Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Acara Perpisahan


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu seluruh murid SMP Merdeka Mandiri pun tiba baik kelas VII dan kelas VIII mereka tidak sabar melihat penampilan kakak kelas mereka, kelas IX yang mengadakan acara perpisahan pun juga tak sabar dengan acara perpisahan mereka apalagi mereka semua di minta yang perempuan memakai kebaya dan berdandan cantik sedangkan yang laki-laki memakai setelan jas seperti bos kantoran.


Pagi-pagi Delisa sudah siap dengan kebayanya yang berwarna pink soft dan panjang hingga kaki yang sangat pas ditubuhnya yang tinggi serta kulitnya yang putih, membuatnya semakin cantik meski dirinya hanya berdandan sendiri dengan polesan make-up seadanya.


Delisa berjalan pelan keluar dari kamar tidurnya sembari menenteng tas selendang berwarna putih dan high heels berwarna putih juga, Desi dan Dika yang melihat Anak mereka sangat cantik begitu kagum sampai mereka berdua tak berkedip sama sekali.


"Ibu Ayah, kenapa melihat Delisa seperti itu? Apa dandanan Delisa jelek?" tanya Delisa kepada Kedua orang tuanya sembari meneliti penampilannya dari bawa ke atas


"Tidak sayang, kamu sangat cantik. Makanya Ayah sampai pangling" jawab Dika sembari menghampiri Anaknya


"Betul kah yah bu, Delisa cantik. Delisa sebenarnya kurang pede" kata Delisa yang merasa insicure karena dirinya berdandan sendiri tanpa tukang rias


"Kamu sangat cantik, bahkan kebaya yang Ibu belikan pas sekali dengan kamu" jawab Desi memegang kedua bahu Anaknya sembari di putar-putarnya


Delisa menyunggingkan senyumannya kepada Kedua orang tuanya, kemudian memeluk Ibunya dan mengucapkan terima kasih karena sudah membelikannya kebaya yang sangat cantik menurutnya.


"Yang datang siapa? Ayah apa Ibu?" tanya Delisa setelah pelukan tadi di lepas


"Ibu, entar Ayah yang ngantar. Kamu duluan saja naik taksi. Ibu belum siap-siap, Ibu kan mau cantik juga seperti kamu" jawab Desi mengoda Anaknya sembari tersenyum


Tin...tin...tin


Bunyi klakson sebuah mobil, Dika mengintip dari balik jendela benar saja taksi yang di pesan oleh Delisa sudah ada di depan rumah mereka.

__ADS_1


"Delisa pamit dulu Ibu Ayah, Jangan lama-lama ya bu. Delisa juga harus tampil membaca sebuah puisi tentang GURU, Ibu harus menyaksikan penampilan Anak Ibu ini" kata Delisa kemudian mencium punggung tangan Kedua orang tuanya secara bergantian


"Iya hati-hati di jalan" ujar Desi yang tak pernah lupa mengingatkan Anaknya


"Assalamualaikum" ucap Delisa sebelum menghilang di balik pintu depan


"Walaikumsalam" jawab Desi dan Dika berbarengan


Kini Delisa sudah berada di dalam taksi, mobil taksi pun sudah melaju dari tadi meninggalkan rumahnya dan menuju ke sekolahannya.


Beruntung pagi ini tak terlalu macet karena hari ini hari sabtu yang artinya para pekerja kantoran sedang libur, Delisa sesekali melihat penampilannya di layar hpnya karena takut ada yang berantakkan.


"Udah cantik neng" kata Sopir taksi itu sembari tersenyum


"Ahh bapak bisa aja, saya hanya kurang pede pak. Secara berdandan sendiri tanpa tukang perias" jawab Delisa tersenyum


Delisa tak menjawab lagi hanya menyunggingkan senyuman untuk si Bapak sopir taksi yang ramah itu, Delisa memandangi ke arah luar jendela melihat jalanan yang di lalu-lalangi mobil-mobil mewah ataupun pengendara sepeda motor.


