Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Epsd 16


__ADS_3

Saat Siska dan Edwin merasakan kebahagian ada yg lain sedang kebakaran jenggot. Lia yg mendengar suara mereka hendak ingin nyamperin tapi langkahnya segera di hentikan Rayen. Rayen tau apa yg ingin di lakukan Lia saat itu dan berusaha mencegahnya.


"Lepaskan tangan ku!" Ucap Lia kesal.


"Aku tidak akan melepaskan tangan mu karena aku tau tujuan mu." Jawab Rayen dingin.


"Jangan ikut campur urusan ku." Ketus Lia menarik tangannya, berusaha melepaskan dari genggaman tangan Reyen namun usahanya sia-sia karena Reyen mengenggamnya lebih kuat.


"Jangan pernah ganggu mereka atau kamu akan berurusan sama aku. Apa kamu tidak sadar jika ulah mu nanti akan menyakiti hati banyak orang."


"Apa maksud mu." Sinis Lia memelototi Rayen tajam.


"Jangan belagak bodoh deh kamu, aku tau semuanya. Diam-diam kamu suka juga kan sama Edwin. Kamu sudah punya tunangan, jika dia tau maka tunangan mu akan sakit hati dan hubungan kalian akan berantakan. Selain itu adik mu lah yg akan jadi korban perasaan selanjutnya.


Apa kau lupa jika masih ada orang tua mu, pasti mereka akan lebih malu lagi jika sampai pernikahan mu kelak batal selain itu orang tua mu akan lebih malu dan sakit hati lagi jika tau kamu lebih memilih Edwin ketimbang Ilham. Apa hal sebesar itu tidak terpikir oleh mu. Kerena keegoisan mu akan banyak korban perasaan nantinya. Seharusnya kamu harus berpikir lebih dewasa lagi dan jangan turuti ego mu itu." Jelas Rayen panjang lebar untuk menyadarkan Lia dari keegoisannya.


"Diam kamu dan jangan pernah ikut campur lagi dengan urusan ku." Ketusnya sembari menarik tangannya kasar dari cengkeraman tangan Rayen. Lia berlari keluar tapi dia hanya mendapati Siska berdiri sendirian karena baru saja Edwin berpamitan pulang.


"Ada apa Kak?" Tanya Siska penasaran karena saat itu Kakaknya sedang menangis kecewa.

__ADS_1


Lia menatap Siska sinis dan ingin rasanya Ia mencekik adiknya saat itu.


"Semua karena kamu." Bentak Lia lalu pergi meninggalkan Siska.


Lia kembali masuk kamar dan mengacak kamarnya hingga berantakan.


Hatinya masih terasa sakit karena saat itu Ia tahu jika Edwin datang menemui Siska bukan dirinya. Apa lagi Rayen sudah mengagalkan usahanya.


"Sialan, semua karena mu. Seandainya kamu tidak datang kesini maka semua akan baik-baik saja. Semenjak kamu ada di sini semua berantakan, Ibu dan Ayah lebih perhatian sama kamu dan kamu juga sudah merebut Dia dari ku. Dasar kamu sialan." Ucapnya keras.


Siska yg mendengar suara kerasnya segera masuk ke dalam kamar Lia yg saat itu tidak terkunci. Meski suara Lia terdengar keras namun Sisak tidak bisa mendengar ucapan Lia dengan jelas. Betapa terperangahnya saat melihat kamar Lia sudah berantakan seperti kapal pecah.


"Kak, apa yg terjadi. Ada apa ini kok kakak marah kaya gini?" Tanya Siska yg saat itu mencoba mencari tau akar permasalahannya.


"Jangan masuk ke sana, kakak kamu sedang marah, biarkan dia sendiri di sana meluapkan amarahnya." Ucap Rayen.


"Marah, emang marah sama siapa kok sampai kaya gitu?" Tanya Siska yg masih penasaran.


"Mungkin marah sama pacarnya." Jawabnya Rayen berbohong. Siska lebih memilih percaya dengan omongan Rayen dari pada harus kena amukan Kakaknya. Masuk kamar dan diam mondar mandir memikirkan kakaknya.

__ADS_1


Untung saja saat itu Ayah dan Ibu tidak ada di rumah karena pergi ke acara pernikahan sahabatnya. Jadi mereka tidak tahu apa yg terjadi pada putrinya saat itu.


Rayen masuk kamar dan segera mendekap tubuh Lia yg saat itu tidak terkendali lagi.


Hanya ingin menenangkan hati Lia sebelum Siska dan Orang tuanya tau apa yg di lakukan Lia saat itu.


"Lepaskan aku." Lia berusaha memberontaknya namun dengan lebih kuat lagi Rayen mendekapnya.


"Tenangkan hati mu Lia, aku tau apa yg kamu rasakan tapi bukan kaya gini caranya. Ini hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Sekarang tenang dan berdamailah dengan hati mu jangan biarkan ego mu menguasai jiwa mu." Ucap Reyen saat itu.


Lia sedikit tenang meskipun tangisannya saat itu masih pecah tak tertahankan. Berhenti memberontak dan menjatuhkan tubuhnya di pelukan Rayen.


"Aku tidak tau kenapa perasaan ini terasa sakit." Ucapnya serak karena masih menangis.


"Kenapa kau masih perduli pada ku, kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja." ucapnya lagi.


"Lia, mati bukan pilihan terakhir kamu. Masih panjang masa depan mu, lihatlah Ibu dan Ayah mu yg sangat sayang sama kamu, kasihan Ilham yg sangat mencintai mu. Kamu boleh membenci Siska dan Edwin tapi jangan benci dirimu juga. Mereka sebenarnya sangat menyayangi mu tapi hati kamu sendirilah yg memilih jalan ini, sekarang berdamailah dengan hati mu, lawan ego mu demi orang tua mu." Tutur Rayen menenangkan hati Lia yg saat itu merasa putus asa.


Lia hanya diam dalam pelukan Rayen dengan air mata yg masih deras keluar bercucuran

__ADS_1


😭😭😭😭😭😭


Bersambung.....


__ADS_2