
Tak terasa Delisa sudah seminggu bekerja di rumah Oma Widia mengurus semua keperluan Oma Widia sekalian menjadi teman ceritanya, dan lebih membuat Delisa bersyukur sekarang dirinya sudah bisa membuat baju setelah Oma Widia mengajari dari dasar sampai detik ini.
Setiap hari Oma Widia tak bosan-bosan untuk mengajari Delisa tentang menjahit dan membuat baju, Delisa juga tak bosan-bosan untuk terus belajar dan mendengar cerita yang keluar dari mulut Oma Widia.
Kebetulan hari ini weekend jadi penghuni rumah Oma Widia ada di rumah karena Oma Widia yang meminta sekalian ingin mengenalkan Delisa kepada semua orang, Delisa baru tiba saat semua penghuni rumah bak istana itu berkumpul di ruang keluarga.
"Delisa sini..." panggil Oma Widia saat Delisa melangkahkan kaki ingin ke dapur
"Iya Nyonya besar" jawab Delisa sembari menunduk memberi hormat kepada yang ada dihadapannya
"Delisa..." kata Nathan terkejut melihat seseorang yang selama ini ingin ditemuinya kini ada dihadapannya
Delisa mendongakkan kepala ketika mendengar seseorang menyebut namanya bahkan suara itu seperti tidak asing baginya, setelah melihat ke depan kedua bola mata Delisa membulat sempurna melihat laki-laki yang selama ini sering berusaha mengajaknya bertemu.
"Nathan kamu kenal dengan Delisa?" tanya Oma Widia yang ikut terkejut atas ekspersi Nathan dan Delisa
"Iya Oma, Delisa teman Nathan di sekolah. Nathan sudah lama ingin bertemu dengannya namun Delisa bilang sibuk bekerja, ternyata dia bekerja di rumah kita. Kalo tau dia bekerja di rumah kita Nathan pasti sering pulang biar bisa bertemu setiap hari" jelas Nathan begitu bahagia melihat pujaan hatinya bekerja di rumahnya
"Nathan" tegur Nathalie yang tak suka melihat Nathan begitu senang melihat kehadiran Delisa disini
Apalagi dari penampilan Delisa sangat kelihatan bahwa anak orang miskin yang tentunya tak selevel dengan keluarga mereka, Nathalie begitu benci melihat kehadiran Delisa mengapa bisa orang seperti itu di pekerjakan oleh Mama mertuanya.
Sedangkan Wijaya hanya tersenyum melihat putra bungsunya yang begitu kelihatan jika sedang jatuh cinta, meski Delisa sederhana namun sepertinya memiliki hati yang baik karena pertama kali melihatnya saja hati Wijaya begitu tersentuh anak remaja seperti Delisa mau berhenti sekolah demi bisa menafkahi keluarganya.
Oma Widia tentu merestui jika memang Nathan menyukai Delisa, apalagi selama kenal Delisa Oma Widia memang sangat berharap Delisa menjadi bagian keluarga mereka apalagi Delisa anak yang baik.
__ADS_1
Delisa menundukkan kepala malu dan takut karena semua mata majikannya memandanginya begitu dalam, entah apa yang sedang ada dalam pikiran semua majikannya yang tentunya membuat Delisa semakin gelisah.
"Ya sudah Delisa, nanti ke atas ya seperti biasa bawa buah dan jus untuk Saya" kata Oma Widia agar Delisa segera pergi karena kelihatan jika Delisa seperti tak nyaman
"Baik Nyonya besar" jawab Delisa kemudian berlalu dari hadapan semua majikannya
Nathan benar-benar bahagia Delisa bisa sedekat ini lagi dengan dirinya, Nathan memikirkan cara agar dirinya bisa juga menghabiskan waktu berdua dengan Delisa di rumah ini.
Oma Widia segera pamit dengan semua yang ada di ruang keluarga ingin ke kamar, selang berapa menit Nathan menyusul Oma Widia karena sudah mendapatkan ide untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan Delisa.
Selesai mengupas dan memotong buah Delisa segera menata semua buah itu di atas piring buah dan diletakkan di nampan, tak lupa satu gelas jus buah naga tanpa tambahan pemanis serta garpu untuk makan buah.
