
"Ma Pa, sepertinya Bella mulai hari ini ingin bekerja. Bella tidak mau kalah saing dengan Delisa yang sudah menjadi wanita karir" kata Bella di sela-sela mereka menikmati sarapan pagi
"Kamu serius mau bekerja?" tanya Rani dan Bagas hampir bersamaan
Bella mengangguk tanda perkataannya barusan adalah benar, Bella ingin memulai karirnya apalagi setelah dirinya tau Delisa kini bekerja sebagai desainer tentu Bella tak mau kalah.
Bella tak ingin karena dirinya terlalu lama menganggur di rumah membuat Nathan lebih memilih wanita karir seperti Delisa, Bella pasti bisa seperti Delisa menjadi wanita karir apalagi Bella juga lulus dengan nilai terbaik dan di universitas terbagus di kota A ini.
Hari ini juga Bella akan memasukan surat lamaran di sebuah rumah sakit terbesar di kota A ini, Bella adalah dokter umum hanya saja satu tahun lulus kuliah Bella belum pernah bekerja sama sekali meski banyak rumah sakit sudah menawarinya bekerja.
Hanya Bella memang belum minat bekerja selama satu tahun ini kemarin, di tambah dirinya memang ingin reflesing dari kegiatan rumah sakit yang berurusan dengan pasien dan obat-obatan.
Apalagi kuliah selama 4 tahun baginya lumayan lama bergelut dengan hal seperti itu, namun kali ini pikiran Bella sudah mulai terbuka setelah melihat kesuksesan Delisa di depan mata meski sepenuhnya Bella belum tau.
"Iya sudah, semoga kamu secepatnya dapat pekerjaan" jawab Rani yang sangat senang mendengar keinginan Anaknya saat ini
"Papa berangkat dulu" kata Bagas beranjak dari tempat duduknya setelah sarapannya habis.
"Hati-hati di jalan Pa" ujar Bella sembari mencium punggung tangan Papanya
Rani mengantar Suaminya sampai masuk ke dalam mobil sembari membantu membawakan tas kerja Suaminya, saat Suaminya sudah masuk ke dalam mobil dan mobil sudah keluar pagar Rani baru masuk rumah lagi.
Rani meminta Bik Surtik membereskan meja makan, hari ini Rani ingin ke rumah Nathalie dan dirinya ingin mengambil hati Nathalie agar Nathalie tak merestui Nathan yang ingin menikahi Delisa karena Rani tak ingin Anaknya tersisikan.
Apalagi Bella sudah lama menginginkan menjadi kekasih ataupun Istri Nathan, jadi Rani tak mau perjuangan Bella selama ini sia-sia gara-gara kembalinya Delisa di kota A ini lagi.
__ADS_1
Rani ke kamar tidurnya ingin segera siap-siap setelah dapat balasan dari Nathalie yang membolehkan dirinya main ke rumah Nathalie, sedangkan di kamar lain Bella juga sudah siap-siap dengan penampilannya sekarang untuk melamar pekerjaan di rumah sakit terbesar di kota A ini.
Beruntung semalam Bella sudah menyiapkan surat lamaran dan berbagai berkas yang kemungkinan akan diperlukannya, Bella keluar dari kamar tidurnya dan mengetuk kamar Mamanya izin ingin segera berangkat ke rumah sakit tempat dirinya ingin melamar pekerjaan.
"Hati-hati bawa mobil, semoga langsung di terima ya oleh direktur rumah sakit" kata Rani mendoakan Anakanya
"Iya Ma, Bella berangkat dulu. Dahh" kata Bella mencium punggung tangan Mamanya kemudian melambaikan tangan dan melangkahkan kaki ingin turun ke lantai bawah
Kini Bella sudah masuk ke dalam mobil avanza yang sebenarnya itu mobil Ayahnya, sedangkan Ayahnya pergi bekerja membawa mobil pajero sport milik Mamanya dan jika Mamanya mau pergi Mamanya di antar oleh supir pribadi mereka yang mengunakan mobil alphard mereka.
Hanya memakan waktu 30 menit Bella sudah tiba di rumah sakit, Bella juga sekarang sudah berada di dalam ruangan direktur rumah sakit yang saat ini sedang memeriksa surat lamarannnya.
