
Setelah mendapatkan kertas soal dan kertas jawaban masing-masing, semua murid mulai sibuk mengisi nama mereka dan nomor ujian beserta yang lain di kertas jawaban.
Ruang kembali hening para murid di setiap ruangan begitu fokus dengan kertas soal, tak menyangka hari ini terakhir ujian yang artinya terakhir mereka di sekolah karena besok sudah mulai libur.
Delisa tersenyum membaca setiap soal, setiap apa yang dipelajarinya masuk semua meski ada beda-beda dikit tapi dirinya tetap bisa memecahkan soal tersebut.
Bella juga senang membaca setiap soal karena sangat gampang baginya, namun saat ini dirinya begitu grogi karena hari terakhir ujian yang tentunya sebentar lagi pengumuman kelulusan dua minggu setelah libur sekolah nanti.
Semua murid pasti penasaran siapa yang akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke SMA unggulan yang ada di kota A ini, Bella bukan berharap mendapat beasiswa tapi berharap nilainya lebih tinggi dari semua murid termasuk dari Delisa.
Tapi tetap saja jika nilainya paling tinggi pasti akan mendapatkan beasiswa namun yang dipikirannya agar Papanya bisa menempati janji yang ingin mengajak Bella jalan-jalan ke luar kota yaitu Paris, namun Bella tetap tak ingin meremehkan seorang Delisa.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa para murid yang sedang ujian tersebut sudah menghabiskan waktu dua jam lebih, para guru dan para pengawas di setiap ruangan sudah memperingati para murid bahwa waktu tinggal berapa menit lagi.
Delisa dan Bella berbarengan beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing, Bella tentu merasa tidak suka dengan apa yang terjadi barusan dan dirinya memilih kembali duduk.
Sedangkan Delisa tetap melanjutkan langkahnya, kemudian memberikan kertas soal beserta kertas jawabannya kepada guru dan pengawas lalu setelah itu dirinya langsung keluar dari ruang ujiannya.
"Lihat saja nanti pasti Lho gak bisa mendapatkan beasiswa itu" kata Bella yang tiba-tiba sudah berada di dekat Delisa
"Iya lihat saja nanti, jangan banyak mengkhayal entar kalo gak ke sampaian malah nangis" jawab Delisa kemudian berlalu dari hadapan Bella
"Ck.. Sombong sekali, semoga aja nilai Lho di bawa Gue biar Lho gak bisa sekolah di SMA unggulan" kata Bella berdecak kesal
Kini Delisa duduk di kursi yang ada di depan ruang ujian nomor dua, dirinya menunggu sahabatnya Wulan yang belum juga keluar padahal sekarang sudah banyak murid lain yang keluar dari ruang ujian masing-masing.
"Del.." panggil Wulan sembari duduk di samping Delisa
__ADS_1
"Ke kantin yuk, Gue laper. Apalagi sebentar lagi kita kumpul di lapangan, entar pingsan lagi enak-enak denger pengumuman" kata Delisa sembari beranjak menarik tangan Wulan
"Iya-iya tapi gak usah di tarik-tarik juga kali tangan Gue" kata Wulan sembari mengerucutkan bibirnya
"Ehh sorry, sorry. Gue lupa, soalnya lagi bawaan kesel" kata Delisa sembari melepaskan tangan Wulan yang ditariknya dengan paksa barusan
"Gak apa-apa, ayo lanjut mau ke kantin kan" kata Wulan sembari merangkul Delisa
Tiba di kantin moodnya Delisa bukannya kembali baik malah kebalikannya tambah tidak baik saat melihat Bella the gengs masuk ke kantin, Delisa hanya menatap Bella dengan tatapan tak suka apalagi gaya Bella yang selangit itu seperti merasa paling kaya sendiri di sekolah ini.
Delisa dan Wulan segera menghabiskan soto yang mereka pesan tadi, Delisa malas harus terus menerus ribut dengan Bella bukan karena takut tapi sering kali dirinya di peringati oleh Ayahnya.
