Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Cerita


__ADS_3

Selesai bercerita Oma Widia mengajak Delisa ke sebuah ruangan yang masih terhubung dikamarnya, Oma Widia segera membuka pintu ruangan tersebut dan mengajak Delisa masuk ke dalam ruangan itu.


"Wah, ini dressnya cantik-cantik sekali Oma" kata Delisa melihat satu persatu dress yang tergantung di gantungan baju


"Iya, itu hasil jahitan Saya sendiri" jawab Oma Widia percaya diri


"Serius Oma, wah ini juga ada mesin jahit" kata Delisa melihat mesin jahit zaman dulu dan terlihat masih bagus


Oma Widia kembali bercerita tentang masa remajanya yang sangat hobi menjahit dan membuat beraneka ragam pakaian baik untuk anak-anak maupun dewasa, Oma Widia juga menceritakan perjalanan hidup seusia Delisa yang harus membanting tulang menghidupi dirinya karena Oma Widia yatim piatu.


Dulu Oma Widia membuka usaha menjahit ataupun menerima pesanan orang ingin membuat baju dikontrakkannya, selama itu usaha berjalan maju dan bisa berkembang hingga akhirnya dirinya menikah dengan seorang pengusaha kaya raya di kota B.


Semenjak menikah Oma Widia tidak pernah lagi buka usaha menjahit karena Suaminya melarang, 5 tahun di pernikahan mereka baru di karuniai anak yaitu Wijaya dan mereka hanya memiliki anak tunggal.


Di usia Wijaya 17 tahun Papanya meninggal dunia dan beruntung Wijaya yang cerdas di usia itu sudah lulus SMA bahkan sudah kuliah, jadi Wijaya bisa melanjutkan bisnis milik Papanya dalam usia terbilang masih sangat muda.


Karena tak ada kegiataan apapun dan bason sendirian di rumah Oma Widia kadang masih iseng membuat dress cantik yang sekarang tertata rapi di gantungan baju, meski tidak di jual akan di simpan atau diberikannya kepada orang yang membutuhkan.


"Wah, Saya jadi kepengen kayak Oma" kata Delisa begitu senang mendengar semua cerita Oma Widia


"Kamu bisa, kamu mau Saya ajari cara menjahit dan membuat baju" kata Oma Widia mendekat ke arah mesin jahit itu dan duduk di kursi yang berhadapan dengan mesin jahit


"Benaran Oma?" tanya Delisa berharap penuh


"Perhatikan Saya ya, Saya yakin kamu mudah belajar karena terlihat kamu anak yang cerdas" kata Oma Widia kemudian mulai menjahit dari awal dengan pelan-pelan.

__ADS_1


Delisa begitu antusias melihat cara Oma Widia mengerakan mesin jahit dan pergerakan tangan Oma Widia, Delisa tentunya semangat jika menyangkit soal belajar nambah ilmu pengetahuan sedikit-sedikit.


Oma Widia yang usia sudah tak muda lagi namun kedua matanya masih sehat dan tubuhnya juga kelihatan masih kuat, berbeda seperti orang tua seusia Oma Widia mungkin sudah banyak yang hanya terbaring lemah di atas kasur atau pun sudah tak bisa lagi melihat dengan jelas.


Cukup lama Oma Widia berkutik dengan selembar kain yang panjang berapa meter itu, dan sesekali Oma Widia memotong kain yang panjang itu dan kembali melanjutkan menjalankan mesin jahit yang ada dihadapannya hingga selesai menjadi sebuah dress yang cantik.


"Wah, bagus Oma" kata Delisa saat melihat Oma Widia mengangkat dress buatannya barusan


"Coba kamu pakaian, pasti pas dengan tubuhmu yang tinggi ini" ujar Oma Widia menyerahkan dress tersebut kepada Delisa


Delisa pun izin ke kamar mandi untuk mencoba dress itu dan di persilahkan Oma Widia, berapa menit Delisa keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruangan di mana Oma Widia berada.


