Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Kabar Bahagia


__ADS_3

Keesokan harinya


Nathan berjalan di koridor sekolah yang sudah nampak ramai karena para murid SMA Tunas Bangsa sudah berdatangan, apalagi ini hari senin yaitu upacara bendera merah putih yang berapa menit lagi akan di laksanakan.


Tentu membuat semua murid harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat, yang bertugas jadi pemandu acara upacara bendera merah putih kelas X.IPA.3 yaitu kelas Nathan the gengs dan Bella the gengs.


Ternyata Nathan menjadi pemimpin upacara bendera merah putih kali ini, makanya wajah tampan dan kharismanya begitu nampak pagi ini seperti seorang pemimpin perusahaan yang sebenarnya memang penerus CEO di perusahaan PT.Wijaya Sentosa.


Seluruh murid SMA Tunas Bangsa bergegas ke lapangan setelah mendengar bel tanda upacara bendera merah putih akan segera di laksanakan, setelah semuanya berbaris dengan rapi murid kelas X.IPA.3 memulai susun acara.


Acara sudah berjalan dengan baik dan bahkan begitu lancar, bisik-bisik para murid terdengar yang memuji ketampanan dan kegagahan Nathan saat menjadi pemimpin sampai mereka berharap Nathan bisa menjadi penerus ketua OSIS tahun depan.


Tak terasa akhirnya acara upacara bendera merah putih telah selesai, Nathan the gengs memilih ke kantin sejenak untuk membeli minuman dingin agar kerongkongan mereka terasa sejuk.


"Wah Nathan tampan banget ya" ucap Salah satu murid yang berpapasan dengan Nathan


Para murid yang lain juga memperhatikan Nathan yang berjalan di depan mereka, tatapan kagum itu sangat jelas membuat Bella yang berdiri tak jauh dari situ menjadi kesal.


Padahal Bella sudah menyingkirkan satu pesaingnya, kini malah bakal ada lagi yang begitu kagum akan ketampanan Nathan di sekolah ini dan jika ada yang berani mendekati Nathan tak segan-segan Bella membuat mereka keluar dari sekolah ini seperti Delisa.


"Lan, Lho sendirian disini?" tanya Nathan yang melihat Wulan duduk setelah mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin


"Iya, ada apa Nath" jawab Wulan mendongak ke arah Nathan yang berdiri dihadapannya


"Gue punya kabar sangat bagus dengan Lho" kata Nathan sembari duduk di hadapan Wulan

__ADS_1


"Apaan sih, langsung aja. Gue mau ke kelas sebentar lagi mata pelajaran pertama bakal di mulai" kata Wulan sedikit kesal dengan Nathan yang terlalu lama menjelaskan apa yang ingin di jelaskan dengannya


"Gue udah ketemu dengan Delisa, dia ternyata bekerja di rumah Gue. Jadi perawat Oma gue" jelas Nathan begitu antusias


"Hah, jadi Delisa bekerja di rumah Lho. Ya ampun dunia ini seperti selebar daun kelor saja" kata Wulan yang tak menyangka Sahabatnya ternyata bekerja di rumah Nathan


Nathan juga bercerita soal dirinya yang di ajari belajar oleh Delisa, Nathan memuji kepintaran Delisa meski tak sekolah lagi tapi otak Delisa tetap bisa mengajarinya.


Nathan juga menawari Wulan dan kedua temannya untuk ikut belajar di rumah mereka, sekalian bertemu dengan Delisa yang pasti mereka pada rindu dengan Delisa yang sudah lumayan lama tak berkumpul dengan mereka.


Wulan menyetujui tawaran Nathan karena dirinya memang butuh Delisa untuk mengajarinya, agar nilainya kembali lagi seperti dulu menyetarai Zahra yang kini selalu mendapat nilai tertinggi di dalam kelasnya semenjak tak ada Delisa.


Akhirnya mereka memutuskan pulang sekolah nanti akan langsung ke rumah Nathan, dan Wulan akan memberi tahu Mamanya melalui telepon bahwa dirinya akan belajar bersama di rumah temannya bersama Delisa juga.


.


.


