Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Kebersamaan


__ADS_3

"Del, makan dulu yuk nak. Nanti lanjut lagi belajarnya setelah makan" ujar Dika sembari memegang pundak Anaknya itu


"Iya yah" jawab Delisa sembari merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja belajar


Delisa dan Ayahnya segera keluar dari kamar tidur Delisa, kemudian berjalan mendekati Ibunya yang sedang menata makanan di atas sebuah karpet.


Delisa dan Kedua orang tuanya mulai menyantap dan menikmati makan malam ini dengan menu makanan seadanya, Delisa sangat bahagia meski mereka hanya makan seadanya setidaknya dirinya dan Kedua orang tuanya tetap selalu bersama-sama dalam keadaan susah dan senang.


Selesai makan Delisa pamit dengan Kedua orang tuanya ingin ke kamar tidurnya, dirinya ingin melanjutkan acara belajarnya yang kini menjadi kebiasaan setiap malam.


Delisa kembali membuka buku-buku yang dirapikannya tadi, Delisa juga mulai mencoret-coret di sebuah kertas untuk mencari jawaban soal yang ada di buku LKS yang belum di isinya.


Delisa begitu semangat belajar Matematika ini selain itu mata pelajaran favoritnya, Matematika menurutnya suatu pelajaran yang menantang karena banyak rumus dan harus pintar memecahkan rumus-rumus.


Sedangkan Kedua orang tuanya memilih duduk di ruang depan untuk bersantai, menikmati masa-masa yang sudah jarang mereka lakukan karena kadang malam hari mereka sudah lelah jadi langsung istirahat.


"yah, tabungan Ibu mau Ibu berikan dengan Delisa" kata Desi memulai percakapan yang semulanya begitu hening


"terserah Ibu" jawab Dika yang sedang guling di pangkuan Istrinya menatap mata Istinya yang begitu sendu


"Iya yah, soalnya sebentar lagi Delisa lulus sekolah. Dia tentu sangat membutuhkan uang untuk keperluan sekolahnya nanti" jelas Desi yang sembari mengelus rambut Suaminya yang ada beberapa sudah memutih karena faktor terlalu banyak pikiran


Dika tersenyum menatap Istrinya yang selalu memikirkan keadaan Anak mereka ketimbang keperluannya sendiri, bahkan dari dulu Istrinya selalu mempunyai pemikiran seperti itu mau bagaimana lagi setiap orang tua memang lebih mengutamakan keadaan Anak.


Dika membenamkan wajahnya di perut Istrinya, entah mengapa tiba-tiba Dika berharap mereka memiliki Anak lagi selain Delisa namun sudah belasan tahun Istrinya tak kunjung hamil lagi padahal selama ini mereka sudah pernah program.

__ADS_1


Tapi sepertinya mereka memang hanya di karuniai satu anak yaitu Delisa, mungkin Tuhan hanya memberi mereka satu anak karena sudah tau bahwa kehidupan mereka akan seperti ini jadi tak ingin anak mereka yang lain merasa kekurangan dan hidup dengan tidak layak.


Sedangkan Delisa masih menikmati kehidupan mereka sekarang meski hanya serba berkecukupan, beruntung dirinya memiliki Istri seperti Desi yang mendidik Delisa menjadi anak mandiri dan tidak manja.


"Bu, masuk ke kamar yuk. Udah malam kita istirahat" ujar Dika kepada Istrinya semnari beranjak dari pangkuan Istrinya


Desi hanya mengangggukkan kepalanya, entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya begitu gelisah sehingga dirinya sering melamun tidak tau apa yang ada di dalam pikiran.


Kedua orang tua Delisa sudah berada di dalam kamar tidur dan beebaring di atas kasur tipis itu, mereka berdua pun mulai memejamkan kedua mata mereka hingga tak terasa sudah masuk ke alam mimpi.


.


.


