
"Ma, Bella pamit berangkat sekolah" ujar Bella segera beranjak setelah selesai sarapan
"Tumben pagi banget" kata Rani sembari menatap Anaknya
"Gak apa-apa Ma, takut macet di jalan entar Bella terlambat. Mumpung masih pagi" jelas Bella agar Mamanya tak curiga
"Ya sudah, hati-hati di jalan" ujar Rani sembari melambaikan tangannya kepada Anaknya
Bella melangkahkan kaki sembari melambaikan tangannya hingga dirinya hilang di balik pintu utama, Bella segera naik ke mobil alphard yang di bawa oleh supir pribadi keluarga mereka.
Mobil alphard mulai melaju meninggalkan halaman rumah Bella yang mewah itu, meluncur menuju ke sekolahan Bella yaitu SMA Tunas Bangsa.
Jalanan di kota A ini setiap pagi tidak macet jika masih di bawah pukul 7 pagi, tapi kalo sudah lewat pukul 7 pagi jangan harap bisa secepatnya sampai ke tempat tujuan.
Karena selain para pengawai kantor berangkat kerja dan para mahasiswa berangkat ke kampus, para murid sekolah juga berbondong-bondong untuk sampai ke sekolahan mereka.
Pukul 06.50 pagi Bella tiba di depan sekolahannya yang masih sepi dan bahkan pagar sekolah belum di buka oleh satpam penjaga sekolah, setelah turun dari mobil alphard yang selalu mengantar jemputnya Bella langsung berjalan ke arah pos satpam yang ada di samping pagar sekolah.
Bella menoleh sana sini mencari satpam penjaga sekolah namun tak nampak batang hidung satpam itu di pos satpam, Bella pun terpaksa memilih jalan tikus agar dirinya bisa masuk ke sekolahannya dan melancarkan rencana yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari.
Kini Bella sudah berdiri di depan mading sekolah, Bella segera mengeluarkan beberapa foto yang sudah dicetaknya kemarin sebelum pulang ke rumah dari dalam tas ranselnya dan kemudian ditempelnya beberapa foto itu di mading sekolah.
Setelah terpasang sempurna Bella tersenyum miring melihat gambar di foto itu, terdengar di telinga Bella bunyi pagar sekolah di buka cepat-cepat Bella bergegas ke toilet perempuan agar tak ada yang curiga kalo dirinya sudah menempel beberapa foto itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 07.15 pagi semua murid SMA Tunas Bangsa sudah pada datang, semua murid berdiri di depan mading sekolah melihat isi gambar yang ada di foto itu ada beberapa murid ketawa mengejek ada juga merasa kasihan atau iba dengan gambar itu.
Delisa berjalan di koridor sekolah semua mata memandanginya sembari berbisik-bisik, Delisa yang tipikal cuek memilih melanjutkan langkah kakinya hingga masuk ke dalam kelasnya yaitu X.IPA.1.
__ADS_1
Sedangkan di luar kelas Wulan yang penasaran dengan apa yang di kerumuni semua murid di depan mading sekolah ikut nimbrung di situ, Wulan pun berusaha maju ke depan mading sekolah agar bisa melihat dengan jelas apa yang di lihat oleh semua murid.
"Astagfirullah" ucap Wulan sembari membungkam mulutnya terkejut melihat foto-foto itu
"Heii, bubar kalian semua" teriak Wulan kepada semua murid yang berdiri di depan mading
Wulan segera mengambil semua foto yang tertempel di mading sekolah itu.
"Hhhuuuu...." teriak Semua murid yang melihat aksi Wulan itu
"Apa mau kalian, cepat pergi dari sini" kata Wulan kembali berteriak
Setelah semua foto itu diambil, Wulan segera memasukkan semua foto itu ke dalam tas ranselnya dan bergegas masuk ke dalam kelasnya yang sama dengan Delisa yaitu kelas X.IPA.1.