Seperti biasa Delisa menyiapkan potongan buah dan segelas jus buah untuk Oma Widia, kejadian sore kemarin sudah Delisa lupakan karena dirinya memaklumi majikannya tak terlalu suka dengan keberadaannya disini.


Namun Delisa tetap bertahan disini demi Oma Widia yang tentunya bakal sedih jika dirinya tiba-tiba berhenti bekerja, Nathan juga membutuhkannya untuk mengajari belajar dan itu pastinya juga bermanfaat.


Selesai menyiapkan potongan buah dan segelas jus buah untuk Oma Widia, Delisa segera membawa makanan tersebut mengunakan nampan dan segera berjalan menuju lantai atas.


Sebelum Delisa mengetuk daun pintu ternyata Oma Widia sudah terlebih dahulu meminta Delisa langsung masuk, mungkin Oma Widia sudah mendengar langkah kaki Delisa makanya tau saat Delisa sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Oma ini buahnya" kata Delisa sembari meletakkan nampan yang berisi potongan buah dan segelas jus buah di atas meja yang ada di samping tempat tidur Oma Widia


"Sini, duduk deket Saya" ujara Oma Widia sembari menepuk sisi samping sofa yang kosong


Delisa pun segera duduk di dekat Oma Widia sembari memperhatikan Oma Widia yang sedang menikmati potongan buah, tiba-tiba Oma Widia menyodorkan potongan buah dengan mengunakan garfu ke arah mulut Delisa.


"Ayo terima, masak Saya makan kamu hanya melihat saja. Gak adil donk" kata Oma Widia sembari menyunggingkan senyuman


Delisa pun mau tak mau menerima suapan tersebut, suapan demi suapan tetap masih Oma Widia beri ke Delisa hingga membuat Delisa teringat sosok Ibunya yang telah lama pergi dan air mata Delisa tiba-tiba jatuh begitu saja, Delisa merindukan pelukan hangat dari Ibunya yang kini sudah bahagia di alamnya sana.


Oma Widia seperti tau apa yang di rasakan Delisa sekarang langsung memeluk Delisa, dan mengelus punggung Delisa memberi kekuatan agar Delisa tetap bisa kuat.


Selesai menghabiskan potongan buah dan segelas jus buah, Oma Widia kembali mengajak Delisa ke ruangan tempat menjahit ingin melihat jahitan Delisa yang belum selesai kemarin.


"Di lanjut lagi Del, Saya mau lihat hasilnya. Tinggal sedikit lagi" kata Oma Widia yang menyerahkan kain pakaian yang di buat Delisa kemarin


"Oke Oma" jawab Delisa bersemangat melanjutkan jahitan baju yang dibuatnya kemarin


Dengan gerak yang seperti sudah terlatih Delisa terus mengerakkan mesin jahit dan tangannya dengan begitu lincah memutar mesin jahit serta mengerakkan kain dihadapannya, ini baju percobaan yang pertama kali di buat oelh Delisa makanya dirinya begitu semangat.


Apalagi baju ini ingin dihadiahkannya pada Ayahnya agar Ayahnya bangga anaknya yang satu ini bisa membuat baju, cukup lama Delisa berkutik di depan mesin jahit hingga akhirnya baju yang dibuatnya selesai dan syukurnya lumayan bagus.


"Wah bagus ini, tapi Saya baru tau kalo ternyata sebuah baju kaos ukuran dewasa" kata Oma Widia memuji hasil karya Delisa barusan


"Iya Oma, baju ini mau Saya kasih ke Ayah Saya" kata Delisa sembari tersenyum memandangi baju buatannya.

__ADS_1


Oma Widia menganggukkan kepala sembari mengelus pucuk kepala Delisa, Oma Widia begitu bangga dengan Delisa yang tetap selalu memikirkan keadaan Ayahnya meski pun mereka saat ini berjauhan.


Jarang sekali anak zaman sekarang memikirkan kepentingan Kedua orang tua mereka, bahkan kebanyakkan dalam hidup anak zaman sekarang yang terpenting mereka jadi tak perlu repot-repot memikirkan keadaan kedua orang tua mereka.


__ADS_2