Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Musibah 3


__ADS_3

Bella dan Mamanya segera turun dari mobil pajero sport milik Mamanya setelah pulang dari selesai lari pagi di taman kota, Mereka berdua berjalan beriringan masuk rumah sembari sesekali menyeka keringat yang masih menempel di kening mereka.


"Loh Papa, udah pulang. Gak jadi keluar kota terus kok mobil Papa gak ada di garasi" kata Rani terkejut melihat Suaminya sedang berbaring di kursi ruang keluarga


"Kalian dari mana?" tanya Bagas kepada Istrinya, bukannya menjawab dirinya justru bertanya balik


"Habis lari pagi ke taman kota" jawab Rani sembari ikut duduk di samping Suaminya


Bella memilih berlalu dari hadapan Kedua orang tuanya karena dirinya masih males dengan Papanya yang selalu memarahinya, Bella menaiki anak tangga dengan langkah yang cepat dan masuk kamar tidurnya.


"Papa belum jawab pertanyaan Mama" ujar Rani kepada Suaminya


"Mobil Papa masuk jurang pas Papa mau berangkat keluar kota, untung Papa langsung keluar kalo tidak kemungkinan Papa sudah tak bisa kembali lagi bersama kalian disini. Sepertinya ada yang mesabotase mobil Papa" jelas Bagas yang sebenarnya itu semua kebohongan


Padahal mobil miliknya memang sengaja di buangnya ke jurang ingin meninggal jejak karena sudah menabrak pengendara motor, gara-gara Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi jadi tanpa sengaja menabrak pengendara motor.


Kesalahan Bagas juga sudah menabrak pengendara motor bukannya bertanggung jawab, malah kabur dari tempat kejadian yang tentunya pihak polisi akan menyusut kejadian tersebut.


"Ohh syukurlah tapi ada yang luka gak Pa?" tanya Rani yang khawatir dengan keadaan Suaminya


Bagas mengangkat tangannya memperlihatkan lecet-lecet yang ada dilengannya kepada Istrinya, Rani langsung membungkam mulutnya melihat itu dan seperti merasa nyeri.


"Ini juga sedikit parah Pa, kita ke rumah sakit yuk" kata Rani yang memegang lengan Suaminya


"Tidak perlu, cukup di obati di rumah saja" tolak Bagas yang sebenarnya memang merasa baik-baik saja


"Ya sudah, tunggu disini Pa. Mama ambil kotak P3K dulu" kata Rani mengalah sembari beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah di mana kotak P3K terletak.


Bagas bernapas lega Istrinya percaya akan cerita yang dikarangnya barusan, Bagas juga sedikit khawatir pihak polisi bisa melacak tentang dirinya meski dirinya tau di jalan tempat kecelakaan tadi tak ada CCTV tapi pasti salah satu dari korban kecelakaan ingat plat mobilnya.

__ADS_1


Bagas berharap kedua korban kecelakaan itu tak selamat meski sebenarnya terdengar kejam doa yang dimintanya, tapi ini semua demi kebaikannya yang tak mau masuk penjara.


Rani datang membawa kotak P3K dan mulai membersihkan luka yang ada di lengan Suaminya, Bagas sesekali meringis kesakitan karena begitu perih saat terkenah alkohol.


Selesai semua kini Bella dan Kedua orang tuanya sarapan pagi, ada rasa bahagia di hati Bella akhirnya bisa makan bersama Kedua orang tuanya meski dirinya sedih juga pas mendengar cerita Mamanya kalo Papanya hampir saja masuk jurang.


.


.


Di Rumah Sakit


Delisa baru kembali lagi ke rumah sakit tempat Kedua orang tuanya di rawat setelah pulang sebentar ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, Delisa berjalan di koridor rumah sakit yang sudah sangat ramai.


Sayup-sayup Delisa mendengar suara gaduh di koridor rumah sakit arah ruangan paling ujung yaitu ruang ICU, Delisa yang melihat para perawat dan suster berlari semakin mempercepat langkah kakinya penasaran apa yang terjadi.