Hingga tak terasa mobil taksi yang di tumpangi Delisa berhenti di depan sekolahannya, rumah sekolah yang akan dirindukannya saat dirinya sudah tak sekolah disini lagi dan sudah sibuk dengan sekolah barunya serta hari ini akan menjadi hari terakhir dirinya menginjakkan kaki disekolahannya ini.


Setelah membayar ongkos Delisa segera keluar dari mobil taksi tersebut, Delisa berjalan masuk ke arah pagar sekolah dengan pelan apalagi kebaya yang dipakainya memang bagitu pas membalut tubuhnya jadi membuatnya berjalan sedikit kesusahan.


Delisa terus berjalan di koridor sekolah semua mata memandangnya dengan kagum baik dari adik kelasnya maupun teman-teman seangkatannya yang rombongan laki-laki, Delisa pun menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malunya.

__ADS_1


"Del... Delisa" panggil Seseorang yang sangat Delisa kenalin suara itu dan segera Delisa menoleh ke belakang


"Wulan, Masyaallah Lho cantik banget" kata Delisa saat melihat penampilan Wulan dari atas ke bawa


"Lho juga cantik" jawab Wulan sembari tersenyum


"Tapi lebih cantik Lho, apalagi Lho pasti pakai jasa tukang rias sedangkan Gue dandan sendiri" kata Delisa yang tetap selalu insicure dengan teman-temannya


"Yuk ke gedung olahraga, acaranya ada disana" kata Wulan mengalihkan pembicaraan sembari mengandeng tangan Delisa


Delisa dan Wulan segera melangkahkan kaki ke arah gedung olahraga yang saat ini di gunakan untuk acara perpisahan, tiba di gedung itu ternyata telah di sulap menjadi seperti gedung pernikahan yang dekorasinya sangat indah dan mewah.


Delisa memutar bola matanya melihat gedung yang sudah di sulap itu dengan tatapan kagum dan senang, begitu juga Wulan sampai dirinya menutup mulut saking takjumnya.


Di dalam gedung juga sudah lumayan banyak para murid yang duduk baik dari rombongan adik kelas maupun rombongan mereka, Delisa dan Wulan sudah duduk berdampingan di salah satu kursi yang khusus untuk kelas IX yang mengadakan acara perpisahan ini.


Tak berapa lama gedung pun mulai di penuhi oleh seluruh murid SMP Merdeka Mandiri dari kelas VII hingga kelas IX yang sebentar lagi akan menjadi alumni, sebagian wali murid dari kelas IX juga sudah pada datang dan para peninggi di kota A ini juga sudah datang yang sudah duduk manis di barisan paling depan.


Bella yang datang terakhir berjalan masuk ke gedung tersebut dengan langkah kaki begitu anggun membuat semua yang ada di dalam gedung memperhatikannya dan menatapnya dengan kagum karena dirinya hari ini sangat cantik bahkan lebih cantik dari semuanya.


Meski sebenarnya tetap cantik Delisa hanya saja dandanan Delisa saat ini begitu sederhana jadi tak terlalu nampak bukan seperti Bella yang pastinya di dandani oleh tukang rias yang terbaik di kota A ini.


Delisa yang melihat Bella hanya bisa tersenyum tak ada rasa iri, baginya dirinya kagum melihat Bella yang selalu ingin tampil lebih segalanya dari semua orang.

__ADS_1


Delisa kini justru fokus mencari keberadaan Ibunya yang seperti sampai detik ini belum menampakkan batang hidung sedangkan wali murid yang lain sudah pada datang dan di salah satu kursi untuk wali murid terlihat ada Tantenya yang sepertinya mewakili Bella.


Pembawa acara pun memulai acara tersebut, Delisa semakin risau karena Ibunya belum juga kelihatan padahal dirinya sangat berharap Ibunya secepatnya datang apalagi selesai semua acara dirinya akan tampil membawakan sebuah puisi tentang GURU.


__ADS_2