"Mau Bella sejahat bagaimana pun, dia tetap saudara sepupumu satu-satunya di dunia ini. Jadi gak usah terlalu di landeni nanti malah makin panjang entar urusannya, bukankah sesama saudara itu harus saling menyayangi"
Itulah perkataan yang selalu di ucapkan Ayahnya setiap kali dirinya mengeluh tentang Bella yang suka mencari masalah dengan dirinya, Delisa bahkan heran dengan Ayahnya sudah di jahati bagaimana pun dengan Tantenya tapi Ayahnya tetap gak mau membalas setiap perbuatan yang di lakukan oleh Tantenya.
"Ihh baru juga makan separoh eh udah di suruh kumpul aja" kata Bella mengerutu
"Iya-iya udah tau kita baru makan" jawab Sintya yang tetap melanjutkan makannya
"Ya udah, ayo kita ke lapangan. Lihat semua murid sudah berlarian untuk berkumpul" kata Jesica menghentikan makannya dan beranjak
"Ihh bentar napa, Gue kan masih laper" kata Sintya yang masih terus berusaha menghabiskan makanan
"Ayo buruan entar kita kena marah lagi" kata Bella menarik tangan Sintya namun terlepas
Sintya buru-buru meminum es jeruknya, lalu mengejar Bella dan Jesica yang sudah berjalan lebih duluan dalam keadaan ngos-ngosan akhirnya Sintya tiba di dekat kedua temannya itu.
__ADS_1
Seluruh murid kelas IX sudah berkumpul di lapangan menurut barisan kelas masing-masing, Kepala sekolah segera menyampaikan tujuannya mengumpulkan seluruh murid tersebut di lapangan ini.
"Mulai besok kalian libur, terus dua minggu lagi kalian kesini untuk mengambil surat kelulusan. Setelah berapa harinya kita akan mengadakan acara perpisahan seperti alumni-alumni sebelumnya. PAHAM" jelas Kepala sekolah kepada para murid
"Paham Pak" jawab Seluruh murid serentak
"Iya baiklah terima kasih, setelah ini silahkan pulang ke rumah masing-masing ya. Jangan ada yang berkeliaran apalagi kalian sebentar lagi akan masuk SMA rugi jika terjadi apa-apa dengan kalian" kata Kepala sekolah menasehati seluruh anak didiknya itu.
Seluruh murid pun bubar dari lapangan tersebut dan segera berhamburan keluar sekolah, saat ini di luar pagar sekolah sangat banyak para murid yang masih menunggu jemputan mereka masing-masing.
Ada sebagian sudah pulang naik bus, Delisa dan Wulan juga sama-sama menunggu jemputan mereka berdua masih duduk di gazebo sembari bercanda gurau.
Bella yang kebetulan belum pulang melihat Delisa dan Wulan yang duduk di gazebo, Bella pun segera menghampiri Delisa dan Wulan namun tiba-tiba Bella menyiram wajah Delisa dengan minuman kaleng yang dipegangnya tadi.
"Bella apa-apa sih" kata Wulan marah dengan perbuataan Bella barusan
"Gak usah ikut campur, Gue gak punya urusan sama Lho" kata Bella sembari menunjuk Wulan
Delisa sibuk merapikan rambutnya yang basah, ingin sekali Delisa menampar wajah mulus milik Bella itu namun dirinya tetap berusaha menahan emosi karena masih berada di lingkungan sekolah meski di luar pagar sekolah.
"Terus urusan Lho sama Delisa itu apa? Perasaan Gue semenjak kelas 3 sekarang akhlak dan attitude Lho itu udah gak ada ya" jawab Wulan yang masih emosi dengan Bella
"Udah Lan, gak usah di landeni. Orang yang berpikir gak pake otak itu sampai kapan pun takkan mau mengalah" kata Delisa yang menahan Wulan
"Apa maksud Lho?" tanya Bella sembari berkacak pinggang
"Pikir sendiri" jawab Delisa kemudian menarik tangan Wulan untuk pergi dari hadapan Bella
__ADS_1
Delisa yang sudah sedikit paham dengan sifat Bella, jadi tak pernah melawan Bella dengan emosi atau pun kekerasan melain dirinya memilih melawan dengan omongan yang membuat Bella mendapat jawaban menohok dan tentu membuat Bella semakin kesal.