Oma Widia kagum melihat Delisa yang memakai dress buatnya sangat pas bahkan Delisa terlihat sangat cantik ketika memakai dress itu, meski tak ada polesan apapun di wajah Delisa yang kini sedikit kusam tetap aura kecantiakan Delisa tetap nampak.


"Serius Oma?" tanya Delisa memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan tidak salah


Oma Widia langsung menjawab dengan anggukkan kepala, Delisa spontan memeluk Oma Widia dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Oma Widia.


Lagi-lagi Oma Widia merasa bahagia dengan kelakuan Delisa yang menurutnya lucu, tapi Oma Widia terhibur apalagi selama ini dirinya benar-benar terasa kesepian dan semua orang tak tau hal itu.


Kini sekarang menunjukkan waktu makan siang, Oma Widia meminta Delisa mengambil makanan siang buat dirinya serta sekalian buat Delisa dan meminta Delisa untuk membawa makanan ke kamar karena seperti biasa ketika makan siang Oma Widia memilih makan di kamar dari pada di bawa sendirian.


Delisa menganggukkan kepala kemudian pamit dengan Oma Widia ingin mengambil makanan, tiba di dapur ternyata makanan Oma Widia sudah di siapkan oleh Bik Mirna di atas nampan yang cukup lebar.


"Maaf Bik, kata Oma Widia sekalian makan buat Saya juga" kata Delisa hati-hati takut Bik Mirna keberatan

__ADS_1


"Ohh baiklah" jawab Bik Mirna kemudian menyiapkan makan untuk Delisa juga yang sama dengan makanan untuk Oma Widia


Di rumah Oma Widia baik majikan maupun ART makanan mereka sama saja, namun jika sudah memasak harus di pisah mana untuk majikan mana untuk ART agar tidak ada yang salah ambil meski jenis masakannya sama.


Selesai mengambilkan makanan untuk Delisa, Bik Mirna kembali menata makanan itu di atas nampan dan tak lupa ada seteko air minum agar Delisa dan Oma Widia tidak meminta air minum lagi.


"Biar Saya bantu membawa ke atas" kata Bik Mirna memberi tawaran karena tau kalo Delisa pasti kesulitan membawa dua nampan yang penuh itu.


"Terima kasih ya Bik" kata Delisa sembari tersenyum


Delisa dan Bik Mirna mulai melangkahkan kaki menuju anak tangga, rumah sebesar dan seluas ini begitu sepi hanya terlihat 5 ART entah kemana penghuni rumah ini jika siang hari karena tak ada satu pun yang menampakkan batang hidung.


"Saya senang, ada yang menemani Nyonya besar lagi" kata Bik Mirna di sela-sela perjalanan mereka menuju kamar tidur Oma Widia


"Memangnya, selama ini Oma Widia selalu sendirian?" tanya Delisa yang sebenarnya penasaran mengapa bisa Oma Widia jadi sendirian


"Dulu ada yang menemani Nyonya besar yaitu Cucu perempuannya yang pertama, namun sudah 3 tahun semenjak menikah. Nyonya besar jadi kembali kesepian tak ada yang menemaninya sampai sekarang" jelas Bik Mirna merasa sedih juga


Oma Widia semenjak tak ada yang menemani selalu mengurung diri dalam kamar keluar paling makan malam atau hendak kemana jika benar-benar bosan di rumah, bisa di hitung pakai jari Oma Widia menampakkan batang hidung di ruangan keluarga atau di taman belakang.


"Kalo Cucu kedua Oma kemana?" tanya Delisa yang sudah mendengar cerita Oma Widia bahwa Oma Widia memiliki dua cucu


"Sibuk sekolah, biasalah namanya anak remaja kerjaannya pasti kluyuran pulang pasti sore" jawab Bik Mirna sembari tersenyum


Delisa hanya menganggukkan kepala, Delisa dan Bik Mirna pun sudah tiba di depan kamar tidur Oma Widia seperti biasa sebelum masuk Delisa mengetuk pintu terlebih dahulu sembari meminta zin masuk dengan Oma Widia.

__ADS_1


__ADS_2