perjalanan mereka semakin lama.
Delisa dan Ayahnya segera masuk ke dalam halaman rumah mereka setelah pagar di bukakan oleh satpam yang bekerja di rumah mereka, Delisa dan Ayahnya langsung menuju ke kamar mandi yang ada di dapur lalu membersihkan sejenak keringat mereka.
Setelah bersih Delisa dan Ayahnya duduk di kursi makan sembari menunggu Buk Ina yang sedang menata semua makanan yang di masak Buk Ina tadi, kini Delisa dan Ayahnya termasuk Buk Ina dan Pak Dadang sedang sarapan bersama dengan begitu lahap.
Satpam yang bekerja di rumah Delisa sudah di antari Buk Ina tadi sarapan serta kopi hitam, di rumah Delisa ada dua satpam yang bekerja mereka bergantian untuk masuk kerja yang bekerja sift pagi dari jam 6 pagi sampai 6 sore dan bagian sift malam dari 6 sore sampai 6 pagi.
Meski Delisa seorang bos dan bekerja banyak di rumah tetap saja dirinya begitu sibuk, apalagi jika banyak pesanan dari langganannya yang membuat dirinya harus turun tangan membantu ketiga desainernya serta memeriksa terus kain-kain yang di perlukan karena takut kehabisan stok.
Dika yang tak memiliki pekerjaan memilih untuk melihat Anaknya yang selalu sibuk di dalam ruang kerjanya setelah mengetuk pintu dan dapat izin masuk dari Delisa, Dika segera masuk dan memperhatikan sekeliling ruang kerja Anaknya yang terlihat sangat berantakkan.
"Ya ampun, berantakkan sekali. Ruang kerja Ayah dulu gak pernah seberantakkan begini" kata Dika kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan meja kerja Delisa
"Ya bedalah yah, ayah hanya berkutik di laporan dan laptop. Sedangkan Delisa berkutik dengan kertas-kertas dan alat tulis" jawab Delisa tak terima Ayahnya membandingkannya
__ADS_1
"Hahaha, iya-iya. Andai Ibumu masih hidup pasti dia bahagia melihat anaknya sukses seperti saat ini" kata Dika tertawa kemudian teringat Istri tercintanya
Delisa yang mendengar perkataan Ayahnya barusan menghentikan pergerakan tangannya yang memeriksa buku pemasukan, Delisa mendongakkan kepalanya sembari menatap wajah Ayahnya dengan begitu lekat.
Delisa juga berharap Ibunya masih hidup sehingga bisa melihat kesuksesan dirinya sekarang, namun semua sudah takdir dirinya hanya bisa berdoa Ibunya di alam yang berbeda selalu bahagia.
"Kamu sangat sibuk ya, sekali-kali lah kita jalan-jalan ke MALL jangan setiap hari ngurus pekerjaan. Bukannya selama kita kembali ke Indonesia kita belum pernah jalan-jalan berdua" kata Dika yang mulai bosan berada di dalam rumah terus menerus
"Ayah bosan di rumah, ya udah ayo kita jalan-jalan ke MALL" kata Delisa memilih menuruti kemauan Ayahnya yang kini memang sudah banyak berubah bertingkah kayak Anak kecil mengingat usia Ayahnya sudah setengah abad lebih
Dika segera turun ke lantai bawah untuk menunggu Anak semata wayangnya berganti baju, Delisa memilih memakai pakaian biasa dengan kaos oblong dan celana jeans panjang sampai mata kaki biar kelihatan orang biasa yang tak perlu menampakkan kemewahan.
Delisa segera mengandeng tangan Ayahnya setelah pamit dengan Buk Ina akan keluar sebentar dan kemungkinan tidak makan siang di rumah agar Buk Ina tak repot-repot masak makanan banyak-banyak, Delisa dan Ayahnya segera masuk ke dalam mobil ferrari milik Delisa.
Mobil ferrari pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah Delisa dan menuju ke MALL pusat kota A yang tak terlalu jauh dari perumahan elit tempat tinggal Delisa, Mobil ferrari pun masuk ke area parkiran MALL tersebut.
Delisa dan Ayahnya segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam MALL yang gedungnya bertingkat hingga menjulang tinggi, Delisa terus mengandeng tangan Ayahnya untuk jalan-jalan sampai menunggu Ayahnya menghentikan langkah kakinya sendiri baru Delisa ikut berhenti.
Dika berhenti di salah satu toko kosmetik membuat Delisa mengerutkan keningnya tak mengerti mengapa Ayahnya berhenti di toko kosmetik tersebut, saat masuk ternyata Ayahnya mengambil sabun mandi cair yang biasa Ayahnya pakai membuat Delisa tersenyum.
Semua mata orang-orang disana memandangi dua beranak yang mereka pikir sepasang kekasih yang berbeda usia sangat jauh, dan ada juga menghina takkan mampu membeli sanun mandi cair yang harganya ratusan ribu itu apalagi penampilan mereka itu biasa saja.
__ADS_1
"Mbak tolong bungkus sabun mandi yang cair ini, 10 pcs ya" kata Delisa kepada pelayan toko kosmetik dan mengabaikan semua mata yang memandang dan menghinanya