Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Musibah 1


__ADS_3

Setengah jam setelah kepergian Delisa Desi sudah siap-siap dengan tampilan yang sederhana namun tetap enak di lihat, Dika yang menunggu dari tadi di teras depan ketika melihat Istrinya yang sedikit berdandan membuatnya mengembangkan senyuman karena aura Istrinya saat ini sangat jelas terlihat cantik.


"Ada apa yah? Jelek ya?" tanya Desi kepada Suaminya sembari memperhatikan lagi penampilannya


"Tidak, justru sangat cantik. Bahkan ayah sangat rindu melihat Ibu seperti ini lagi" jawab Dika berdiri di dekat Istrinya


"Maaf ya yah, Ibu jarang dandan buat Ayah soalnya kadang capek sudah ngurus pekerjaan rumah jadi gak pernah sempat" kata Desi merasa bersalah tak melakukan ibadah sebagai istri yang harusnya selalu terlihat cantik di depan suami


"Gak apa-apa, yuk berangkat. Entar Delisa ngambek gara-gara Ibu telat" ujar Dika sembari merangkul pinggang Istrinya


Dika mulai menghidupan motornya dan Desi pun segera naik di jok belakang setelah memakai helm, motor pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah mereka dan menuju ke sekolahan Delisa.


Setengah perjalanan tiba-tiba motor yang mereka kendarai agak oleng, Dika segera menghentikan motornya dan melihat ke arah bawah ternyata ban belakang motor itu pecah pantas saja tidak nyaman ketika semakin di lajukan.


"Kenapa yah?" tanya Desi kepada Suaminya sembari turun dari motor


"Pecah ban bu, maaf ya. Gimana kalo Ibu cari tukang ojek saja biar bisa segera tiba di sekolahan Delisa" ujar Dika kemudian turun dari motornya dan menepikan motornya di pinggir jalan


"Gak akh, sama ayah saja. Ibu gak terbiasa boncengan dengan orang lain" jawab Desi yang sebenarnya tak ingin meninggalkan Suaminya sendirian


"Ya sudah kalo gitu, sepertinya di sana ada bengkel" kata Dika mengalah karena percuma berdebat dengan Istrinya takkan pernah mendapatkan jalan keluar


Dika segera mendorong motornya ke arah bengkel motor yang sepertinya lumayan jauh, Desi ikut andil mendorong motor milik Suaminya itu meski sebenarnya mulai sedikit lelah apalagi mereka sudah berjalan lumayan jauh namun belum ketemu dengan bengkel motor.


Beruntung Desi berdandan untuk ke acara perpisahan Delisa hanya memakai sendal pendek jika dirinya memakai high heels yang tinggi akan kesusahan sekarang saat mereka mendapat musibah ini tadi, Dika berhenti sejenak sembari menyeka keringat yang dari tadi bercucuran.


Dika kembali melanjutkan mendorong motornya hingga tiba di sebuah bengkel motor yang ternyata terletak di seberang jalan, Dika menoleh kiri kanan tak ada kendaraan yang lewat jadi melanjutkan mendorong motornya menyeberang jalan dan di ikuti oleh Desi.


Tiba di bengkel motor ternyata sangat ramai motor-motor yang di perbaiki jadi Dika dan Desi terpaksa harus menunggu, Dika dan Desi segera duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia disana.


"Bu tunggu disini, Ayah beli minum sebentar" ujar Dika beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ruko sebelah yang berjualan makanan ringan dan minuman

__ADS_1


Tak lama kemudian Dika datang dengan membawa botol air mineral dan beberapa cemilan, Dika kembali duduk di tempat awal pertama dirinya duduk sembari memberikan botol air mineral kepada Istrinya dan di terima oleh Desi.


Desi yang memang sangat kelelahan segera membuka tutup botol itu dan meminum air mineral itu hingga tinggal setengah, Desi puas rasa dahaga yang begitu kering tadi kini sudah lebih baik.


Cukup lama mereka menunggu motor mereka di perbaiki hingga akhirnya selesai, Dika segera membayar upah dan ganti ban dalam kepada pemilik bengkel motor itu.


Kini Dika sudah duduk di atas motor dan bersiap-siap melajukan kembali motornya sembari menunggu jalanan kiri kanan sepi karena ingin menyeberang jalan, Desi juga sudah duduk di jok belakang sembari berpegangan di pinggang Suaminya.


