
Rayen kembali berbaring di atas ranjang samping Hansen. Matanya susah untuk terpejam, ucapan Lia masih terngiang di kepalanya. Tidak akan membiarkan hati Siska terluka karena cinta segitiga itu. Ia berniat ingin menemui Edwin malam itu tapi sayang dirinya tidak tahu di mana rumah Edwin. Ternya otaknya masih berjalan normal, Dia menemukan ide cemerlangnya.
Perlahan Rayen masuk ke dalam kamar Siska mencari nomer hp Edwin lewat hp Siska.
Mencari di mana letak ponsel itu, setelah beberapa menit akhirnya menemukannya. Hp itu ada di samping Siska yg saat itu sudah tertidur.
Perlahan tangannya ingin meraih hp itu tapi ternyata Siska berpindah posisi menghadap ponsel itu dengan sedikit rambut menutupi wajahnya. Menggeliat manja dan kembali tertidur lagi.
Perlahan Rayen menyilakan rambut Siska dan sangat terlihat jelas wajah imut Siska saat itu. Entah kenapa jantungnya terasa berdetak cepet saat Ia menatap wajah cantik itu. Rasa itu semakin hari hari semakin berbeda seperti ada rasa lain antara dia dan Siska. Matanya memandang lekat dan memperhatikan wajah itu dengan seksama.
Tersenyum tipis dan hampir saja Rayen hilang kendali. Hampir saja Rayen mencium bibir Siska namun dalam hitungan detik Rayen kembali bisa menguasai jiwanya yg hampir saja tak terelakkan.
Kembali ketujuan awal yaitu Rayen mengambil hp jadul Siska pelan.
Mengesernya dan mencari nama Edwin dalam kontak hp itu.
Tidak di temukan kontak yg bernama Edwin yg ada hanya nama 'Chayank', Rayen segera menyalin di hpnya sendiri.
Keluar dari dalam rumah mencoba menghunbungi nomer itu.
"Hallo, apa ini nomer Edwin?" Tanya Rayen.
__ADS_1
"Iya ini aku, maaf ini siapa ya?" jawab Edwin dari seberang sana.
"Bisakah kita bertemu, ada hal yg ingin aku omongin ini tentang Siska dan Lia." Jawab Rayen jujur.
Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di salah satu tempat makan yg ada di dekat rumah Siska.
Rayen datang lebih dulu sebelum Edwin.
" Maaf aku telat." Ucap Edwin ketika sudah sampai di depan Rayen.
"Ok tidak masalah, salahkan duduk."
Edwin duduk santai di depan Rayen, sedikit penasaran dengan sosok pria tampan itu. Ingin bahas masalah apa karena seingatnya Dia tidak pernah kenal sama pria tampan itu.
"Langsung saja, apa yg ingin kamu katakan?" Ucap Edwin tanpa basa basi.
"Aku tahu kamu suka sama Siska, tapi di sisi lain ada Lia yg juga suka sama kamu. Bukannya Lia adalah Kakaknya Siska. Mungkin itu pilihan yg sulit bagi mu. Tapi saya mohon tolong jangan sakiti hati Siska karena dia adalah gadis baik yg tidak pantas untuk di sakiti.
"Kamu tidak perlu mengajari saya, karena saya lebih tau gimana perasaan saya sama Siska." Sahutnya ketus.
"Ok, mungkin ini bukan urusan aku tapi aku juga tidak rela jika kamu nantinya akan menyakiti Dia. Sebaiknya kamu jauhi Siska mulai dari sekarang sebelum semua terlambat. Jika kamu pilih Siska maka kamu akan nyakiti Lia, dengan begitu Lia juga akan membenci Siska selamanya. Jika kamu pilih Lia maka kamu akan nyakiti Siska dan aku tidak ingin itu terjadi."
__ADS_1
"Diam kamu, jangan pernah ikut campur urusan ku. Kamu bukan siapa-siapa aku dan kamu tidak pantas ngomong kaya gitu !" Serunya sinis dengan bola mata semakin lebar membulat. Edwin semakin kesal dan tersinggung karena ucapan Rayen.
"Ok terserah kamu, tapi aku pastikan kamu akan nyesel nantinya jika berani nyakiti perasaan Siska." Ancamnya tegas.
Rayen beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Edwin.
"Jangan-jangan kamu juga sama Siska, he.. jawab aku, dasar cowok aneh." Teriaknya kenceng karena Rayen sudah sedikit menjauh darinya. Semua mata para pengunjung langsung menoleh ke arah Edwin saat itu.
Edwin masih duduk mematung memikirkan ucapan Rayen barusan. Tapi kini dirinya tidak akan menyerah begitu saja demi mempertahankan hubungannya dengan Siska.
Bersambung.........
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Jangan lupa Like, komen, vote dan rate ya biat karya aku ini.
Mampir juga di Novel aku yg sudah tamat
*Terpaksa Menikahinya.
*Aku & maru ku.
__ADS_1
*Tujuan Hidup.