Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Istri Idaman


__ADS_3

Cukup lama mengobrol dengan Delisa akhirnya Nathan pun pamit dengan Delisa, Delisa mengantar Nathan sampai ke depan gerbang yang ternyata taksi online pesanan Nathan sudah tiba.


Delisa melambaikan tangannya saat Nathan hendak masuk ke dalam taksi online tersebut, setelah taksi online menghilang di belokan Delisa segera masuk ke dalam rumah sembari mengembangkan senyuman.


Entah mengapa Delisa begitu bahagia atas keseriusan Nathan tadi, padahal selama ini dirinya risih dan kesal jika berada di dekat Nathan namun tadi rasanya ada yang berbeda atau mungkin sebenarnya dirinya sudah lama menyukai Nathan hanya saja baru sadar sekarang.


Delisa segera menutup kembali pintu utama dan hendak ke ruang kerjanya yang sepertinya masih banyak desain baju yang belum di selesai dikerjakannya, Delisa segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga satu persatu.


"Hemm, yang lagi bahagia gak bagi-bagi" kata Dika yang berada di belakang Delisa


Delisa segera menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang, ternyata Ayahnya yang ada dibelakangnya dan Delisa mengerutkan dahinya tak mengerti maksud perkataan Ayahnya barusan.


"Maksud Ayah apa?" tanya Delisa yang memilih turun dan berbicara di hadapan Ayahnya


"Tadi Ayah mimpi ada yang lamaran" kata Dika yang memilih mengarang dari pada ketahuan kalo sebenarnya dirinya menguping


"Jangan bilang Ayah nguping" kata Delisa sembari memajukan wajahnya ke arah Ayahnya


Dika menyengir dan langsung berlari menuju kamar tidurnya, Delisa yang kalah cepat dengan Ayahnya hanya bisa menggerutuki Ayahnya dari depan kamar tidur Ayahnya.


Delisa jadi malu ternyata Ayahnya tadi menguping obrolannya dengan Nathan tadi, padahal Ayahnya baru kemarim bilang benci dan cinta itu beda tipis tau-tau hari ini dirinya ketahuan menerima cintanya Nathan.


Delisa segera berlari menaiki anak tangga benar-benar malu di buat Ayahnya, Delisa segera masuk ke dalam ruang kerjanya dan mulai fokus dengan lembaran kertas yang ada di atas meja kerjanya.

__ADS_1


Selesai mengerjakan semua desain pesanan orang-orang Delisa segera mengambil foto desainnya kemudian mengirimkan ke tiga desainernya yang ada di butik, agar mereka bertiga segera merancang gaun serta baju pesanan yang dikirimnya barusan.


Setelah itu Delisa ingin mendesain gaun pengantin untuk dirinya sendiri serta sebuah kebaya untuk akad nikah dan kebaya ketika acara lamaran nanti, namun sekarang Delisa ingin fokus dengan gaun pengantin yang selama ini didambakannya.


Gaun pengantin sama dengan kebaya ketika acara lamaran nanti warna soft warna favorit Delisa, sedangkan kebaya akad nikah nanti warna putih karena melambangkan kesucian yah begitu sebuah pernikahan.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11 siang, Delisa baru tersadar bahwa dirinya harus menyiapkan makan siang kali ini karena Buk Ina masih sakit jadi mau tak mau dirinya harus turun tangan untuk memesan di gofood tak mungkin apalagi Ayahnya tak suka makanan di luar lebih suka makanan rumahan.


Delisa segera merapikan kertas-kertas yang berserakan beserta alat tulisnya, kemudian Delisa keluar dari ruang kerjanya dan ingin ke lantai bawah serta ke dapur ingin mulai masak untuk makan siang ini.


Tiba di dapur Delisa mulai mengeluarkan beberapa bahan yang menurutnya simple di masak dan cepat di sajikan, apalagi waktu makan siang sudah begitu mepet kasihan juga dengan Buk Ina harus segera minum obat agar bisa cepat sembuh.