"Kenapa lari-lari sih?" tanya Delisa saat melihat Wulan yang masuk sambil berlari
Delisa menjawab dengan gelengan kepala, Wulan segera duduk dibangkunya yang ada di samping Delisa lalu menghembuskan napasnya secara kasar sembari meletakkan tas ranselnya di atas meja.
Wulan segera membuka tas ranselnya, kemudian mengambil semua foto yang diambilnya di mading sekolah tadi dan segera diberikannya kepada Delisa.
"Ayah... Ya Tuhan mengapa gambar Ayah dengan Gue di dalam tas ransel Lho?" tanya Delisa yang terkejut melihat semua foto itu
Foto yang mana semua gambarnya berisi gambar dirinya yang sedang mendorong Ayahnya yang sedang duduk di kursi roda, bahkan terlihat jelas bahwa kedua kaki Ayahnya buntung bahkan di gambar itu terlihat bahwa kedua kaki Ayahnya masih di perban dan lokasi gambar itu di rumah sakit.
"Gue tadi ngambil ini di mading sekolah, Gue tadi penasaran apa yang di lihat semua murid di mading sekolah. Setelah Gue lihat tanpa aba-aba langsung Gue copot semua foto itu di mading sekolah" jelas Wulan panjang lebar sembari sesekali menghembuskan napas secara kasar
"Siapa yang melakukan ini? Tak ada yang tau tentang keadaan Ayah Gue selain kita berdua" kata Delisa tanpa di minta air matanya menetes
__ADS_1
Delisa bukannya malu mempunyai Ayah dengan keadaan seperti itu hanya saja dirinya takkan pernah terima jika ada yang telah menjadikan Ayahnya sebagai bahan tontonan, siapapun yang telah melakukan semua itu takkan pernah didiamkan Delisa begitu saja.
"Entar kita cari tau siapa yang melakukan ini? Entah mengapa filing Gue yang sudah melakukan ini semua adalah Bella" kata Wulan mengelus pundak Sahabatnya itu
Bel berbunyi sekali tanda jam pertama di mulai, semua murid yang ada di koridor sekolah ataupun di mana mereka berada langsung bergegas masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
Tak lama kemudian Guru masuk ke dalam ruang kelas sesuai dengan mata pelajaran mereka, Pak Ares berjalan masuk ke dalam kelas X.IPA.1 membuat semua murid yang ada di dalam kelas itu mendadak sepi saat tau bahwa wali kelas mereka yang masuk.
Materi demi materi mulai di jelaskan oleh setiap Guru yang ada di dalam ruang kelas masing-masing, Pak Ares juga menjelaskan beberapa rumus matematika yang sudah ditulisnya di papan tulis dan kemudian Pak Ares memberikan satu soal agar ada murid yang mau maju menjawab soal tersebut.
"Saya pak" kata Delisa sembari mengangkat tangan kanannya
"Silahkan Delisa" ujar Pak Ares mempersilahkan Delisa
"Pak jangan Delisa terus donk yang maju" teriak beberapa murid kelas X.IPA.1
Delisa yang sudah berjalan maju sejenak berhenti saat mendengar murid protes karena dirinya sering maju.
"Ya sudah siapa yang bisa selain Delisa?" tanya Pak Ares kepada semua murid
Delisa pun kembali duduk ke bangkunya, kelas X.IPA.1 mendadak hening saat Pak Ares bertanya.
Wulan yang tau jawaban memilih diam saja, dirinya juga ingin tau siapa selain Delisa dan dirinya yang bisa menjawab soal dari Pak Ares.
Cukup lama akhirnya Zahra mengangkat tangan ingin menjawab soal yang ada di papan tulis itu, semua mata memandang ke arah Zahra dan kemudian beberapa murid memberikan semangat pada Zahra bahwa Zahra juga bisa menjawab soal itu selain Delisa dan Wulan yang terkenal murid paling pintar di dalam kelas X.IPA.1.
"Ya silahkan Zahra" kata Pak Ares mempersilahkan Zahra untuk maju ke depan
__ADS_1