Ditempat lain


Entah ada angin apa yang membuat Papanya yang biasa berlaku cuek dan dingin, tapi malam ini begitu hangat bahkan mau menemaninya dan Mamanya yang sedang menonton TV acara sinetron yang hanya cerita fiktif.


Bella terus-terus tersenyum memandangi Kedua orang tuanya yang saat ini saling rangkul satu sama lain, sudah lama sekali dirinya menginginkan kebersamaan ini hingga akhirnya terwujud meski hanya semalam.


Namun Bella tetap berharap bukan hanya malam ini Papanya mau menghabiskan waktu bersama, tapi malam-malam selanjutnya sampai dirinya menemukan pasangan hidupnya dan kebahagiannya sendiri.


Bahkan Bella rela tidak belajar malam ini demi menikmati momen kebersamaan dengan Kedua orang tuanya apalagi dengan Papanya, Bella yang begitu kurang kasih sayang dari seorang Papa tentu sangat menginginkan hal seperti ini.


"Bagaimana dengan ujian mu hari ini tadi?" tanya Bagas kepada Anaknya yang dari tadi memandanginya

__ADS_1


"Alhamdulilah lancar pa, Bella juga bisa jawab semua" jawab Bella sembari menyunggingkan senyum terbaiknya


"Baguslah, semoga saja kamu bisa mengalahkan Delisa" kata Bagas kemudian matanya kembali menatap layar TV yang ada di hadapan mereka


Bella tak menjawab lagi, dirinya tak tau harus bagaimana karena di hati kecilnya dirinya tak yakin bisa mengalahkan Delisa sepupunya itu.


Namun di satu sisi tentu Papanya berharap dirinya bisa mengeser posisi Delisa, di tambah dirinya sudah mendapat sebuah janji dari Papanya jika bisa mendapatkan juara umum pertama Papanya akan mengajaknya jalan-jalan ke Paris.


Tempat wisata yang sangat diinginkan semua orang, pastinya Bella juga mau dan Bella sangat berharap tetap akan ke Paris meski dirinya tak bisa mendapatkan juara umum pertama.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Rani kepada Anaknya yang tiba-tiba memasang wajah datar dan khawatir


"Iya Bella baik-baik saja ma" jawab Bella berusaha tersenyum agar Mamanya percaya


Rani merangkul Anaknya memberi kekuataan agar Anaknya bisa lebih sabar menghadapi Suaminya yang selalu kurang puas dengan hasil usaha Anaknya selama ini, padahal Anaknya sudah berusaha.


Rani tau bahwa Anaknya takkan pernah bisa mengeser posisi Delisa karena Delisa memang memiliki IQ lebih tinggi dari Anaknya, meski Anaknya sudah berusaha tapi tetap saja yang namanya kemampuan hanya sampai disitu sehingga sampai kapan pun tetap tak bisa.


Bella dan Kedua orang tuanya kembali fokus pada layar TV yang ada di hadapan mereka, hening yang di rasakan saat ini hanya terdengar suara dari TV.


Waktu terus berjalan entah sudah berapa menit telah berlalu mereka semua masih memeperhatikan layar TV, sesekali Bella menguap menahan kantuk yang mulai menyerangnya karena sudah tak tahan dirinya segera beranjak dari dudukya.


"Ma Pa, Bella ke kamar dulu ya. Udah ngantuk banget" kata Bella pamit dengan Kedua orang tuanya


"Iya sayang" jawab Rani kepada Anaknya itu

__ADS_1


Bella segera berlalu dari hadapan Kedua orang tuanya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya yang ada di lantai atas, tiba do depan kamar Bella langsung masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup kembali pintu kamarnya.


Bella pun berbaring di atas tempat tidurnya, rasa kantuk yang menyerangnya tadi seketika hilang saat dirinya kembali mengingat perkataan Papanya tadi, Bella meneteskan air mata merasa kecewa dengan Papanya yang selalu menuntunnya untuk menjadi yang paling depan padahal dirinya sendiri tak mampu.


__ADS_2