Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Bertemu Bu Wanda


__ADS_3

Pagi ini Delisa bersiap-siap akan pergi ke butiknya karena ini akhir bulan sudah dijadikannya kebiasaannya sekalian membagikan gaji para karyawannya, Delisa segera turun ke lantai bawah dan melangkahkan kaki ke arah ruang makan.


Ayahnya sudah duduk di kursi makan sembari membaca koran berita pagi ini dan sesekali menyeruput kopi hitam, sedangkan Buk Ina masih sibuk menyiapkan sarapan pagi dan Pak Dadang entah kemana belum ada di ruang makan saat ini.


Delisa segera duduk di salah satu kursi berdekatan dengan Ayahnya, Buk Ina sudah selesai menyiapkan sarapan dan hendak memanggil Pak Dadang yang sepertinya ada di depan rumah.


Delisa dan Ayahnya mulai menyantap makanan yang sudah terhidang di atas piring mereka masing-masing, tak lama kemudian Buk Ina dan Pak Dadang datang bersamaan dari arah depan lalu mereka pun ikut duduk dan ikut sarapan.


Selesai sarapan Delisa pamit dengan semua yang ada di kursi makan, Delisa beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah pintu utama menuju garasi dimana mobil kesayangannya terparkir.


Delisa segera masuk ke dalam mobil ferrarinya dan mulai keluar dari garasi, mobil ferrari yang Delisa kemudi melaju meninggalkan kediamannya setelah pintu pagar di bukakan oleh satpam.


Mobil ferrarinya telah meluncur di jalan raya bergabung dengan kendaraan lain, Delisa begitu santai membawa mobil kesayangannya apalagi kecepatan mobil ferrarinya ini melebihi mobil biasa makanya dirinya tak pernah membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Hingga akhirnya Delisa tiba di depan butiknya yang kelihatannya hari ini sangat ramai terlihat dari parkiran yang berjejeran mobil-mobil berbagai jenis terparkir, mobil ferrari Delisa terpaksa di parkir agak jauh dari pintu masuk karena parkiran sudah penuh dengan mobil lain.


Delisa keluar dari mobil ferrarinya dan hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam butik, baru saja berapa langkah Delisa tak sengaja bertabrakkan dengan orang hingga Delisa meminta maaf karena tak begitu melihat jalan di depan.


"Kamu Delisa kan?" tanya Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat awet muda


Delisa memandangi wanita paruh baya dihadapannya dengan begitu lekat, Delisa merasa pernah bertemu namun dimana dirinya sudah lupa tapi wajah itu tak asing bagi Delisa.


"Ini Bu Wanda Del" jelas Bu Wanda mantan guru Delisa di SMA Tunas Bangsa


"Ahh, iya Bu Wanda" kata Delisa baru ingat kalo wanita paruh baya dihadapannya salah satu gurunya

__ADS_1


Delisa segera mencium punggung tangan Bu Wanda, sedangkan Bu Wanda langsung memeluk Delisa karena Bu Wanda merasa begitu bersalah dengan Delisa dan kembali teringat kejadian 8 tahun yang lalu yang mana Delisa ternyata tidak bersalah setelah mengetahui kebenaran.


"Bu Wanda kok nangis?" tanya Delisa ketika pelukan itu terlepas dan Bu Wanda menyeka air mata yang sudah jatuh berapa kali.


Delisa mengajak Bu Wanda masuk ke dalam butik dan ke ruangannya agar bisa leluasa bertanya kabar dengan Bu Wanda, Bu Wanda hanya mengikuti saja kemana Delisa membawanya.


Saat masuk ke dalam butik para karyawan Delisa menyapa sembari memberi hormat kepada bos mereka, Bu Wanda tercengang mengetahui bahwa butik terbesar di kota A ini ternyata milik muridnya yang putus sekolah dulu.


"Silahkan duduk Bu Wanda" ujar Delisa setelah mereka tiba di dalam ruang Delisa yang khusus untuk menerima tamu penting


Bu Wanda menuruti perintah Delisa duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sembari mata Bu Wanda melihat sekeliling ruangan yang bersih dan tertata rapi itu, Delisa ikut duduk di samping Bu Wanda setelah menelepon salah satu karyawannya meminta belikan minuman serta cemilan.


Tok..tok...tok


Terdengar ketukkan pintu dari luar yang Delisa yakini itu karyawannya yang di minta tolingnya tadi.


Dan benar saja karyawan Delisa membawa dua minuman yang di belikan di ruko sebelah serta beberapa cemilan.


