
Pagi ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Delisa yang biasanya sarapan sudah memakai seragam sekolah namun pagi ini Delisa sarapan tanpa memakai seragam sekolah membuat Dika mengeryitkan dahinya heran melihat Anaknya saat ini.
Hari ini bukan hari libur atau pun tanggal merah tapi mengapa Anaknya tidak bersiap-siap untuk berangkat sekolah, selesai sarapan pun Delisa langsung membereskan bekas makan mereka dan bahkan waktu terus berjalan tapi tak ada tanda-tanda Delisa ingin berangkat sekolah.
Dika masih diam di tempat tadi tak berniat beranjak dan sekalian menunggu Anaknya yang belum juga masuk dari halaman belakang, cukup lama menunggu akhirnya Delisa masuk dan berjalan mendekati Ayahnya.
"Del, kamu gak sekolah?" tanya Dika langsung pada intinya
"Gak yah" jawab Delisa singkat
"Kenapa? Bukannya hari ini gak tanggal merah" kata Dika lagi sambil terus memperhatikan gerak gerik Anaknya
Delisa memilih duduk ditempatnya waktu sarapan tadi sembari berhadapan dengan Ayahnya, Delisa berusaha mengatur irama jantungnya yang berpacu dengan cepat seperti sedang membuat masalah.
"Tanpa kamu jelaskan Ayah sudah bisa melihat bahwa kamu memiliki masalah, namun Ayah butuh kejujuran kamu" kata Dika yang masih menatap Anaknya
"Maafin Delisa yah, Delisa memilih keluar dari sekolah. Jadi mulai sekarang Delisa tidak akan pernah sekolah lagi sampai seterusnya" kata Delisa menangis dan bersimpuh di bawah kursi roda Ayahnya sembari tangannya memegang tangan Ayahnya
"Nangislah sepuas kamu, setelah itu ceritakan dari awal apa yang terjadi" ujar Dika sembari mengelus pucuk kepala Anaknya
Delisa akhirnya menumpahkan kesedihannya di depan Ayahnya hingga dirinya berhenti sendiri setelah puas menangis, Delisa menarik napas dengan kasar kemudian menghembuskan dengan perlahan.
Delisa mulai menceritakan masalahnya dari A sampai Z tanpa ada sedikit pun di lebihkan atau pun di kurangi murni seperti apa yang terjadi, Dika tak berniat memotong cerita Anaknya sampai Anaknya sendiri selesai bercerita.
Dika yang mendengar hanya bisa mengelus dada, tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Anak Kakak perempuannya itu begitu tega menghinanya di depan semua orang dan bahkan begitu sengaja mencari masalah dengan Anaknya.
Awalnya Dika kecewa karena Delisa mengambil keputusan ini, namun saat Delisa kembali memberi alasan Dika tak bisa berkata-kata lagi karena besar kemungkinan masalah itu tak hanya sekali bahkan bisa terus menerus sampai mental Delisa terganggu jika terus menerus di bully.
"Ya sudah, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan jika tidak mau melanjutkan sekolah lagi?" tanya Dika setelah selesai mendengar cerita Anaknya
__ADS_1
"Delisa akan mencari pekerjaan yah, buat kebutuhan kita. Ayah tenang aja sekarang meski Delisa tak sekolah lagi tapi Delisa yakin bisa sukses, karena jalan kesuksesan itu tak harus dari pendidikan" kata Delisa begitu semangat dan yakin akan dunia masa depannya
"Aaamiiin, Ayah percaya kok Anak Ayah bisa sukses suatu saat nanti" kata Dika berusaha memberi kepercayaan dengan Anaknya
Selesai bercerita dengan Ayahnya Delisa pamit ingin mencari pekerjaan agar bisa menambah pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari mereka, beruntung Delisa masih bisa mengajar LES jadi masih ada pemasukan.
Pagi ini Delisa berniat bekerja di mantan majikannya waktu libur sekolah kemarin jadi sekarang dirinya memutuskan akan ke rumah mantan majikannya itu sekarang, namun saat tiba di sana ternyata mantan majikannya itu sudah memiliki ART tetap yang menginap di sana jadi dirinya tak bisa bekerja disitu lagi.
Delisa yang kecewa meninggal rumah mantan majikannya itu dan memilih mencari pekerjaan lain, Delisa terus berjalan entah sudah sejauh mana dirinya hanya merasakan panas dari terik matahari padahal hari baru menunjukkan pukul 10 pagi.
Delisa memilih duduk di halte bus untuk berteduh sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya yang ingin mencari pekerjaan, Delisa memandangi jalanan yang dihadapannya yang begitu ramai kendaraan yang lalu lalang dan beragam kendaraan ada yang beroda dua maupun beroda empat.