"Hemm, baiklah Anda kita terima disini. Selamat bekerja sama Dokter Bella" kata Direktur rumah sakit itu sembari bersalaman dengan Bella memberi selamat
"Wah serius Pak direktur Saya di terima, terima kasih. Saya akan berusaha semampu Saya menjadi Dokter disini" kata Bella begitu bahagia karena dirinya di terima di rumah sakit terbesar dan terkenal di kota A.
.
.
Ditempat lain
Keesokkan harinya Delisa kembali sibuk dengan dunianya yang bergelut bersama kertas dan pensil di ruang kerjanya yang ada di lantai atas, Delisa memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mengurung diri di ruang kerjanya ketimbang berkunjung ke butiknya.
Apalagi di butiknya sudah ada orang kepercayaannya untuk mengontrol setiap hari pekerjaan para karyawannya, Delisa berkunjung ke butiknya lebih sering akhir bulan selain memberikan gaji kepada para karyawan akan di adakannya meeting untuk meminta masukan dengan para karyawan jika penata butik di ubah atau segala sesuatu.
__ADS_1
Sedangkan Dika semenjak sudah berjalan lebih banyak melakukan kegiatan sehat yaitu setiap pagi jogging, kadang juga berkebun hingga taman belakang rumah mereka penuh dengan tanaman bunga berbagai macam karena Dika begitu rajin menanam dan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh sembarangan.
Dika melakukan semua ini ingin menikmati hidupnya di masa tua sekarang yang tak tau sampai kapan, hanya dirinya selalu berdoa kepada Tuhan jika ingin mengambil nyawanya setelah dirinya menikahkan Anak gadisnya dengan laki-laki yang bertanggung jawab.
Delisa yang terasa lelah beristirahat sejenak dari pekerjaannya, Delisa memilih turun ke lantai bawah ingin menikmati secangkir kopi latte sembari melihat taman belakang yang di urus Ayahnya yang pasti bunga-bunga di taman saat ini banyak yang sudah tumbuh.
"Buk Ina, tolong bikini kopi latte satu dengan kopi hitam satu ya. Entar bawa ke taman belakang" ujar Delisa saat melewati dapur dan bertemu dengan Buk Ina
"Baik Non" jawab Buk Ina sembari menganggukkan kepala
Delisa duduk di kursi yang ada di taman belakang, dirinya memperhatikan Ayahnya yang sedang memberi makan ikan koi di kolam yang tak jauh dari tempat duduknya saat ini.
Delisa menyunggingkan senyuman melihat wajah Ayahnya kini lebih banyak tersenyum dari pada dulu waktu masih duduk di kursi roda, Delisa benar-benar bersyukur dengan dirinya sukses sekarang dirinya bisa memberi pengobatan kepada Ayahnya hingga Ayahnya bisa berjalan kembali.
Namun sayang hingga detik ini Delisa belum bisa menemukan siapa yang menabrak Kedua orang tuanya 10 tahun yang lalu, meski polisi sudah di minta memcari informasi namun seperti sulit selain sudah lama tak ada yang melihat nomor plat mobil yang menabrak Kedua orang tuanya.
"Ayah, kopi" kata Delisa memanggil Ayahnya
"Delisa, ahh iya. Ayah akan kesitu" jawab Dika yang terkejut ada Anaknya duduk di kursi taman entah sudah berapa lama sehingga kopi yang ada di atas meja sudah tidak mengeluarkan kepulan asap.
Delisa dan Ayahnya duduk santai sembari menikmati secangkir kopi minuman favorit mereka masing-masing, Delisa lebih suka kopi latte sedangkan Ayahnya suka kopi hitam dari dulu dan beruntungnya kopi buatan Buk Ina hampir sama dengan buatan almarhumah Ibunya.
Tak berapa lama Buk Ina membawa nampan yang berisi cemilan buatan tangan Buk Ina sendiri, lagi-lagi Delisa dan Ayahnya menikmati cemilan itu bagi Delisa tak di ragukan lagi semua makanan yang di buat oleh tangan Buk Ina apalagi Buk Ina pernah bekerja di sebuah restoran ketika masih remaja dulu.
"Kamu gak ke butik hari ini?" tanya Dika kepada Anaknya yang sibuk mengunyah cemilan
__ADS_1
Delisa hanya menjawab dengan gelengan kepala karena mulutnya penuh dengan makanan sampai mulut Delisa monyong-monyong, Dika tersenyum melihat tingkah Anaknya yang sudah berusia 24 tahun tapi masih bertingkah seperti usia 17 tahun.