"Terima kasih ya" ucap Delisa kepada karyawannya setelah semua pesanan Delisa tertata rapi di atas meja


"Iya Bu, saya permisi" jawab Karyawan Delisa dan keluar dari ruangan bosnya itu


"Ayo Bu Wanda di minum dan di makan hidangannya, sebelumnya apa kabar Bu?" kata Delisa kepada Bu Wanda


"Alhamdulilah Ibu sehat, Ibu bahagia melihat kamu bisa sukses tanpa menempuh pendidikan sekolah" kata Bu Wanda kembali meneteskan air mata

__ADS_1


"Ibu jangan nangis donk, entar Delisa ikut nangis" ujar Delisa sembari menyeka air mata Bu Wanda


"Ibu minta maaf Del, coba Ibu dulu cari kebenaran masalah mu dulu. Ibu benar-benar tidak tau kalo ternyata Bella itu begitu licik membolak balikkan fakta" jelas Bu Wanda sembari mengengam tangan Delisa


"Sudahlah Bu, udah lama juga. Ayo kita makan aja" kata Delisa yang sudah berdamai dengan masa lalunya toh dirinya tetap bisa sukses tanpa pendidikan karena semua sudah takdir Tuhan jadi tak perlu di sesali


Setiap masalah pasti ada hikmahnya, Delisa justru bersyukur dengan masalah yang dulu pernah dihadapinya kalo tak ada masalah itu tidak mungkin dirinya bertemu dengan Oma Widia yang begitu berjasa dalam hidup Delisa.


Delisa dan Bu Wanda menikmati makanan dan minuman yang ada di atas meja, sembari sesekali mereka bercerita perjuagan Bu Wanda menjadi guru dan perjuangan Delisa bisa memiliki butik tersebut.


Delisa juga memberi tahu Bu Wanda bahwa dirinya sudah bertunangan dengan Nathan, dan Delisa bertanya tentang masa sekolah Nathan dulu yang ternyata Nathan semakin rajin belajar hingga mendapat nilai tinggi dan peringkat meski masih di bawah Wulan.


Cukup lama berbincang Bu Wanda pamit pulang dengan Delisa tak enak meninggalkan Suaminya terlalu lama, Delisa mengantar Bu Wanda sampai ke depan namun sebelum Bu Wanda pulang Delisa menawari Bu Wanda untuk mengambil dua pakaian dibutiknya.


Awalnya Bu Wanda menolak namun setelah terus menerus di paksa Delisa akhirnya mau tak mau Bu Wanda menerima, dan ternyata Bu Wanda mengambil baju couple batik dan kata Bu Wanda baju couple itu akan dipakainya ketika pesta pernikahan Delisa dan Nathan nanti.


Delisa hanya tersenyum menanggapi perkataan Bu Wanda tersebut, setelah di bungkus Delisa kembali mengantar Bu Wanda sampai ke parkiran dan sampai Bu Wanda masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Bu Wanda melajukan mobilnya dan mobilnya berbaur di jalan raya bersama mobil lain, Delisa segera masuk sembari tersenyum mendengar cerita Bu Wanda kalo Suaminya sudah mengambil pesiun karena usia sudah tua dan Bu Wanda bukan guru BK lagi melain guru biasa yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.


Itu semua di lakukan Bu Wanda agar bisa selalu menemani Suaminya yang hanya berada di rumah saja, karena guru biasa tak harus setiap hari datang ke sekolah melainkan jika ada mata pelajarannya saja.


Delisa bersyukur dirinya memiliki usaha sendiri yang tentunya jika Suaminya nanti butuh dirinya, dirinya selalu ada di setiap waktu apalagi usahanya sekarang juga sudah ada orang kepercayaannya yang mengurus dan dirinya hanya datang sesekali saja.


Delisa segera melanjutkan pekerjaannya mengontrol para karyawanya dan melihat penatahan pakaian-pakaian yang tergantung sesuai tidak dengan ajarannya selama ini, Delisa berkeliling memperhatikan semua yang ada disana dan sesekali menyapa para pembeli yang memilih pakaian dan mengantri di kasir.

__ADS_1


Kini Delisa memilih untuk duduk santai di samping kasir sembari membalas pesan whatsapp dari Nathan yang sudah berapa belas pesan baru yang belum dibukanya sama sekali, Delisa hanya tersenyum melihat semua isi pesan whatsapp yang di kirim oleh Nathan.


__ADS_2