.
.
Bel istirahat berbunyi Wulan merasa kesepian sekarang tak ada Delisa disampingnya padahal biasanya Delisa lah yang selalu membuatnya tertawa, beruntung pagi tadi Wulan memilih membawa bekal jadi tak perlu ke kantin istirahat ini karena Wulan juga malas tak ada yang menemaninya.
"Wulan, benaran Delisa keluar dari sekolah atau jangan-jangan dia dikeluarin dari sekolah?" tanya Zahra teman kelas Wulan
"Bukannya Pak Ares tadi udah bilang kalo Delisa keluar dari sekolah kemauannya sendiri karena tak sanggup untuk bayar SPP setelah beasiswanya di cabut" kata Wulan kesal karena orang-orang masih menganggap Sahabatnya itu dikeluarkan dari sekolah padahal semua guru sudah menjelaskan
"Biasa aja kali gak usah marah, Gue kan cuma nanya" kata Zahra kemudian berlalu dari hadapan Wulan
Sepeninggalan Zahra Wulan segera membuka kotak bekalnya dan mulai menyantap makanan yang di siapkan oleh Mamanya pagi tadi, Wulan berusaha menelan makanannya meski seperti terasa susah dikerongkongannya karena masih memikirkan nasib kehidupan Sahabatnya itu.
Dengan bantuan air minum makanan yang ada di hadapan Wulan pun habis meski seperti terasa hambar yang sebenarnya makanan itu sangat lezat, selesai makan Wulan membuka hpnya melihat galery foto yang berisi gambar kebersamaannya dengan Delisa.
"Wulan" panggil Seseorang yang seperti tak asing suaranya
__ADS_1
Wulan yang fokus dengan layar hp segera mendongakkan kepalanya ingin melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini, dan benar tebakkan Wulan kalo yang ada dihadapannya adalah pangeran berkudanya Delisa.
"Ada apa?" tanya Wulan
"Benaran Delisa keluar dari sekolah hanya karena beasiswanya di cabut, Gue padahal bisa membantunya membayar SPP perbulan" kata Nathan yang langsung duduk di hadapan Wulan
"Bukan hanya itu alasannya" kata Wulan kemudian menceritakan semuanya yang keluar dari mulut Delisa kemarin
"Jadi Bella sengaja" kata Nathan kemudian menyambak rambutnya frustasi
Wulan hanya mengangukkan kepala kemudian bercerita juga tentang Bella dan Delisa itu sebenarnya saudara sepupu, Bella iri dengan kehidupan Delisa yang selalu menjadi nomor satu tentu membuat Bella sangat membenci Delisa dan kebencian itu timbul dari mereka duduk di bangku SMP.
Nathan yang mendengar cerita dari Wulan hanya bisa geleng-geleng kepala tak menyangka Bella adalah gadis memiliki ambisi besar dan segala cara dihalalkannya agar bisa mendapatkan apa yang dia mau, Nathan yang awalnya hanya ilfil dengan kelakuan Bella kini berubah menjadi benci.
Nathan segera keluar dari kelas Wulan dan memilih kembali ke kelasnya, Nathan yang awalnya ingin masuk mengurungkan niat saat mendengar Bella the gengs tertawa terbahak-bahak dirinya penasaran apa yang membuat Bella the gengs tertawa.
"Akhirnya Delisa keluar sendiri tanpa bertahan terlebih dahulu, jadi kita tak perlu repot-repot lagi untuk membully nya" kata Jesica
"Iya salah siapa coba, sekali dua kali di peringati jangan mendekati My Baby Nathan ehh masih juga" kata Bella
Hingga mereka bertiga kembali tertawa terbahak-bahak merayakan kemenangan mereka yang sudah bisa membuat Delisa keluar dari sekolah, Bella the gengs tidak tau kalo dari tadi ada yang mendengar semua perkataan mereka.
Prok prok prok
Nathan bertepuk tangan sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas mereka, Bella the gengs yang melihat Nathan langsung terdiam dan ketar ketir karena takut Nathan mendengar semua perkataan mereka tadi.
"Bagus ya, Gue gak nyangka. Bella safira saudara sepupu kandung dengan Delisa Amalia tapi begitu kejam membully nya sampai Delisa memilih keluar dari sekolah" kata Nathan saat sudah berhadapan dengan Bella the gengs
Bella terkejut Nathan mengetahui rahasianya, sedangkan Jesica dan Sintya saling pandang tak mengerti maksud Nathan barusan yang mengatakan Bella dan Delisa saudara sepupu kandung.
__ADS_1