Delisa segera membawa nampan yang berisi potongan buah dan jus tersebut menuju kamar tidur Oma Widia, ketika melewati ruang keluarga Nathalie menatap Delisa dengan tatapan tak suka dan bahkan lebih dari itu yaitu tatapan kebencian.
Tok...tok...tok
Delisa mengetuk pintu kamar tidur Oma Widia sudah berapa kali, namun tak ada sahut lan apapun dari dalam kamar akhirnya Delisa memilih langsung masuk takut Oma Widia kenapa-napa karena tak pernah hal seperti ini terjadi sebelumnya.
"Ayolah Oma, bujuk Delisa biar mau mengajari Nathan" kata Nathan memohon dengan Oma Widia
Oma Widia hanya bisa tersenyum menanggapi Cucu laki-lakinya yang sedang jatuh cinta ini, namun setelah mendengar cerita Nathan bahwa Delisa itu memiliki IQ tinggi dan bahkan mendapat nilai tertinggi se-Indonesia sangat di sayangkan mengapa bisa memiliki keluar dari sekolah hanya masalah seperti itu.
"Hem, maaf Nyonya besar. Saya lancang masuk tanpa di minta Nyonya besar, soalnya Saya sudah berapa kali mengetuk tapi sepertinya Nyonya besar gak dengar" jelas Delisa saat sudah berada di dekat Oma Widia dan Nathan
"Delisa jika tidak ada Wijaya dan Nathalie, panggil Saya seperti biasa" kata Oma Widia sembari tersenyum kepada Delisa
__ADS_1
"Baiklah Oma" jawab Delisa kemudian meletakkan nampan yang berisi potongan buah dan segelas jus di atas meja yang ada di samping tempat tidur
Pertama Delisa berbicara Nathan tak berhenti memandangi Delisa seperti sedang terhipnotis akan kecantikan Delisa yang sederhana itu, Oma Widia pun yang melihat Nathan tak berhenti memandang Delisa hanya bisa geleng-geleng kepala atas kelakuan Cucu bungsunya itu.
Sedangkan Delisa justru malu di pandangi Nathan seperti itu sampai Delisa memilih menundukkan kepala, entah sudah berapa lama Nathan memandanginya membuat Delisa jadi risih.
"Hem,, Delisa Saya mau bicara serius dengan kamu" kata Oma Widia berdehem membuat Nathan menjadi mengalihkan pandangannya dari Delisa
Delisa yang mendengar Oma Widia akan bicara serius jadi takut, takut jika dirinya membuat kesalahan dan dipecat dari sini padahal Delisa sudah nyaman bekerja disini apalagi setiap hari gajian uang sisa hasil gajinya bisa disimpannya apalagi setiap sore Delisa akan dapat lauk dari sini tentu membuatnya semakin bisa hemat.
"Ada apa Oma, maaf jika Saya buat kesalahan. Tapi Saya mohon Oma jangan pecat Saya" kata Delisa menundukkan kepala
"Siapa yang ingin memecat kamu, Oma dengar dari Nathan kamu murid tercerdas se-Indonesia" kata Oma Widia senyum-senyum melihat Delisa yang ketakutan
"Iya Oma, ada apa memangnya?" tanya Delisa namun sedikit rileks karena ternyata Oma Widia tidak memecatnya
"Kamu mau gak mengajari Cucu Saya ini belajar, biar dia jadi pinter kayak Papanya dan Kakaknya. Entah mengapa otaknya tak menurun dari Papanya, padahal Papanya dan Kakaknya umur 17 tahun sudah kuliah" kata Oma Widia
"Ihh Oma, otak Nathan hanya kurang di asa aja" kata Nathan tak terima Oma Widia yang selalu membandingkannya dengan Papanya dan Kakaknya yang juga sangat cerdas
"Baiklah Oma, semoga dengan Saya membantu Nathan. Dia jadi seperti Papanya dan Kakaknya" jawab Delisa yang tak mungkin menolak permintaan Oma Widia
"Tenang Gue bakal tetap gaji Lho, luar dari gaji yang Oma beri" kata Nathan kepada Delisa
Delisa hanya mengangguk saja artinya keputusannya tepat jika Nathan juga akan membayar jasa dirinya mengajari Nathan, Delisa begitu senang jika bisa banyak menghasilkan uang karena pasti suatu saat uang simpanannya itu nanti akan terpakai juga meski tak tau kapan saatnya.
__ADS_1