Dika mulai melajukan kembali motornya dengan kecepatan sedang ingin menyeberang jalan, namun belum sampai di seberang jalan tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri.


"Ayah....awas...." teriak Desi saat mobil itu semakin dekat dengan mereka


Dika tak bisa mengelak lagi, motor Dika bersamaan dengan dirinya terseret jauh oleh mobil itu sedangkan Desi sudah terpelanting jauh helm yang ada dikepalanya terlepas karena tak sempat dikaitakannya tadi dan kini kepalanya menghantam pembatas jalanan.


Orang-orang yang ada di bengkel motor berteriak histeris menyaksikan kejadian yang memang sangat sering terjadi di depan bengkel motor itu, namun sepertinya ini kecelakaan yang lebih tragis dari tahun-tahun sebelumnya.


.


.


Delisa sangat gelisah bahkan perasaannya saat ini benar-benar tak enak entah mengapa dirinya dari tadi tak nyaman, rangkai-rangkai acara sudah berjalan bahkan tinggal 4 acara lagi dan tentunya sebentar lagi Delisa akan tampil namun dirinya juga khawatir karena sampai saat ini Ibunya belum muncul.


"Del, Lho kenapa?" tanya Wulan dari tadi memperhatikan Delisa terus menerus menoleh ke arah pintu masuk


"Nyokap Gue sampe sekarang belum datang" jelas Delisa yang masih menoleh ke arah pintu masuk


"Mungkin masih di jalan terkena macet, secara kota A yang sangat terkenal akan kemacetannya" jawab Wulan memberikan Delisa pengertian


"Gak mungkin lan, ini hari sabtu dan Nyokap Gue naik motor diantar Bokap Gue" kata Delisa tak percaya dengan perkataan Wulan barusan


Drrt...drrt...drrt

__ADS_1


Delisa merasakan getaran hp dari dalam tas yang ada dipangkuannya, Delisa segera mengambil hp itu dan melihat siapa yang menghubunginya namun saat layarnya menyala nomor baru yang meneleponnya tentu dirinya tak kenal.


Delisa pun memilih cuek karena takut orang iseng yang meneleponnya, namun saat hendak memasukan hpnya nomor baru itu kembali menghubunginya.


"Kenapa gak diangkat?" tanya Wulan melihat Delisa hanya diam saja tak merespon nomor baru yang berkali-kali meneleponnya


"Akhh paling orang iseng" jawab Delisa segera memasukkan hpnya ke dalam tas


"Kalo aja penting, kita kan gak pernah tau" kata Wulan mengingatkan Delisa


"Kalo nomor baru itu nelepon lagi, akan Gue angkat" kata Delisa dan benar saja hpnya bergetar lagi


Delisa pun terpaksa mengambil lagi hpnya yang ada di dalam tas meski sebenarnya males, dan lagi-lagi nomor baru itu yang menghubunginya mau tak mau dirinya menerima karena sudah janji tadi.


Delisa pamit dengan Wulan ingin ke luar sebentar menerima telepon dari nomor baru itu, namun Wulan ingin ikut jadi Delisa tak bisa menolak hanya bisa menganggukkan kepalanya yang tandanya memperbolehkan.


"Hallo, siapa ya?" kata Delisa langsung to the poin


"Hallo, apa benar ini dengan saudari Delisa?" tanya seseorang di seberang sana


"Iya benar, ini dengan siapa?" tanya Delisa


"Saudari Delisa kita dari pihak kepolisian, ingin menyampaikan berita bahwa kedua orang tua saudari baru saja mengalami kecelakaan dan sudah di larikan ke rumah sakit xxxxx" jelas pihak kepolisian di seberang sana


"Apa..." kata Delisa langsung terduduk kedua kakinya seperti kehilangan otot-otot sehingga membuatnya tak bisa berdiri, kemudian Delisa langsung menangis


"Del, ada apa?" tanya Wulan namun tak dapat jawaban dari Delisa


Wulan segera mengambil alih hp yang tergeletak di lantai, dirinya pun menempelkan hp itu ditelinganya dan bertanya dengan seseorang di seberang sana.


Wulan langsung membungkam mulutnya tak percaya apa yang didengarnya barusan, setelah telepon berakhir Wulan menghampiri Delisa dan memeluk Delisa yang saat ini masih menangis.

__ADS_1


__ADS_2