"Ada apa sus?" tanya Delisa pada salah satu suster yang berpapasan dengannya


"Pasien di ruang ICU" kata Delisa mengulang kata Suster itu


Suster itu menganggukkan kepala, Delisa tiba-tiba merasakan perasaannya tidak enak dan dirinya pun segera melangkahkan kakinya lebih cepat ingin memastikan bahwa tak terjadi apa-apa dengan Kedua orang tuanya.


"Dok, ada apa dengan Kedua orang saya?" tanya Delisa saat melihat Dokter keluar dari ruang ICU ruang dimana Kedua orang tuanya di rawat


"Apa anda keluarga pasien atas nama Desi?" tanya Dokter itu kepada Delisa


"Iya saya anak dari kedua pasien yang ada di dalam ruang ICU" jawab Delisa yang mulai kembali merasakan perasaan tidak enak


"Maafkan kami sebelumnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Ibu anda tetap tak bisa diselamatkan" jelas Dokter tersebut yang merasa sedih karena gagal membantu pasien

__ADS_1


"Maksud Dokter, Ibu saya meninggal dunia" kata Delisa ingin memastikan lagi perkataan Dokter itu


Dokter tersebut menganggukan kepalanya dan bertepatan brangkar yang berisi jenazah Desi keluar dari ruang ICU dalam keadaan tertutup kain, Delisa yang melihat brangkar itu keluar segera mendekat kemudian membuka penutup kain itu.


"Ibu... Jangan tinggalkan Delisa" kata Delisa memeluk jenazah Ibunya sembari menangis


"Kita bawa ke ruang jenazah dulu ya dek, entar baru adek urusan jenazahnya mau di mandikan oleh pihak rumah sakit atau mau di bawa ke rumah" kata Perawat laki-laki yang mendorong brangkar tersebut


Delisa segera melepaskan pelukannya dari jenazah Ibunya dan terduduk di lantai menangis sembari memandangi brangkar itu pergi dan masuk ruangan jenazah, Delisa tak tau harus minta bantuan siapa untuk mengurus jenazah Ibunya dan dirinya tiba-tiba teringat dengan Wulan.


Delisa segera beranjak dari lantai dan duduk di kursi tunggu yang ada di depan setiap ruangan, Delisa mengeluarkan hpnya yang ada di dalam saku celana jeans dan mencari kontak nomor hp Wulan.


"Hallo Lan" kata Delisa dengan suara serak


"Hallo Del, Lho habis nangis lagi. Ada apa?" tanya Wulan di seberang sana


"Wulan, Ibu ku me...meninggal dunia" jawab Delisa tercekat tak sanggup menjelaskan kabar tentang Ibunya


"Apa? Lho tunggu disana ya, Gue akan ke rumah sakit bareng Nyokap dan Bokap Gue" kata Wulan kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak


Wulan segera keluar dari kamar tidurnya dan mencari keberadaan Kedua orang tuanya, beruntung Kedua orang tuanya belum berangkat ke restoran mereka sehingga Wulan masih bisa memberitahu kabar tentang Ibunya Delisa.


Saat sudah berada di dekat Kedua orang tuanya Wulan segera memberitahu kabar tentang Ibunya Delisa yang meninggal dunia, Kedua orang tua Wulan tentu terkejut dan mereka bertiga pun segera beranjak ingin ke rumah sakit sekarang juga.


Memakan waktu setengah jam mobil Kedua orang tua Wulan sudah masuk ke area parkiran rumah sakit, Wulan dan Kedua orang tuanya segera turun dan bergegas masuk ke rumah sakit.


"Delisa" panggil Wulan yang langsung menghamburkan pelukan kepada Delisa


Delisa kembali menangis menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukan Wulan, Winda juga ikut meneteskan air mata lagi sembari mengelus punggung Delisa memberi kekuataan.

__ADS_1


Dody pamit dengan Istrinya ingin membantu Delisa mengurus jenazah Desi, Dody juga meminta pihak rumah sakit segera memandikan jenazah Desi dan setelah itu meminta ambulance rumah sakit mengantar jenazah Desi ke rumah Delisa dan Kedua orang tuanya.


__ADS_2