Cukup lama berkutik setengah jam telah berlalu masakan Delisa pun akhirnya matang, Delisa hanya memasak sup ayam beserta sambal balado yang menurutnya begitu serasi jika di padukan kedua lauk tersebut.


Tok...tok...tok


"Pak Dadang..." panggil Delisa setelah mengetuk daun pintu kamar tidur yang di tempati Pak Dadang dan Buk Ina


"Iya Non" jawab Pak Dadang saat pintu sudah dibukanya


"Ini Pak, suapin Buk Ina makan setelah itu jangan lupa suruh minum obat. Setelah menyuapin Buk Ina, Pak Dadang juga makan jangan sampai telat makan entar ikutan sakit lagi" kata Delisa sembari memberikan nampan yang berisi makanan


"Makasih Non, repot-repot banget. Bakal jadi istri idaman Tuan tadi" kata Pak Dadang sembari mengoda Delisa

__ADS_1


Delisa hanya membalas dengan senyuman kemudian membantu menutup pintu kamar Pak Dadang dan Buk Ina, Delisa melangkahkan kaki ke arah kamar utama dimana kamar yang Ayahnya tempati.


Setelah mengetuk dan mengajak Ayahnya makan siang di ruang makan Delisa segera kembali ke dapur ingin menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Ayahnya, Delisa menata sup ayam tersebut ke dalam mangkuk beling yang berukuran sedang dan tak lupa sambal balado yang sudah dalam piring tadi diletakkannya juga di atas meja.


Tak lama Ayahnya datang dan duduk di kursi, seperti biasa Delisa mengambilkan nasi dan lauk untuk Ayahnya ini sudah jadi kebiasaan Delisa semenjak Ibunya sudah tiada lagi di dunia ini.


"Siapa yang masak ini?" tanya Dika setelah memasukan satu suap makanan ke dalam mulutnya


"Delisa yah, kenapa gak enak ya?" kata Delisa yang begitu insicure kalo soal memasak


"Enak kok, udah pantas menikah. Bakal jadi istri idaman kalo makin pinter masak apalagi pinter cari uang juga" kata Dika memuji masakkan Anaknya yang memang lezat


"Gak Pak Dadang, gak Ayah. Bilang Delisa istri idaman, memangnya istri idaman itu harus pinter masak ya yah" kata Delisa yang masih menyiapkan makanan untuknya


"Iya istri idaman itu yang pinter masak, kayak Ibumu" jawab Dika kembali teringat mediang Istrinya yang pinter masak


Delisa menganggukkan kepala, sebelum dirinya sah menjadi seorang istri nanti dirinya bertekad akan belajar memasak lebih banyak jenis makanan agar Suaminya tidak mau makan di luar dan betah di rumah.


Setelah Buk Ina sembuh Delisa akan belajar masak bersama Buk Ina sekalian mengurangi pekerjaan Buk Ina yang lumayan banyak, selain masak Buk Ina juga harus bersih-bersih rumah meski pakaian Delisa dan Ayahnya dicucinya sendiri namun tetap saja yang nama mengerjakan rumah sebesar ini sendiri pasti sangat lelah.


Delisa dan Ayahnya kini terdiam menyantap dan menikmati makanan mereka, andai tadi Nathan belum mau pulang bisa saja Delisa mengajaknya untuk makan siang bersama sekalian mencicipi masakan Delisa.


Namun karena Nathan ada meeting penting jadi dirinya tadi buru-buru kembali ke perusahaannya, selesai makan Delisa segera membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekas makan mereka tadi.

__ADS_1


Sudah lama sekali Delisa tidak merasakan menyentuh pekerjaan rumah semenjak dirinya begitu fokus dengan karirnya, namun jika sudah berumah tangga nanti setidaknya untuk menyiapkan makanan harus dirinya tak boleh ART dan soal beres-beres mungkin masih perlu ART.


__ADS_2